RADARSEMARANG.ID - Mau menikmati suasana kongkow bareng dengan suasana klasik dengan musik keroncong? Kedai Romo, di Kecamatan Gunungpati bisa menjadi pilihan menarik. Tempatnya asyik menawarkan konsep jadul dan dan artistik.
Tempatnya cukup menarik. Begitu memasuki kedai, suasana dekorasi khas zaman dulu sudah terlihat. Era keemasan keroncong sangat terasa.
Pengunjung serasa diajak ke rumah kakek dan nenek. Ada foto-foto jaman dulu. Lemari, lukisan, kaset pita lagu keroncong, peralatan keroncong dan sejarah keroncong dalam bentuk karikatur.
Suasana jadul sangat terasa. Bikin betah berlama-lama untuk nongkrong. Apalagi ditemani dengan nuansa musik keroncong. Membuat enggan untuk pulang. Kedanya juga sangat nyaman seperti di rumah sendiri.
Salah seorang pengunjung, Hatta, sangat menikmati kopi yang disajikan di Kedai Romo. Menurutnya, konsep Kedai Romo sangat bagus, karena dari perkopian sangat menarik.
"Suka suasananya. Ada musik keroncong yang mudah diterima di kala nugas, apalagi ada buku-buku yang bisa jadi bacaan," jelas mahasiswa Unnes itu.
Pengelola Kedai Romo, Danang Ardyanto, mengungkapkan Kedai Romo dulunya merupakan rumah pribadi milik orang tua dari Ibnu Amar Muchsin yang juga dosen seni di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Sempat dibuka kafe pada 2016, dan lalu rumah sempat kosong dan dijadikan gudang.
Kembali dibuka sebagai Kedai Romo mulai dibuka sejak pertengahan Bulan Ramadan tahun 2024 ini. "Kita persiapkan menata dan lain-lain, mas," katanya.
Danang menambahkan, memiliki kapasitas 40 pengunjung, selain dijadikan kedai tempat nongkrong, Kedai Romo juga dijadikan ruang arsip sejarah keroncong di Kota Semarang. Karena banyaknya koleksi tentang keroncong di Kota Semarang.
Seperti di kafe atau kedai lainnya yang menyajikan kopi kekinian. Kedai Romo juga terdapat menu signature atau menu khas.
Seperti Romantika yang terinspirasi Judul Lagu Keroncong. Menu ini merupakan teh spesial aromatik.
Selain itu, terdapat Moritsko atau kopi yang dicampur kola dan krimer. Menu makanan di kedai ini berupa makanan khas Jawa, yakni Sego Romo. Makanan ini merupakan nasi, orak-arik pedo, ikan asin, daun pepaya, bihun dan tempe.
Pemilik Kedai Romo, Ibnu Amar Muchsin, mengungkapkan Kedai Romo berasal dari Romo atau ayah.
"Sengaja mengusung konsep arsip Keroncong, bisa sambil ngopi dan makan bersama ala-ala Romo. Jadi nuansa jadul sangat terasa untuk bernostalgia dengan masa lalu,” tambahnya. (fgr/fth)
Editor : Baskoro Septiadi