RADARSEMARANG.ID, Semarang - Rezza Arief Budy Artha secara resmi menakhodai Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Tengah untuk masa bakti 2026–2030.
Rezza bersama 225 pengurus wilayah lainnya dilantik langsung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat MES, Rosan Perkasa Roeslani, di Padma Hotel Semarang pada Jumat (2/10/2026). Prosesi sakral ini turut disaksikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.
Gubernur Ahmad Luthfi mendorong penuh kepengurusan MES yang baru untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai pilar utama penggerak roda perekonomian daerah. Langkah ini didukung oleh fakta demografis Jawa Tengah, di mana hampir 97 persen dari total 38 juta penduduknya beragama Islam.
Menurut Luthfi, ekosistem syariah memiliki cakupan yang sangat luas dan tidak terbatas pada sektor fesyen belaka. "Sektor-sektor potensial lain yang patut dioptimalkan meliputi industri bersertifikat halal (di mana Jateng telah menerbitkan hampir 670.000 sertifikat), wisata ramah muslim berbasis ribuan desa wisata, serta pengelolaan dana sosial Islam seperti zakat," katanya.
Menyambut visi tersebut, Ketua Umum MES Jateng, Rezza Arief Budy Artha, menegaskan pihaknya langsung tancap gas menyusun sejumlah program strategis. Salah satu program unggulan yang disiapkan adalah pendirian Koperasi Ekspor.
Program ini dirancang khusus untuk memfasilitasi para pelaku UMKM agar tidak sekadar bergantung pada pasar domestik, melainkan mampu menembus rantai pasok internasional.
“MES Jateng berkomitmen melakukan pendampingan menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas produk, pemenuhan legalitas, sertifikasi halal, standardisasi kemasan, hingga kapasitas produksi,” katanya.
Sektor pondok pesantren juga tidak luput dari perhatian MES Jateng. Guna mempersiapkan santri menghadapi era transformasi digital, MES memperkenalkan program inovatif bernama Santri Weekend dan Sunrise IT for Santri.
Melalui program ini, para santri akan dibekali keahlian teknologi digital terkini, termasuk pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI). “Harapannya, nilai-nilai luhur kepesantrenan dapat berjalan selaras dengan kapabilitas teknologi mutakhir sehingga para santri mampu membuka lapangan pekerjaan baru,” ujarnya.
Dalam mengeksekusi seluruh rencana kerja ini, MES Jateng akan mengedepankan pendekatan Pentahelix. Kerja sama ini secara aktif mengintegrasikan peran pemerintah di 35 kabupaten/kota, dunia usaha, akademisi, komunitas pesantren, ulama, hingga media massa.
Rezza menambahkan bahwa tolok ukur utama kesuksesan kepengurusannya bukan didasarkan pada kuantitas kegiatan seremonial semata, melainkan dari seberapa besar dampak dan manfaat riil yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Jawa Tengah.
Rezza menilai sertifikasi halal tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kewajiban, tetapi juga peluang untuk meningkatkan kualitas dan memperluas pasar produk.
"Ketika sebuah produk memenuhi standar halal dan memiliki kualitas yang baik, sesungguhnya pasarnya menjadi semakin luas. Ini bukan hanya berbicara mengenai pasar umat Islam, tetapi juga tentang kualitas, keamanan dan kepercayaan konsumen," ujarnya.
Editor : Miftahul A’la