Kegiatan ini juga bersamaan dengan peringatan Isra Miraj yang menjadi momentum untuk menguatkan nilai toleransi di lingkungan sekolah yang agama siswanya beragam.
Setiap guru pendamping turut memeriksa perbekalan siswa. Setidaknya harus ada sayur, buah, lauk, dan nutrisi lainnya.
Kepala SMP Negeri 11 Semarang Dwi Astuti menjelaskan, pembiasaan siswa pola hidup sehat terkemas dalam Simanis Inspirasi (siswa membawa alat makan minum sendiri ini isi piringku). Pembiasaan itu telah berjalan setiap hari dalam bekal yang dibawa oleh siswa.
"Sebenarnya itu sudah menjadi budaya anak-anak. Tinggal penguatan kembali bahwa membawa dari rumah lebih sehat dan mengurangi sampah plastik," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Menurutnya, pembiasaan tersebut selaras dengan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK).
Yakni sekolah yang mengimplementasikan pendidikan kependudukan pada program-program pendidikan.
Baik dalam program Intrakurikuler maupun Ekstrakurikuler. Dengan sasaran siswa, diharapkan tumbuh sense kependudukan sejak dini.
"Jadi kita terus berproses dan berprogres salah hal positif," tandasnya.
Sementara itu, Waka Bidang Kurikulum SMP Negeri 11 Kota Semarang Darus Irfangi menambahkan, sebanyak 756 siswa serentak makan bersama di halaman sekolah.
Dengan begitu, menjadi salah satu bentuk komitmen sekolah dalam menekankan kepada siswa tentang pentingnya menjaga toleransi dan kebersamaan layaknya keluarga.
Terlebih, SMP Negeri 11 Kota Semarang juga tengah mempertahankan branding sekolah Adiwiyata. Ia berharap nilai-nilai Adiwiyata benar-benar terinternalisasi dan membudaya bagi para siswa.
"Bukan hanya di sekolah tapi juga di rumah. Anak membiasakan makan sayur, peduli dengan sampah, daur ulang, dan peduli dengan meminimalkan pemakaian limbah plastik," pungkasnya.(mia/web)