RADARSEMARANG.ID. Desa Lerep, merupakan salah satu desa wisata unggulan destinasi wisata Jawa Tengah.
Desa wisata ini memiliki berbagai wisata menarik. Mulai wisata Edu-Ecotour, wisata alam, wisata budaya, hingga wisata kuliner ada di Desa Lerep.
Dengan memiliki delapan dusun menambah keberagaman desa tersebut. Dengan masing-masing dusun memiliki branding atau ciri khas masing-masing.
Banyak wisatawan yang datang ke tempat ini. Kunjungan wisatawan ke Jawa Tengah terus meningkat.
Mereka menghabiskan waktu bareng keluarga sambil menikmati pemandangan alam yang indah di lereng gunung Ungaran.
Desa Lerep sudah ditetapkan sebagai Desa Wisata di Kabupaten Semarang berdasarkan Surat Keputusan Bupati Semarang No 556/0431/2015 tahun 2015.
Setelah beberapa tahun berjalan, tahun 2017 pokdarwis mulai bisa merintis dengan menghadirkan paket-paket wisata untuk para pengunjung.
Di tahun tersebut juga Desa Wisata Lerep diikutkan lomba Desa Wisata Jawa Tengah mewakili Kabupaten Semarang.
Dengan prinsip guyub rukun akhirnya Deswita Lerep mendapatkan juara pertama.
Desa Wisata Lerep juga menjadi salah satu desa wisata yang terkenal. Mulai dari torehan beberapa prestasi yang didapat seperti lolos 300 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2021. Bahkan salah satu jujugan wisatawan karena merupakan wisata unggulan Jawa Tengah.
“Suasana alam begitu indah dan penuh dengan kearifan lokal,” ujar Ratna, salah satu pengunjung di Desa Wisata Lerep.
Ketua Pokdarwis Rukun Santoso, Daniel Bayu Anggara menyebutkan paket wisata yang ada di Deswita Lerep lebih kepada wisata edukasi.
Baik edukasi pemrosesan kegiatan UMKM maupun edukasi budaya.
Di Desa Lerep bisa dikatakan memiliki wisata yang cukup lengkap, mulai dari wisata alam hingga wisata budaya.
Dari delapan dusun yang ada, terdapat tiga dusun yang menjadi embrio lahirnya Deswita Lerep.
“Tiga dusun masing-masing juga punya potensi wisata yang melimpah. Jadi kami kombinasikan dan sinergikan agar menjadi satu,” katanya.
Tiga dusun tersebut yakni Dusun Indrokilo, Dusun Soko, dan Dusun Lerep. Di Dusun Indrokilo sendiri yang memiliki potensi wisata yang lebih melimpah.
Di samping terdapat Curug Indrokilo, juga terdapat potensi kopi yang melimpah serta kampung sapi perah.
Selain itu juga terdapat produk-produk yang dihasilkan oleh KWT (Kelompok Wanita Tani) seperti teh telang, selai buah naga, sambal buah naga dan yang cukup unik ialah teh daun kopi.
Keberadaan desa Lerep semakin menambah banyak pilihan wisata Jawa Tengah. Kunjungan wisatawan juga semakin meningkat.
Sedangkan Dusun Soko memiliki ciri khas dengan Kampung Iklimnya.
Di mana di kampung tersebut memiliki potensi untuk bagaimana mengelola dan memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai atau barang limbah.
Serta terdapat TPS3R dan bank sampah. Selain itu juga terdapat UMKM kerajinan dari barang bekas.
“Kalau di Dusun Lerep potensinya hanya pada UMKM seperti kreasi dari bambu dan area persawahan yang bisa dimanfaatkan untuk edukasi anak,” tambahnya.
Selain itu terdapat makanan dan oleh-oleh khas yang bisa dinikmati oleh para pengunjung dan bisa dibawa sebagai oleh-oleh.
Sangat beragam untuk oleh-oleh khas Lerep mulai dari makanan hingga kerajinan yang ada. Untuk makanan khas atau yang paling unik yakni Sego Iriban yang biasanya ada hanya setahun sekali.
Namun pihak pokdarwis menghadirkan kuliner tersebut agar bisa dinikmati pengunjung serta memperkenalkan juga.
“Untuk bungkus Sego Iriban itu namanya kathok’an atau blarak. Dimana itu menggunakan daun kelapa yang dianyam kemudian di tali ke atas di ujungnya,” katanya.
Semua kuliner khas dan oleh-oleh bisa ditemui di Pasar Kuliner Ndeso di Embung Sebligo.
Biasanya digelar tiap hari Minggu Pon dan Minggu Pahing. Bisa menjadi sarana promosi dan memperkenalkan apa yang ada di dalam Desa Wisata Lerep.
Selain itu saat ini yang paling ramai dan digemari yakni Kampung Buah Naga dengan oleh-oleh berupa bibit buah naga yang bisa dibawa pulang oleh pengunjung.
Tahun ini pihak Pokdarwis dalam menjalankan desa wisata terhitung dari januari hingga saat ini sudah mendapatkan omzet kurang lebih Rp 120 juta.
“Itupun nantinya dari omzet itu akan diputar kembali. Untuk perawatan, perlengkapan dan lain-lain serta pengembangan desa wisata juga,” terangnya.
Selain dari sisi pariwisatanya, secara program desa ataupun administrasi Desa Lerep juga memiliki yang rapi dan tepat sasaran.
Seperti digitalisasi desa untuk pemasaran produk-produk UMKM desa. Kemudian juga sustainability, yakni tangguh dan secara berkesinambungan dalam membangun desa.
"Beberapa aspek tersebut sudah kami laksanakan sejak awal Desa Lerep dibangun sebagai desa wisata unggulan di Kabupaten Semarang. Bahkan sudah banyak inovasi kreatif dari desa yang sudah tercipta," tambah Kepala Desa, Sumaryadi. (nun/fth)
Editor : Agus AP