RADARSEMARANG.ID, DEMAK-Ketua DPRD Kabupaten Demak H Zayinul Fata mendorong Pemkab Demak untuk bisa merawat tradisi Grebeg Besar dengan sebaik-baiknya.
Karena itu, Grebeg Besar jangan hanya sekedar dikemas hiburan komersil semata, namun juga harus bisa menguatkan dan melestarikan nilai-nilai sejarah, religi dan budaya luhur yang telah diwariskan para wali atau Walisongo.
Menurutnya, mempertahankan nilai budaya religi sangat penting sebagai wujud identitas Kota Santri dan Kota Wali yang harus dijaga kesakralannya.
Termasuk perlunya menampung pagelaran seni budaya wayang kulit, ketoprak, juga gema salawat nabi.
"Jadi, pagelaran Grebeg Besar jangan hanya dimonopoli oleh hiburan- hiburan komersil saja. Namun, nuansa budaya dan religi juga tetap diperhatikan,"jelas Zayinul Fata.
Dia menambahkan, Grebeg Besar merupakan pagelaran rakyat yang diselenggarakan pemerintah daerah.
Karena itu, masyarakat harus diajak ikut menyamhut keramaian tahunan ini dalam rangka mewujudkan Demak sebagai daerah yang gemah ripah loh jinawi.
"Pemerintah daerah sudah seharusnya bisa membuat pagelaran yang lebih menarik. Yang lebih memberikan kemanfaatan untuk masyarakat dan memberikan nilai peradaban kemajuan daerah,"katanya.
Zayinul Fata mengatakan, pagelaran Grebeg Besar juga perlu adanya pameran UMKM untuk mendingkrak ekonomi masyarakat yang hari ini butuh disupport dan publikasi secara luas. Bisa diisi dengan parade kuliner lokal.
Kuliner khas Demak yang lezat perlu diangkat. Sebab, seringkali orang luar daerah menanyakan kuliner khas Demak namun sulit dijawab.
"Kuliner khas Demak itu apa ya?. Tapi, faktanya kita sulit menjawabnya. Maka, momentum Grebeg Besar ini harus bisa merubah menjadi sesuatu yang lebih visioner untuk Demak yang lebih baik,"ujarmya.
Hal itu sesuai dengan kaidah almukhafadzotu ala qodimissalih, wal akhdzu bil jadidil aslakh.
Artinya, tetap memelihara atau mempertahankan tradisi lama yang baik dan juga mengembangkan yang baru yang lebih inovatif dan kreatif untuk kemajuan daerah.
"Saya berharap, selaku ketua DPRD Demak, ibu bupati bisa memperhatikan aspek aspek yang bernilai peradaban. Jadi Demak ini gudangnya pesantren. Maka, dalam pagelaran Grebeg Besar pun harus memperhatikan aspek budaya pesantren. Kalau perlu ada pegaleran lomba baca kitab fikih para santri atau kegiatan lain yang bernuansa positif,"katanya.
Dia kembali mengingatkan, bahwa Grebeg Besar tidak hanya bicara soal hiburan komersial saja.
Yang lebih penting dari lahirnya Grebeg Besar adalah mewujudkan sebagai kota yang punya budaya luhur dan budaya yang tinggi.
Karena itu, kata dia, perlu menjaga fatsun perjuangan Sunan Kalijaga sebagai ulama sekaligus pelaku seni budaya luhur dengan menampilkan wayang kulit sebagai hiburan rakyat.
Juga, menghargai perjuangan Sultan Fatah sebagai sultan pertama di Jawa dengan memberikan pegalaran bernuansa religi keagamaan.
"Saya yakin, kalau Grebeg Besar dilakukan dengan mengusung tema yang kreatif dan positif bagi masyarakat, tema yang menjunjung tinggi peradaban kemanusiaan, maka Demak bisa menjadi kota yang baldatun toyyibatun warobbun gofur,"katanya optimis.
Dia pun berpendapat perlunya merubah isi dan materi pagelaran Grebeg Besar yang didalamnya tidak hanya meululu menampilkan hiburan komersial semata.
"Sekali lagi, perlunya merawat dan mengangkat nilai kebudayaan yang sesuai dengan lahirnya Grebeg Besar dengan merawat keanekaragaman yang dimiliki masyarakat Demak yang religius. Ini sekaligus kritik bagi pemda agar merumuskan agenda yang betul-betul dilandasi semangat kemajuan Kota Demak,"ungkap Zayinul Fata.
Menurutnya, pemda perlu mengajak masyarakat untuk mensukseskan tradisi tahunan tersebut. "Kuncinya adalah masyarakat. Semua dilibatkan bareng-bareng agar warisan budaya ini bisa dinikmati kelestariannya,"katanya.(hib)
Editor : Tasropi