Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Melihat Madrasah Apung NU di Desa Timbulsloko Sayung Demak, Setiap Malam Ada 40 Anak yang Mengaji

Wahib Pribadi • Rabu, 31 Januari 2024 | 17:00 WIB

Bangunan Madrasah NU Apung di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung. WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG
Bangunan Madrasah NU Apung di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung. WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG
 

RADARSEMARANG.ID, Demak - Desa Timbulsloko di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak merupakan salah satu desa yang tenggelam akibat rob atau banjir air laut pasang.

Banyak rumah penduduk maupun fasilitas umum yang tiap hari terendam air laut.

Infrastruktur jalan desa pun rusak dan sempat terputus. Hal yang sama juga dialami bangunan madrasah yang rusak akibat rob.

Banjir rob di kampung pesisir Demak ini sudah berlangsung sepuluh tahun dan terparah dalam lima tahun terakhir.

Rusaknya fasilitas pendidikan umum dan keagamaan, seperti madrasah, membuat warga tidak ada pilihan lain.

Mereka harus meninggikan bangunan rumah masing-masing juga fasilitas umum tersebut. Namun, rob makin mengganas sehingga sulit diatasi.

Karena itu, keberadaan madrasah NU yang pembangunannya didukung PWNU Jateng ini menjadi salah satu cara untuk tetap memberikan fasilitas terbaik bagi anak-anak di desa agar bisa tetap mengaji di sore atau malam hari.

Madrasah Apung Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Pangeran Diponegoro di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung yang berdiri mengapung di atas air laut atau rob ini masih tampak baru.

Bangunan yang dibiayai dari hasil donasi warga Nahdliyyin melalui NU Care-Lazisnu Jateng ini diresmikan pada 3 September 2023 oleh Rois Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shadaqah. Saat itu, hadir pula Ketua DPC PKB Demak Zayinul Fata.

 Baca Juga: Akses Keluar Masuk Bus di Terminal Demak Digelontor Rp 20 Miliar, Tahun Ini Ditarget Operasional

Bangunan dari bahan kayu yang di bawahnya diperkuat dengan konstruksi penyangga dari puluhan tong plastik warna biru ini merupakan terobosan yang dirancang sedemikian rupa agar bisa beradaptasi dengan lingkungan yang dikelilingi air rob.

Di bawah blung atau tong plastik juga dipasang banyak kayu yang dibungkus plastik dan dijahit serta diberi waring hijau kemudian dijahit lagi.

Bangunan ini dilengkapi pula dengan toilet apung. Sembilan pekerja dari Dukuh Menco, Kecamatan Wedung selama sebulan membangun madrasah apung ini.

Madrasah ini dikelola oleh Sobirin selaku kepala madrasah. Saat Jawa Pos Radar Semarang ke lokasi, Sobirin sedang bekerja di Semarang.

Ibunda Sobirin, Siti khotimah, 70, warga RT 5 RW1 Dukuh Timbulsloko menuturkan, anaknya diminta warga agar tetap menjadi penggerak dalam pembelajaran agama di madrasah tersebut.

"Pembangunan madrasah NU ini dibantu Mbah Ubed (Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shadaqah). Juga dibantu perahu NU," katanya.

Pembuatan madrasah NU apung tersebut dimaksudkan agar ada tempat untuk mengaji bagi anak-anak desa setempat. Biar lebih leluasa dan tidak sempit.

Untuk mengakses bangunan madrasah NU yang dibangun dengan biaya sekitar Rp 200 juta ini harus melalui jembatan kayu sepanjang kurang lebih 200 meter dari tempat parkir sepeda motor.

Jembatan kayu ini merupakan swadaya masyarakat termasuk dari ibu-ibu pengajian. Untuk ke madrasah ada pula jembatan warna hijau yang diatasnya dipasang bendera NU.

Bendera tersebut sudah sobek tak tahan cuaca panas dan hujan.

 Baca Juga: Perahu Berputar Sendiri Tanpa Awak, Nelayan Demak Hilang saat Melaut

Madarasah apung NU mampu menampung 150 orang. Namun, untuk siswa madrasah yang ikut mengaji sekitar 40 an anak. Mereka mengaji dengan Kiai Sobirin setiap malam usai Maghrib dan Isya.

Di dalam bangunan tersedia 17 meja atau dampar yang digunakan untuk landasan mengaji Alquran. Ada pula kitab Burdah atau barzanji.

Juga terdapat fasilitas 3 papan tulis besar. "Kalau malam Senin dijadikan tempat untuk kegiatan burdahan warga," katanya.

Sedangkan, untuk kebutuhan air dan listrik, warga iuran.

"Adanya bangunan madrasah NU ini kita jadikan sebagai tempat pengabdian. Mulang ngaji anak-anak kampung. Sebab, madrasah yang ada di desa ini sejak ada rob berangsur berkurang jumlahnya. Karena itu, dengan dibangunnya madrasah oleh PWNU Jateng ini, aktivitas mengaji kembali jalan," ujarnya.

Dia menambahkan, madrasah merupakan tempat mengajar agama setelah anak-anak desa seharian sekolah umum (SD dan SMP). (hib/ton)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#BANJIR #ROB #Timbulsloko