RADARSEMARANG.ID, Semarang - Menjadi kurir atau driver online bukanlah perkara mudah. Tidak sedikit paket yang dikirim berukuran jumbo dengan dimensi di luar nalar.
Farida Nur Aini memiliki sederet pengalaman unik selama menjadi ojek online. Ibu 42 tahun ini mengatakan beberapa kali menerima pesanan mengantarkan barang dengan ukuran besar.
Ia pernah mengirimkan mesin kompresor. Pesanan itu dari marketplace Tokopedia. Paket dikirim dari Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang dengan tujuan Bawen, Kabupaten Semarang.
Diakuinya awalnya terkejut karena pada pesanan tidak tertera deskripsi barang sehingga baru diketahui saat di lokasi pengambilan barang.
"Bawanya diikat di belakang, saya duduknya di ujung jog. Kebetulan waktu itu pas hujan deras, tapi tetap dikerjakan karena sudah terlanjur masuk," akunya.
Selama di perjalanan, ia harus terus memegangi barang tersebut karena khawatir jatuh. Namun, tidak sampai berhenti mengecek, ia terus berjalan sampai lokasi.
Dari pengantaran barang itu ia mendapatkan tips Rp 10 ribu. "Alhamdulillah tetap kuat dan aman sampai di Bawen," tambahnya
Pengalaman lain, ia pernah menerima orderan tangga lipat BI dari kawasan bekas Stasiun Jurnatan ke Perumahan Graha Padma, Semarang Barat. Kemudian orderan jemuran aluminium dari kawasan Jalan Kesatrian ke Tanah Mas.
"Bawanya di model tali seperti tas jadi agak capek. Pas perjalanan sampai nggesrek di jalanan. Malah hampir lepas, tapi sampai tempatnya aman," terangnya. Di orderan ini ia menerima tip Rp 20 ribu.
Kemudian, ia juga pernah menerima orderan mengantarkan kucing ke Bawen. Saat itu sempat beberapa kali berhenti lantaran kucing yang dibawa kepanasan karena tak ditutupi kain pelindung. Lantas ia mempercepat perjalanan agar kucing tetap dalam kondisi baik.
"Takut juga sih kalau kenapa-kenapa soalnya kucing mahal. Jadi kucingnya mengeong seperti dehidrasi gitu karena jam 11 siang. Untungnya masih selamat," ucapnya bersyukur.
Ida mengaku berbagai pesanan ekstrim itu tetap digarap karena dirasa masih bisa dikerjakan. Ia sering diingatkan teman-teman jika dapat orderan tak lazim untuk ditinggal saja.
Namun, menurutnya selama masih bisa diangkut tetap ia ambil garapannya. Memang, diakuinya awalnya kaget bahkan sempat takut bawa karena resikonya besar.
Di sisi lain juga tidak bisa diprediksi ada rintangan apa di jalan. "Kuncinya yakin, dan niat cari nafkah buat keluarga," ucap ibu dua anak ini.
Meski begitu, ia pernah membatalkan pesanan karena diminta mengantarkan pintu. Karena kapasitas pintu bukan lagi untuk ojek seperti motor.
Namun bisa pilihan mobil ataupun truk box. Menurutnya, banyak yang customer yang menggunakan jasa ojol dibanding taksi online karena ongkos kirim lebih terjangkau, terpaut tiga kali lipat.
Memiliki pengalaman hampir tujuh tahun membuat Ida enjoy menjalani profesinya. Meski kerap mendapat pesanan yang aneh-aneh namun tetap semangat.
Ia niatkan bekerja sembari jalan-jalan dan memperluas pengalaman di berbagai jalan daerah.
Menurutnya adanya tip merupakan bonus. Dalam sebulan, ia biasanya mendapatkan tip hingga Rp 800 ribu.
Saat weekdays ia mendapat orderan 20-25 kali. Sedangkan weekend lebih dari 30 kali pesanan. Itu dari pagi sampai malam.
"Tapi kondisional pulang ke rumah juga. Yang penting pas berangkat pekerjaan rumah sudah beres," tambahnya.
Andreas, 32, pernah memiliki pengalaman unik ketika menjadi sprinter salah satu perusahaan ekspedisi di Kota Semarang.
Ia pernah mengirim lemari plastik yang tingginya sekitar 1,5 meter menggunakan sepeda motor.
"Dulu pernah kirim lemari plastik yang besar, itu belum harus membawa paket lainnya di samping kanan-kiri motor, biar sekali jalan," katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.
Bukan hanya lemari plastik, pernah juga mengirimkan 100 buah sarung yang berat dan tingginya bisa dibilang diluar nalar.
Belum lama ada customer yang membeli koper di marketplace yang ukurannya juga sangat besar.
"Seratus sarung itu ditata naik, jadi posisinya tinggi banget. Ada pula koper yang ukurannya manusia bisa masuk tiduran," kenangnya sambil tertawa.
Tak berhenti disitu, Andreas sendiri pernah kaget karena harus mengirimkan hewan buas. Misalnya ular sanca dan biawak, untuk mengantarnya ia pun sempat ketar-ketir karena takut digigit jika hewan tersebut lepas.
Namun karena pekerjaan, mau tidak mau walaupun takut ia tetap harus mengantarkan paket yang harus dikirimkan. "Memang ada tempatnya, untungnya masih anakan. Tapi sempat ketar-ketir juga," ucapnya.
Pengalaman unik lainnya, juga pernah dirasakan seorang kurir sebut saja Grandong. Ia pernah mengirimkan beberapa barang ekstrim. Mulai kotoran ayam yang akan dijadikan pupuk, koper ukuran besar bahkan kloset duduk.
"Kotoran ayam ini baunya minta ampun, katanya sejenis pupuk. Beratnya sekitar lima kilogram," katanya.
Untuk kloset duduk, menurutnya memiliki berat sekitar 40 kilogram. Bahkan untuk mengangkut dan menurunkan barang, ia harus meminta bantuan dari salah satu teman.
"Ada juga ban dan velg mobil, beratnya minta ampun, harus dibantu untuk mengangkutnya," bebernya.
Sebagai seorang kurir yang menggunakan sepeda motor, barang-barang berukuran berat dan besar ini idealnya dikirim kargo yang menggunakan mobil.
"Karena kalau pakai motor rawan rusak, dan kena klaim harusnya masuk ke kargo. Tapi selama ini los, bahkan saya pernah mengirim tangga,"keluhnya.
Saat event tertentu seperti 11.11 ataupun 12.12, menjadi high season ekspedisi. Termasuk pengiriman barang yang diluar nalar tadi, padahal untuk insentif yang didapat dihitung per item yang dikirimkan, bukan satuan berat.
"Kita utamakan yang kecil, karena kalau yang besar duluan menghabiskan waktu, nanti baru dikirim menyusul atau diselake. Karena insentif yang didapat, itu dihitung per item, bukan berat barang," tambahnya. (ifa/den/fth)
Editor : Baskoro Septiadi