RADARSEMARANG.ID, RATUSAN pelajar SMP dan SD se-Kota Semarang berkompetisi dalam perlombaan matematika di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Kamis (2/5).
Uniknya, lomba tersebut digelar layaknya berpetualang di out door dengan menerapkan aplikasi digital Math City Map
Dalam kompetisi itu, para siswa bebas mengeksplorasi objek di sekitar Taman Budaya Raden Saleh.
Baca Juga: Lestarikan Budaya, Puluhan Siswa Belajar Seni Kerajinan Rotan
Mereka dituntut untuk mengaplikasikan ilmu matematika yang diperoleh selama belajar di kelas. Mulai dari mengukur volume, luas, kemiringan dan sebagainya.
Ketua MGMP Matematika Kota Semarang Tri Mulyono Edi menjelaskan, lomba bertajuk Matemardiknas itu diikuti oleh 150 sekolah atau regu yang terdiri dari tiga siswa.
Uniknya, selain memperingati Hari Pendidikan Nasional jumlah peserta yang mencapai 477 juga untuk memeriahkan HUT ke-477 Kota Semarang.
"Ini merupakan ketiga kalinya setelah tahun-tahun sebelumnya digelar di Kota Lama dan Semarang Zoo," ujarnya.
Melalui lomba tersebut, pihaknya ingin mengampanyekan sekaligus mengekspresikan pembelajaran siswa khususnya aspek numerasi. Sebab selama ini hanya aspek literasi saja yang digembor-gemborkan.
Baca Juga: Dari Tempe Siswa Belajar Sains, Sosial, Matematika, hingga Kewirausahaan
Selain siswa belajar teori matematika di dalam kelas mereka juga dapat mengeksplorasi bentuk bangunan sama halnya bangun ruang di matematika di lingkungan sekitar.
"Ini sejalan dengan profil pelajar Pancasila yakni membentuk karakter siswa dan Soleh," jelas pria yang akrab disapa Edi itu.
Dalam praktiknya di lapangan siswa akan menggunakan aplikasi Math City Map. Pengembang aplikasi tersebut berada di Jerman.
Di Kota Semarang juga telah dilakukan riset oleh Universitas Negeri Semarang (UNNES). Lomba tersebut merupakan kegiatan berbasis aplikasi yang ada di Indonesia bahkan dunia.
"Di aplikasi itu sudah ditentukan spot-spotnya. Satu trial ada lima soal. Kebanyakan kita mengambil kategori bilangan geometri, lalu statistik, dan aljabar," papar Edi.
Disamping belajar dan berpetualang, lomba Matemardiknas juga salah satu cara untuk mewujudkan pembelajaran yang menantang namun menyenangkan.
Peserta diberikan waktu menyelesaikan semua trial dari pukul 08.00-11.45 WIB untuk menguji kecepatan dan ketepatan.
Mereka juga dipersilakan membawa kalkulator dan alat-alat yang berhubungan dengan matematika.
"Meski tak ada hubungannya dengan kompetisi berjenjang atau olimpiade, kami hanya fokus untuk mengasah numerasi siswa bahwa antara teori di bangku sekolah dan di lapangan itu berbeda," pungkasnya.
Salah satu siswa SD Negeri Kalibanteng 01 Firzana mengaku kesulitan saat mengerjakan setiap trial di aplikasi Math Cuty Map.
Padahal sudah berlatih sejak seminggu sebelumnya. Saat menghitung luas gedung ia berkali-kali salah menghitung lantaran hasilnya tak sesuai.
Meski begitu ia bersama dua kawannya menikmati keseruan belajar matematika sambil berpetualang.
"Memang matematika cukup susah, tadi mengukur rumah joglo, lingkaran, dan pot bunga," akunya.(mia)
Editor : Tasropi