RADARSEMARANG.ID — Sebelum bulan suci Ramadan tiba, masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Yogyakarta, memiliki kebiasaan khas yang disebut padusan.
Tradisi ini dilakukan tepat di hari sebelum puasa dimulai dan umumnya dilakukan bersama-sama di kolam renang, mata air, atau tempat air bersih.
Seiring berjalannya waktu, padusan tidak hanya dianggap sebagai ritual spiritual, tetapi juga menjadi bagian dari industri pariwisata setiap tahunnya.
Baca Juga: Jelang Puasa Ramadan 2026: 30 Tempat Padusan di Semarang Hingga Yogyakarta
Padusan berasal dari kata adus dalam bahasa Jawa yang artinya mandi.
Menurut ahli budaya dari Universitas Gadjah Mada, Rudy Wiratama, tradisi ini memiliki arti sebagai cara untuk membersihkan diri, baik secara fisik maupun mental, sebelum memasuki bulan Ramadan.
Padusan dianggap sebagai tanda untuk membersihkan diri sebelum memulai ibadah puasa, yang memerlukan persiapan fisik dan spiritual.
Tradisi padusan berasal dari budaya Jawa sebelum era Islam, di mana orang sudah melakukan ritual mandi sebelum menjalani berbagai jenis puasa, seperti puasa mutih, ngrowot, dan ngebleng.
Ritual ini dianggap sebagai cara untuk mempersiapkan diri secara fisik dan mental sebelum melakukan praktik spiritual yang sangat disiplin.
Pada masa Hindu-Buddha, padusan disebut sebagai Dewa Sraya, yaitu ritual mandi keramas yang bertujuan untuk menghilangkan dosa.
Salah satu sumber yang menggunakan istilah ini adalah Kakawin Bharatayuddha, yang ditulis saat Raja Jayabaya memerintah antara tahun 1135 hingga 1157 Masehi.
Ketika agama Islam datang ke tanah Jawa, tradisi mandi (padusan) tetap dilakukan tetapi dengan mempertimbangkan nilai-nilai Islam.
Baca Juga: Jelang Puasa Ramadan 2026: 30 Tempat Padusan di Semarang Hingga Yogyakarta
Penyebaran Islam di Jawa yang didasarkan pada ajaran Ahlussunah wal Jamaah dan memperhatikan corak tasawuf lebih menekankan pada pemeliharaan tradisi lama yang baik, serta perubahan terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Oleh karena itu, padusan tetap dijaga dan dipertahankan sebagai bagian dari persiapan semangat menjelang datangnya bulan Ramadan.
Seiring berjalannya waktu, tradisi padusan mulai berkembang menjadi acara yang diikuti oleh banyak orang dari berbagai latar belakang masyarakat.
Meskipun orang itu tidak mengerti apa-apa tentang ajaran Islam, padusan tetap dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sudah siap secara batin dan fisik untuk menjalankan ibadah puasa, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya di berbagai wilayah di Jawa.
Budayawan dari Solo, Ki Ngabehi Edy Sulistiono menjelaskan bahwa padusan merupakan bagian dari tradisi masyarakat Jawa.
Menurutnya, meskipun tidak ada perintah langsung, tetapi cara tersebut termasuk bagian dari ajaran Islam dalam membersihkan diri.
Orang Jawa sebelum memulai Puasa Ramadan atau melaksanakan rukun Islam yang berupa puasa, biasanya memiliki tradisi untuk membersihkan diri.
"Sebab itu ada padusan, karena padusan itu meskipun tidak spesifik, tetapi diwajibkan dalam Islam," ujar Ki Ngabehi beberapa waktu lalu.
Dia yakin bahwa tradisi padusan ini sudah ada sejak masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kerajaan Mataram Islam.
Karena adat istiadat masyarakat Jawa pada masa Sultan Agung waktu itu diambil dan disesuaikan dengan syariat Islam.
Mengapa dikaitkan dengan Islam?
Karena sejak Sultan Agung Hanyokrokusumo memimpin, budaya Jawa itu dianggap sebagai budaya Jawa yang beragama Islam.
"Keraton Islam yang masih menjaga tradisi leluhur seperti padusan," ujar pengajar seni pedalangan dari Pura Mangkunegaran Solo itu.
Dalam tradisi Jawa Islam yang diwariskan oleh Ki Ngabehi, terdapat tiga bulan yang sangat penting.
Pertama Syaban atau Ruwah, lalu Poso atau Ramadan dan Syawal atau Bakdo.
Bulan Syaban dianggap penting karena masyarakat diwajibkan mendoakan para leluhur sebelum memasuki puasa, sesuai dengan tradisi Ruwahan.
Setelah itu, puasa dilanjutkan selama sebulan penuh dengan acara Syawalan yang melibatkan saling memaafkan.
"Mendoakan leluhur kemudian melaksanakan puasa dan Syawal. Di Keraton itu juga ada acara Grebeg Syawal atau Syawalan, di mana sinuhun (raja) akan melakukan lenggah siniwoko, lalu para Sentono dan abdi dalem datang menghadap raja untuk memperingati tanggal 1 Syawal dalam kalender Islam,"ujarnya.
Menurut situs resmi Dinas Pariwisata Pemkab Boyolali (25/2), masyarakat Boyolali, Jawa Tengah, memiliki kebiasaan istimewa untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.
Masyarakat melakukan ritual padusan di Umbul Ngabean, Pemandian Tirtomarto, Pengging.
Kompleks pemandian tersebut adalah warisan dari Raja Surakarta, Paku Buwono (PB) X, dan tradisi ini telah dijalankan secara turun-temurun.
Prosesi padusan dimulai dengan kirab budaya dari kantor kecamatan menuju Umbul Ngabean.
Memandikan sepasang Duta Wisata Boyolali (Mas Dan Mbak) menjadi tanda dimulainya ritual padusan sebagai simbol penyucian diri sebelum memulai ibadah puasa.
Padusan ini adalah cara untuk melestarikan budaya leluhur karena memiliki nilai-nilai baik dan tradisi.
Padusan tidak hanya membersihkan tubuh, tetapi juga membersihkan hati dan pikiran agar bisa menjalankan ibadah puasa dengan hati yang ikhlas.
Acara Padusan ini juga bisa menjadi daya tarik wisata yang baik, sehingga bisa membantu mempromosikan potensi wisata dan budaya yang ada di Boyolali. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi