Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Habib Thoha Gunakan Karomah untuk Usir Penjajah

Agus AP • Selasa, 27 April 2021 | 20:49 WIB
Seorang peziarah sedang berdoa di depan makam Habib Thoha bin Yahya, di Jalan Depok, Kota Semarang. (TITIS ANIS FAUZIYAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Seorang peziarah sedang berdoa di depan makam Habib Thoha bin Yahya, di Jalan Depok, Kota Semarang. (TITIS ANIS FAUZIYAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID – Habib Thoha bin Muhammad Al-Qadhi adalah ulama sekaligus pejuang yang gigih memerangi penjajah Portugis. Sepulang dari tanah suci Makkah, ia harus berperang melawan para penjajah di Malaka. Habib Thoha diminta oleh Sultan Malaka untuk mengusir penjajah Portugis di sana.

Setibanya di tepi pantai, ayah Habib Hasan itu memperingatkan kapten kapal Portugis untuk tidak mendaratkan kapalnya di pelabuhan. Tapi sang kapten abai dan tetap mendekati pelabuhan.

Ketua Yayasan Keluarga Sayyid Kramat Jati, Achmad Sholichin, yang mengelola makam menyampaikan bila tiap wali Allah memiliki karomahnya masing-masing. Tak semua tercatat oleh sejarah.

Lalu untuk menghadapi kapal penjajah yang berbondong-bondong, Habib Thoha kala itu menunjukkan karomahnya. Air laut yang semula tenang, tiba-tiba berubah menjadi badai ombak setinggi kepala. Ombak besar itu menghantam kapal para penjajah hingga hancur berkeping-keping. Ajaibnya, tak satupun awak dan penumpang kapal tewas. Mereka hanya pingsan dan terdampar di pinggir pantai.

Menurut cerita yang diungkap Habib Lutfi bin Yahya, wajah Habib Thoha memancarkan cahaya terang. Maka dari itu, beliau menutupi wajahnya dengan burqa. “Orang-orang tak sanggup menatap wajahnya,” tutur Solichin.

Sama seperti putra beliau Habib Hasan atau Syekh Kramat Jati, ia menggunakan harta kekayaannya untuk membantu sesama manusia. Tak tebang pilih, siapa pun yang membutuhkan bantuan, maka beliau dengan tulus membantu.

Dakwah beliau di pulau Jawa pun tak mengenal lelah. Sosok beliau yang kaya dan dermawan sangat dikenal hingga manca negara kala itu. Bahkan di Semarang beliau memiliki banyak wilayah kekuasaan. Salah satunya yang berada di pusat kota, Jalan Depok. Kini di sanalah makam beliau.

Makamnya selalu Ramai Peziarah

Dani Mulayawan, anggota Banser Kota Semarang yang piket menjaga makam saat koran ini tiba. Ia mengaku bertemu dengan beragam karakter peziarah. Banyak di antaranya ada yang mengaku bertemu dengan Habib Thoha.

Mungkin masih banyak yang belum tahu bila di pusat Kota Semarang, tepatnya di Jalan Depok terdapat makam ulama masyhur. Yakni Makam Habib Thoha bin Yahya. Di sebelah kiri jalan raya Jalan Depok, menuju Mal Paragon itu terdapat gang kecil dengan pintu gerbang hijau. Dua bendera berkibar di depannya.

Memang sekilas tak terlihat tanda yang menunjukkan terdapat makam waliyullah. Papan nama pun belum terpasang. Lahan perkir juga bisa dikatakan sangat terbatas. Mungkin cukup untuk empat unit mobil saja.

Koran ini menyusuri jalanan sempit berukuran sekitar satu meter. Kanan dan kiri hanyalah tembok. Lampu penerangan terpasang sepanjang lorong jalan itu. Perlu berjalan masuk sekitar 200 meter untuk tiba di lokasi makam.

“Kami dimintai oleh Yayasan Keluarga Syekh Kramat Jati untuk bergantian berjaga di sini. Karena dulu setahun pertama sempat ada masalah saat nggak ada yang jaga,” jelas Dani kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sudah sekitar delapan bulan ia berjaga di sana. Bersama keenam temannya dari personel Banser bergantian menunggu makam. Dalam sehari dibagi dua shift siang dan malam. Penjaganya pun satu orang per shift.

Menurutnya dengan adanya penjagaan dan perawatan, para peziarah lebih nyaman berdoa. Selain itu, peziarah yang datang tak perlu khawatir karena keamanan terjamin.

Kondisi dan desain arsitektur makam Habib Thoha sangat mirip dengan makam putra beliau, Habib Hasan di Jalan Duku. Dinding bercat krem, lantai keramik krem dengan karpet hijau tua bak rumput menghiasi ruangan. Makamnya pun dikelilingi tralis besi dengan motif kotak kecil.

Dani menuturkan fasilitas untuk peziarah masih dalam proses pengembangan. Rencananya tembok di sebelah yang menghalangi akan dirobohkan. Lalu dibangun kembali untuk kios oleh-oleh dan lahan parkir yang luas. Dengan begitu, peziarah dengan jumlah yang lebih besar dapat nyaman berkunjung dan berdoa.

“Dulu beberapa kali pernah sampai ada yang masuk membawa motor ke dapan makam, dikiranya tempat parkir di sini. Akhirnya kesulitan keluar dari jalan sempit ini,” katanya sambil terpingkal.

Para peziarah yang mendominasi saat ini masih rombongan keluarga dan individu. Kebanyakan datang dari Kota Semarang dan sekitarnya. Makam tersebut memang belum lama dibangun. Sekitar tahun 2019 baru dibuka untuk peziarah. “Terakhir kali paling banyak dua bus dari Pekalongan, itupun sudah lama,” ujar Dani.

Meski begitu, minat ziarah tetap tinggi. Tak ada satu hari pun yang tak didatangi peziarah. Bahkan dulu saat warga kampung Depok akan digusur, ia memohon keberkahan dari sang wali tersebut. Akhirnya mereka benar-benar lolos dan tak jadi digusur.

Berbulan-bulan Dani berjaga dan berjumpa dengan peziarah yang sangat beraneka ragam. Beberapa yang rutin berkunjung akhirnya menjadi temannya. Sering kali ia mendengar cerita dari para peziarah yang mengaku dapat bersilaturrohim dengan Habib Thoha. Meski aneh baginya, ia hanya mendengarkan. “Saya cuma bisa merasakan, kadang tercium harum beliau yang istimewa. Tapi sampai masuk mimpi belum pernah, apalagi ngobrol,” tandasnya.

Ahmad Aunur Rofiq yang sedang berziarah dan berdoa di depan makam saat koran ini tiba. Hingga sejam lebih berbincang dengan penjaga makam, Rofiq masih melantunkan doa dengan suara keras. Dani menjulukinya sarkub, sarjana kubur lantaran hobinya berziarah ke makam para wali.

Saat ditanya, Rofiq mengaku paling tidak berziarah ke tiga makam ulama dalam sehari. Ziarah sudah seperti kebutuhan pokok baginya. Pria asal Pedurungan itu menganggap bekerja hanyalah formalitas untuk memenuhi kebutuhan fisik. “Ya itukan sebagai wujud terima kasih saya atas jasa para pendahulu. Tanpa perjuangan mereka di negeri ini, kami nggak akan tahu dan belajar Islam sejauh ini,” jelasnya.  (cr1/ida) Editor : Agus AP
#top #Habib Thoha