Pembangunan oleh PT Pembangunan Perumahan (PP) itu, dimulai sejak 19 Desember 2019 lalu. Ditargetkan selesai pada 27 Maret 2022 mendatang.
Humas PT PP Semarang-Demak, Robby Suwarna mengatakan, lokasi pembangunan proyek yang dimulai dari Sayung tersebut kini masih diwarnai sejumlah pekerjaan inti. Di antaranya, pemasangan slab on pile (lempengan beton untuk penguat fondasi) sepanjang 8.387 km. Kemudian, penerjaan timbunan sepanjang 7.356 km, dan struktur jembatan sepanjang 567 meter.
Sejumlah titik yang menjadi fokus pembangunan antara lain, di wilayah Jalan Onggorwe Sayung, Sungai Dresan, Sungai Karang Panas, jalan raya Guntur-Buyaran, dan Sungai Tuntang. Di sejumlah titik tersebut juga ada kegiatan pemancangan pilar penyangga. Termasuk kegiatan penimbunan layer (lapisan), borrow (pengambilan bahan timbunan) dan granular (penimbunan kembali atau penyempurnaan). “Adapula gelar geotextile memperkuat tanah dasar,"ujarnya.
Menurut Robby, proyek tol Semarang-Demak tidak mengalami Kendal yang berarti. “Kendalanya masih di lahan. Itu pun, hanya spot spot saja,” katanya.
Robby menambahkan, dalam perkembangan terakhir, lahan di wilayah Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota, telah dibebaskan. Tanah wakaf seluas 10 hektare tersebut sudah dicarikan tanah pengganti. Idealnya, tanah pengganti masih dalam satu wilayah desa. Jika tidak ada, bisa dalam wilayah satu kecamatan dan atau kabupaten.
Kendala lain, hingga kini pihaknya masih menunggu konsinyasi untuk pembebasan lahan di wilayah Desa Karangrejo, Wonosalam dan Kendaldoyong, Kecamatan Wonosalam.
Seperti diketahui, pembebasan lahan tol di tiga tersebut sempat mengalami kebuntuan lantaran harga tanah antar satu desa dengan desa lain berbeda jauh. Warga menuntut agar harga ditaksir secara adil. Sehingga masyarakat tidak dirugikan. Untuk menyelesaikan masalah itu, warga pun melakukan audiensi beberapa kali di gedung DPRD Demak. (hib/zal) Editor : Agus AP