Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Usung Konsep Vintage Industrial, Pertahankan Bangunan Khas Belanda

Agus AP • Minggu, 26 Februari 2023 | 18:33 WIB
Pengunjung Restoran Layar Kota by Banaran, Marsha, Gea, Sasha, dan Ella menikmati berbagai spot foto. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Pengunjung Restoran Layar Kota by Banaran, Marsha, Gea, Sasha, dan Ella menikmati berbagai spot foto. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Mengusung tema industrial vintage menjadi daya tarik bagi Restoran Latar Kota by Banaran. Berada di kawasan Kota Lama tempat ini selalu ramai pengunjung. Ciri khasnya dengan tetap mempertahankan bangunan khas peninggalan Belanda.

Lokasinya berada di belokan tepi jalan, sebelum Stasiun Tawang.  Restoran ini memiliki lahan parkir sangat luas. Sesuai namanya, latar yang berarti halaman, dan kota lokasinya berada di kota.

Aksen warna putih membuat tempat ini semakin tampak luas. Terdapat logo LK yang dipasang di halaman, biasanya menjadi spot foto. Di logo ini dicat warna hijau yang menggambarkan positif profit, dan warna kuning berarti selalu jaya.

“Ini menunjukkan optimis dalam berusaha dan berkarya,” kata General Manager Kampoeng Kopi Banaran dan Unit Produk Hilir (UPH) Didik Maryono kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bentuk restoran ini tak jauh berbeda dengan model bangunan di kawasan Kota Lama. Bentuk pintu kaca melengkung, atap mengerucut, lampu gantung hingga ukiran di atap masih sangat khas dengan peninggalan Belanda. Hal itu supaya tempat wisata yang merupakan heritage ini tak berubah.

"Kami pernah ingin mengajukan konsep modern, namun tidak diperbolehkan. Alhasil model bangunannya mirip-mirip dengan Belanda," ujarnya.

Di tempat makan ini disediakan secara indoor dan outdoor. Untuk indoor, terdapat kursi meja kayu kemudian dihadapkan dengan sofa panjang. Penempatan meja kursi itu di dua seberang, sementara tengah ruangan untuk akses jalan.



Sedangkan outdoornya, ada beberapa spot. Satu dilengkapi dengan kanopi yang terdapat lima meja kursi makan. Spot lain langsung di bawah langit dengan delapan meja bekas lori pengangkut tebu di pabrik gula.

Di belakang, ditambah pula tempat duduk tangga. Sangat cocok untuk menikmati akustik karena berhadapan dengan panggung konser mini. Sebagai fasilitas tambahan, pihaknya juga menyediakan mushola.

Tempang asyik ini sekaligus sebagai pengembangan bisnis dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX. Dengan mengeksplorasi sumber pendapatan di luar core business perkebunan. Sebelum dibangun, lokasi ini menjadi tempat terkumuh di kawasan Kota Lama.

“Kami memanfaatkan aset untuk dijadikan resto. Dulu sangat kumuh lalu kami sulap. Untuk bahan baku kami dari hasil perkebunan seperti kopi, gula, teh," ujarnya.

Tidak hanya menawarkan keindahan tempat, tetapi menu yang disajikan cocok di lidah. Mulai makanan tradisional sampai menu western. Untuk minumannya tersedia berbagai jenis kopi. Bisa memilih sesuai selera.

“Kelengkapan menu itu memang disediakan komplit karena restoran ini cocok untuk semua kalangan. Dari anak-anak hingga orang tua,” tambahnya.

Salah satu pengunjung, Marsha Ayunita mengatakan senang bisa nongkrong dan menikmati restoran ini. Baik dari menu maupun tempatnya sangat memuaskan. Terutama ada banyak spot yang bisa dibuat untuk foto, instagramable.

“Setiap sudut cukup menarik. Ditambah disini parkiran yang luas, itu poin penting," tutur Wakil Ketua STIE Semarang ini didampingi rekan-rekannya, Gea, Sasha, dan Ella. (ifa/fth) Editor : Agus AP
#restoran #Kota Lama #Latar Kota by Banaran