Mahasiswa Geruduk di Kantor Perhutani Jateng, Desak Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni Dicopot

Ida Fadilah • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 18:41 WIB
Mahasiswa Unissula gelar aksi di depan Kantor Perhutani Jateng, Jumat (16/10/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Mahasiswa Unissula gelar aksi di depan Kantor Perhutani Jateng, Jumat (16/10/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kebakaran hutan di Kalimantan tak hanya berdampak pada warga setempat, tetapi juga mahasiswa perantauan di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

Sejumlah mahasiswa asal Kalimantan ikut merasakan dampaknya ketika orang tua mereka kesulitan mencari nafkah akibat kepungan asap.

Koordinator Lapangan aksi mahasiswa, Muhammad Azmi Pratama, mengatakan keterbatasan aktivitas masyarakat di daerah terdampak turut memengaruhi kondisi ekonomi keluarga mahasiswa.

Situasi itu menjadi salah satu keresahan yang mendorong mereka menggelar aksi menuntut pemerintah serius menangani kebakaran hutan.

Baca Juga: Lima Klaster Dugaan Korupsi Bupati Klaten, Pengadaan hingga Audit BPK Disorot

"Beberapa orang tua kawan-kawan kami kesulitan mencari nafkah karena keterbatasan jarak pandang dan kondisi udara yang masih terkepung asap," kata Azmi disela menggelar aksi demo di depan Kantor Perhutani Jateng, Jumat (16/10/2026).

Sebagai bentuk kepedulian, mahasiswa berencana menggalang dana untuk membantu rekan-rekan mereka yang berasal dari Kalimantan dan daerah terdampak lainnya.

Meski demikian, mahasiswa menilai bantuan tersebut tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang terus berulang.

Mereka mendesak pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional. Lebih dari itu, desakan juga untuk memperkuat upaya pencegahan.

"Kenapa tidak dicegah terlebih dahulu adanya kebakaran ini? Apalagi di Indonesia, terutama Kalimantan, dikenal sebagai paru-paru dunia," ujarnya.

Selain itu, mahasiswa meminta Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dicopot, penindakan tegas terhadap investor yang membuka lahan dengan cara membakar hutan, serta transparansi hak guna usaha (HGU) perusahaan.

Azmi juga mendukung keterlibatan pihak internasional dalam membantu penanganan karhutla yang dampaknya meluas hingga negara tetangga.

"Ketika ada negara lain yang mau membantu penyelidikan, menghilangkan asap, dan memadamkan api, itu tindakan yang bagus menurut saya," tandasnya.

Dalam aksi itu, mereka hadir mengenakan jas almamater. Para mahasiswa juga membentangkan spanduk bertuliskan "Hutan Dibakar Demi Kapitalis". Dalam aksi itu aparat kepolisian turut berjaga di lokasi. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
Unissula KARHUTLA