RADARSEMARANG.ID, Dua peristiwa bunuh diri yang dilakukan mahasiswi dan terjadi dua hari berturut-turut di Kota Semarang (Selasa dan Rabu, 10-11 Oktober 2023), menjadi tanda tanya besar, apa penyebab mereka melakukan bunuh diri.
Sebuah hasil penelitian mengungkap, sejumlah factor pemicu kasus bunuh diri.
Antara lain, karena putus cinta, frustasi ekonomi, keluarga tidak harmonis serta permasalahan pendidikan.
Hasil penelitian berjudul Ide dan Upaya Mahasiswa Bunuh diri itu ditulis oleh tiga peneliti dan sudah diunggah di di jurnal Unnes (journal.unnes.ac.id) pada 2019.
Penulisnya: Azmul Fuady Idham (Fakultas Psikologi Airlangga) , M. Arief Sumantri (Member of Indonesian Association of Social Psychology), dan Puji Rahayu (Fakultas Psikologi Arlangga).
Dalam jurnal itu, mereka menyampaikan bahwa secara global, bunuh diri (suicide) telah menjadi penyebab kematian nomor dua di dunia.
Penelitian itu juga mengungkap bahwa pelaku bunuh diri kebanyakan pada rentang usia 15 hingga 29 tahun, di mana 79% dari bunuh diri terjadi pada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (WHO, 2018).
Menurut isi jurnal itu, Indonesia salah satu negara berkembang yang juga ikut terperosok dalam fenomena suicide.
Data yang terangkum dalam website hallosehat.com oleh Fenadania (2016) mencatat, jumlah kasus bunuh diri di tahun 2005 angka mencapai 30.000 kasus, tahun 2010 sebanyak 5000 kasus, tahun 2012 sebanyak 10.000 kasus, dan 2013 sebanyak 840 kasus.
Data-data tersebut, menurut jurnal ilmiah tersebut, di luar dari jumlah kasus bunuh diri yang tidak laporkan, karena beberapa alasan semisal rasa malu, untuk menjaga kehormatan dari pelaku bunuh diri.
Kasus bunuh diri di Indonesia sendiri lebih banyak dilakukan dengan cara gantung diri, overdosis, atau menggunakan insektisida.
Yang menarik, jurnal berjudul Ide dan Upaya Bunuh Diri Mahasiswa itu juga mengungkap bahwa laki-laki 4 kali lebih banyak melakukan bunuh diri dibanding perempuan.
"Sedangkan perempuan 4 kali lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri dibanding laki-laki. Beberapa pemicu kasus bunuh diri, antara lain, disebabkan oleh putus cinta, frustasi ekonomi, keluarga tidak harmonis serta permasalahan pendidikan,” tulis jurnal tersebut.
Ketiga peneliti itu, menggunakan tipe penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.
Pengambilan sampel memakai teknik accidental sampling. Responden terkumpul sebanyak 62 mahasiswa, berasal dari Fakultas Psikologi Universitas X di Kota Surabaya, dengan rentang usia 17 tahun ke atas.
Hasilnya penelitian menunjukkan sebanyak 36 mahasiswa (58,1%) dari total 62 partisipan memiliki tingkat kecenderungan ide (suicide ideation) dan upaya (suicide attempt) bunuh diri yang tinggi.
Hasil uji regresi menunjukkan bahwa usia terbukti memengaruhi ide dan upaya bunuh diri pada mahasiswa.
“Peningkatan literasi kesehatan mental merupakan salah satu jalan untuk melakukan pencegahan dalam hal pengetahuan, keyakinan dan pengelolaan kesehatan mental, terutama pada mahasiswa untuk mencegah ide bunuh diri,” tulis hasil penelitian itu.
Selain itu, pada tahap penyembuhan, masih menurut hasil penelitian tersebut, kampus diminta menyediakan fasilitas yang lengkap atau menerapkan konseling sebaya pada mahasiswa untuk mengatasi dan melakukan deteksi dini gangguan mental yang berisiko dalam percobaan bunuh diri.
Kemudian untuk peneliti selanjutnya agar menambahkan beberapa variabel demografis yang lebih beragam (misal: perbedaan keilmuan, suku, status ekonomi atau tingkat religiusitas) sebagai informasi tambahan dan sebagai dasar dalam melihat risiko ide bunuh diri dan percobaan bunuh diri pada berbagai tingkatan. (isk)
Editor : Tasropi