Kepala Dinpertan, Agus Herawan mengatakan, pengembangan burung hantu bisa mengurangi populasi tikus. Berkurangnya tikus otomatis membantu petani dalam mengatasi hama pertanian. “Pengembangan burung ini sudah lama sehingga cukup membantu Dinpertan dalam mengatasi hama,”ujarnya.
Pengembangan ternak burung hantu (Tyto Alba) merupakan langkah inovatif mengatasi hama tikus yang kerap mengganggu tanaman padi dan jagung di desa tersebut. Karena itu, Dinpertan mendukung sepenuhnya budidaya burung hantu itu. Meski begitu, perlakuan ternak burung pemakan hama pengerat atau tikus ini tidak seperti ternak hewan lainnya. Burung dikembangkan dengan model karantina. Burung dikarantina di tempat seluas 6x12 meterpersegi. Disebelah barat rumah Pujo. Itupun, yang dikarantina adalah burung hantu yang sedang sakit. Karena itu, burung yang dalam kondisi sehat tetap dilepas bebas dialam raya.
Pengembang burung hantu, Pujo Arto mengatakan, selama pandemik korona dua tahun lalu, kondisi Desa Tlogoweru sebagai desa wisata tidak seramai masa normal sebelumnya. Biasanya, dalam sebulan bisa ada 15 kali kunjungan. Namun, ketika pandemic datang, hanya sekitar 4 kali kunjungan. Karena itu, pasca pandemic seperti sekarang ini, kondisi mulai normal lagi. Mereka yang berkunjung dari berbagai daerah. “Biasanya pengunjung menginap dirumah warga yang dijadikan home stay,”ujar Pujo Arto, pria kelahiran Demak, 11 Desember 1967 ini saat ditemui dirumahnya.
Menurutnya, Desa Tlogoweru merupakan embrio untuk pengembangan burung hantu. Itu dilakukan sejak 2011. Dua tahun sejak ada pengembangan itu, hama tikus berangsur berkurang drastis. “Dulu, awal pengembangan hanya ada 28 ekor pasang burung hantu. Kemudian berkembang terus. Setahun setidaknya bisa seribu ekor burung hantu. Karena desa desa lain juga ikut mengembangkan,”ujar suami dari Sri Suhanah ini.
Setahun, sepasang burung hantu bisa beranakpinak dua kali. Sekali beranak bisa memproduksi 5 ekor anakan. Karena setahun dua kali musim beranak, maka bisa menghasilkan 10 ekor anak untuk sepasang burung dengan ciri khas bulatan dua mata besar, cengkeraman kuku tajam dan kuat ini.
Banyaknya burung hantu yang dikembangkan bisa mengurangi populasi tikus sebagai menu makanan favoritnya. Semalam, satu ekor burung hantu bisa memangsa 5 ekor tikus. Jika ada seribu ekor burung hantu, maka semalam bisa memangsa 500 ekor tikus dengan jangkauan terbang radius 12 kilometer. Jika induk tikus dimakan, maka tikus tidak sempat beranak pinak. Tikus sekali beranak bisa 6 sampai 12 ekor. Setahun tikus bisa bernaka sebanyak 6 kali.
“Selain pengembangan burung hantu, dulu awal awal hanya ada beberapa rumah burung hantu (Rubuha) yang didirikan di tengah sawah. Sekarang, di Desa Tlogoweru sudah ada 170 rubuha berdiri diareal sawah seluas 225 hektare,”kata Pujo. Sebelum ada ternak burung hantu, dulu produksi hasil pertanian terganggu. Petani nyaris tidak pernah panen raya lantaran tanaman padi, jagung dan lainnya selalu habis dimakan tikus.
Pujo menambahkan, pengembangan burung hantu di desa desa sudah menjadi program dari Dinas Pertanian Pangan. Pemerintah menyiapkan banyak rubuha untuk tempat singgah dan bernaka pinak disawah. “Sekarang hampir semua lahan pertanian di Demak ada rubuhanya,”kata dia. Model serupa juga dikembangkan di daerah lain di Jawa Tengah. Bahkan, di Aceh maupun Kolaka (Sulawesi Tenggara) juga ikut mengembangkan. Termasuk, di Pontianak, Pangkalan Bun (Kalimantan Barat), Medan (Sumatera Utara), maupun di Bali.
“Saya kerap diundang untuk mengisi pelatihan bagaimana mengembangkan burung hantu dilahan pertanian maupun diperkebunan sawit,”kata ayah dari Nugraheni Widyastuti, Riska Ramadani dan Diah Ayu ini. Undangan selaku praktisi pengembang burung hantu untuk berbagi ilmu juga pernah diterima dari dinegara lain. Seperti, Malaysia, Thaliland, Jepang, dan lainnya.
Terkait dengan dedikasinya itu, Pujo Arto pun mendapatkan beberapa penghargaan dari pemerintah. Sebagai penyuluh swadaya, ia pernah meraih penghargaan dari Pemprov Jateng pada 2014. Kemudian, Tim Tyto Alba yang turut berjibaku mengembangkan burung hantu juga dapat penghargaan Kalpataru Jateng pada 2015. Selain itu, penghargaan Desa Mandiri dari Kodam IV Diponegoro pada 2014. Selain itu, sejak jadi desa wisata, Desa Tlogoweru juga lebih bersih dan bebas dari buang air sembarangan. Ratusan rumah warga pun jadi penginapan.
Yang menjadi kendala pengembangan burung hantu, antara lain banyaknya tingkat kematian akibat gangguan dari manusia. “Sering ditembak. Ada juga yang terkena atau tersangkut benang layang layang pedot. Sebab, burung hantu kalau malam hari saat cari mangsa biasanya terbang rendah,”katanya. Untuk mengurangi kematian itu, pihak desa pun membuat aturan larangan menembak burung hantu.
“Kalau ada burung hantu mati, biasanya petani melaporkan ke kita. Kalau masih hidup tapi sakit, maka kita rawat sampai sembuh. Jika sudah sehat kita lepas lagi. Kalau luka ya kita olesi obat betadhine, obat lainnya serta makanan,”kata Pujo. (hib/web/bas) Editor : Agus AP