RADARSEMARANG.ID - Menjaga situs-situs kuno bukanlah hal mudah. Harus ekstra hati-hati dan waspada agar tidak rusak karena pelanggaran pengunjung.
Hal itulah yang diakui Sumadi, penjaga Situs Purbakala Liyangan. Yakni sebuah situs yang diyakini kawasan pemukiman masyarakat kerajaan Mataram kuno. Yakni mencakup sisa-sisa bangunan (candi, rumah), jalan, dan berbagai artefak.
Dinamakan Situs Liyangan karena lokasinya berada di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Saking kuno dan lamanya, sehingga butuh kehati-hatian dalam merawat.
Pun dalam menjaga, juga harus waspada. Sebab bagi pengunjung, terutama masyarakat awam tidak mengetahui karakter dari benda yang mereka sentuh dan pegang.
Terlebih di situs tersebut, pengunjung masih bebas. Bahkan anak-anak usia TK, SD dan SMP bebas keluar masuk.
Hal ini memungkinkan terjadinya pelanggaran pengunjung. Seperti menduduki batu yang seharusnya tidak boleh diduduki.
Atau memindahkan batu dan sebagainya. “Tau-tau mereka sudah menek-menek (manjat) di atas batu,” kata Sumadi.
Di Situs tersebut juga minim papan informasi perihal aturan dan larangan pengunjung. Pun kamera CCTV, juga belum ada.
Jika saat mendapati anak-anak yang melakukan hal pelanggaran, dia memperingati dengan pelan-pelan. “Sebab, papan informasi juga belum ada,” katanya.
Sebagai penjaga dan perawat Situs Liyangan, Sumadi mengaku sering menjumpai hal unik. Seperti pengunjung datang karena memiliki keinginan tertentu. Bahkan, ada pengunjung yang meminta yang aneh-aneh pada situs batu.
Pernah suatu malam, ada pengunjung yang melakukan ritual tertentu. Seperti membaca mantra, membawa sesaji, memakai batu akik untuk memancing mahluk astral yang ada di situs tersebut. “Kalau saya sendiri tidak pernah mengalami hal-hal mistis, aman," ujarnya.
Tapi, ia mengakui ada cerita mistis dari pengalaman orang-orang kerap ia dengar. Salah satunya, yang mahluk tak kasat mata menjaga yang meminta sesaji.
Tapi Sumadi mengaku tak pernah menuruti permintaan tersebut. Soalnya kalau dituruti jadi minta terus.
Masyarakat juga saling menjaga karena posisinya yang berdekatan dengan perkampungan.
“Sehingga semua merasa memiliki, sehingga tidak perlu digerakkan atau apa sudah saling menjaga," ungkapnya. (din/bud)
Editor : Baskoro Septiadi