RADARSEMARANG.ID - Makan hingga tidur dan di lokasi kebakaran pernah dilakoni Kurniawan Adi Putra, sang jagoan penakluk api dari Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang.
Terlebih musim kemarau seperti ini, banyak sekali bencana kebakaran yang mengharuskannya tidak bisa pulang.
PAHIT getir dan asam garam menjadi personel damkar telah banyak dijalani Kurniawan, 40 pria asal Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang ini.
Kewajibannya memadamkan api di TPA Jatibarang baru-baru ini bukan yang pertama kali. Bahkan nyaris setiap tahun, dilakukannya sepanjang ia bertugas di Dinas Damkar.
"Bukan hanya sehari dua hari, bisa sampai seminggu gak pulang. Jadi tidur di lokasi. Sampai tenggorokan rasanya kering. Makan juga disini, ya bau-bau sampah sama seperti badan dan baju sudah sama baunya,” katanya.
Tapi, hal itu tak membuatnya lantas berkecil hati. Meski penuh duka, ia tetap menjalaninya dengan ikhlas dan syukur. “Ya, sudah hal biasa. Anggap saja ini kita sedang latihan," bebernya.
Menurutnya, proses pemadaman yang paling dramatis dan mengerikan pernah dialaminya. Ia bersama sejumlah rekannya sempat terjebak api saat memadamkan api di TPA Darupono. Tepatnya pekan lalu saat api menghanguskan kandang serta menewaskan tiga ekor sapi.
"Beruntung tidak lama. Ya hitungan menit saja, kami bisa keluar. Meski beberapa menit, saya dan teman-teman sampai sesak nafas. Memang, sudah dibekali APD, masker. Tapi udara yang kami hirup sudah bercampur asap jadi berat untuk paru-paru," bebernya.
Namun, hal tersebut tak membuatnya panik. Lantaran sudah dibekali saat pendidikan dan pelatihan (Diklat). Cara pertama, saat terjebak asap adalah dengan langsung jongkok.
“Sebab oksigen udara di bawah itu biasanya masih bersih, kita masih bisa nafas. Kalau kita berdiri, diserang asap, langsung kena ke pernapasan," tuturnya.
Menurutnya juga, musuh utama dalam proses seorang pemadam adalah asap. Sebab, selain menyerang pernapasan, juga menyerang mata. Untuk mengatasinya, tentu tak bisa hanya dengan memejamkan mata.
Saat mata terserang asap dan membuat mata pedih, maka satu-satunya jalan adalah mundur. Makanya, harus selalu berkoordinasi dengan bagian yang di mobil (Damkar).
“Minta untuk mematikan air, terus mundur. Setelah jauh dari jangkauan asap, baru pemadaman dilanjutkan lagi,” jelasnya.
Baginya, menjadi pemadam adalah tugas mulia. Sebab, ia bisa menjadi seperti seorang pahlawan yang menolong korban kebakaran.
“Bagi saya menjadi petugas damkar bukan sekedar pekerjaan, tapi tugas yang mulia untuk menolong sesama,” akunya.
Terkait menyiasati kondisi kesehatan, rutin melakukan olahraga termasuk menjaga pola makan. Disisi lain, juga tak lupa untuk berdoa dalam melakukan aktifitas pemadaman.
“Minta doa sama orangtua, istri dan anak-anak, supaya selamat dan tidak ada kendala apapun," imbuhnya.
Harus Kuat Nyali dan Pintar Atur Strategi
Gigih Tyas Prajoko, 35, dan Anding Triwibowo, 34, merupakan petugas damkar sektor Kendal. Mereka sudah mengabdi puluhan tahun dan berada di garda depan ketika ada kebakaran.
Pekerjaan yang tidak mudah, karena harus berjibaku dengan kobaran api. Tetapi keduanya berkomitmen untuk selalu di depan demi memadamkan api dan menyelamatkan berbagai harga benda pasca kebakaran.
Gigih Tyas Prajoko, sudah bergelut dengan pekerjaan berat ini sejak 2008. Baginya, menjadi pemadam kebakaran tidaklah mudah. Harus ikhlas dan siaga memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat.
“Awalnya saya kira hanya memadamkan api. Ternyata lebih dari itu. Misalnya ketika rumah terbakar, kita juga ikut bertanggung jawab harta benda seperti emas atau lainnya pasca kebakaran. Harus diamankan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Selama 15 tahun mengabdi, banyak kisah unik, sedih, maupun senang yang dialaminya. Pertama memadamkan api saat terjadi kebakaran di Desa Sendang Kulon, Kecamatan Kangkung awal 2009.
Bahkan ia menyiapkan mental dan keberanian karena harus berada di garda terdepan saat terjadi kebakaran.
“Kalau kebakaran banyak yang menjauh, kita justru harus di depan. Memadamkan dan memastikan semua titik api padam,” ujarnya.
Kemarau tahun ini, baginya merupakan tahun yang cukup melelahkan. Karena tidak hanya kebakaran rumah, kobaran api juga terjadi TPA Darupono.
Tidak hanya bergelut dengan api, melainkan harus siaga dengan bau tak sedap serta asap akibat kebakaran.
"Untuk memadamkan api tidak boleh asal, harus pinter ngatur strategi agar api cepat padam,” tambahnya.
Anding Triwibowo, mengakui untuk pemadaman api di TPA Darupono menguras tenaga fisik. Tetapi panggilan jiwa sebagai tugas damkar sudah melekat sehingga ia bersama petugas damkar lainnya tidak merasa lelah.
"Kami ikhlas menikmati. Kami harus mengambil keputusan saat memadamkan api. Karena slogan kami pantang pulang sebelum api padam," jelasnya.
Ia mengakui menjadi petugas damkar bukan pekerjaan ringan. Badan harus selalu sehat dan pandai mengatur waktu istirahat. Mereka harus selalu siaga ketika dibutuhkan.
Biasanya usai memadamkan api para petugas beristirahat di pos damkar. Ada yang tidak pulang ketika jam tugasnya sudah selesai.
"Kami menjadikan pos damkar seperti rumah. Misal tidak bisa istirahat di rumah ya istirahat di pos," ujar Anding.
Anding menegaskan petugas pemadam kebakaran Kendal tetap solid. Karena kepercayaan masyarakat meningkat kepada damkar. Bahkan, saat ini pemadam kebakaran ditransformasikan seperti superhero.
"Apapun laporannya, kalau sudah masuk ke pos harus kami laksanakan. Kami harus siaga dan siap sedia. Respon time kami maksimal 15 menit harus sampai lokasi," tambahnya.
Bertaruh Nyawa dan Siap Terima Caci Makian
Kemarau panjang menyebabkan sejumlah daerah mengalami kekeringan dan rentan terjadi kebakaran. Tercatat, hingga September lalu terjadi 183 kasus kebakaran di Kabupaten Semarang.
Jumlah total kasus tersebut diantaranya 116 kejadian kebakaran lahan dan 32 kasus kebakaran rumah.
Hal tersebut membuat para petugas pemadam kebakaran (damkar) harus siap dan siaga. Tidak hanya manajemen waktu, tapi fisik dan mental harus disiapkan untuk melakukan pemadaman api.
Seperti yang dirasakan Komandan Regu (Danru) B, Pos Damkar Ambarawa, Slamet Suwardi. Ia banyak bercerita banyak kasus kebakaran yang terjadi di area wilayah Ambarawa dan sekitarnya.
"Musim kemarau ini, hampir setiap hari dan setiap pekan ada bencana kebakaran. Baik itu babgunan maupun lahan kosong,” katanya.
Selama bekerja sebagai petugas damkar, banyak duka dan asam getirnya menjadi pemadam. Namun hal itu tak membuatnya patah semangat.
Bahkan pikiran bosan, atau berhenti menjadi petugas damkar tidak pernah terlintas di benaknya. Karena menurutnya sebuah musibah datang tanpa diminta oleh siapapun.
Jadi ia akan berupaya untuk membantu meringankan musibah itu dengan membantunya dengan keahliannya.
“Jadi saat diminta bantuan masyarakat, pasti akan kami terima dengan senang hati. Karena pelayanan harus dilandasi dengan ikhlas dan sepenuh hati, " ungkapnya.
Tidak hanya itu, terkadang berbagai cobaan pun sering didapatkan seperti adanya laporan fiktif dari oknum masyarakat.
Dari pengalaman-pengalaman terdahulu banyak laporan fiktif yang masuk sehingga dapat mengacaukan manajemen waktu.
“Sekarang kalau ada laporan masuk langsung konfirmasi dengan pemangku wilayah yang berada di lokasi kejadian," katanya.
Menjadi petugas damkar, selain harus bertaruh nyawa, sering kali juga mendapatkan caci makian. Alasannya karena datang ke lokasi.
Namun hal itu harus ia terima dengan legowo. Karena masyarakat juga ingin masalah kebakaran cepat tertangani.
"Meskipun masyarakat tidak tahu kendala-kendala yang ada di jalan yang menyebabkan terlambat. Ya kita legowo saja, " ungkapnya.
Penanganan kebakaran paling lama menurutnya saat memadamkan api di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Seperti di TPA Jatibarang Kota Semarang dan TPA Blondo Bawen.
Tidak hanya itu kebakaran di lereng pegunungan juga sering menyulitkan akses seperti kebakaran di Wirogomo kemarin.
"Kalau memang terpaksa tidak bisa menjangkau di titik lokasi pasti dari teman-teman memakai cara manual. Seperti di kepyok dan memakai mesin air yang portable, " bebernya. (mha/dev/ nun/bud/fth)
Editor : Baskoro Septiadi