Menantang Maut Demi Menit: Potret Ironi Lawan Arus di Gerbang KIW Kota Semarang 

Miftahul A’la • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 15:12 WIB
Ratusan karyawan KIW kompak melawan arus saat sore hari di jalur Pantura
Ratusan karyawan KIW kompak melawan arus saat sore hari di jalur Pantura

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Setiap pagi dan sore hari, sebuah pemandangan mengerikan sekaligus miris menjadi menu wajib di gerbang Pintu Barat Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Semarang.

Ratusan sepeda motor, yang mayoritas dikendarai oleh para buruh pabrik, bergerak serentak bak kawanan yang tak takut mati—melaju kencang melawan arus lalu lintas di jalur utama Pantura.

Bagi para pelawan arah ini, setiap detik adalah uang. Menunggu antrean di lampu merah atau berputar jauh di jalan yang semestiznya dianggap sebagai pemborosan waktu.

Mereka memilih jalan pintas, menyelinap di antara moncong truk-truk kontainer raksasa dan bus antarkota yang melaju dalam kecepatan tinggi. Suara klakson yang memekakkan telinga tak lagi dihiraukan, bahkan dianggap sebagai musik latar harian yang biasa.

Namun, efisiensi semu ini harus dibayar dengan harga yang sangat mahal: keselamatan nyawa. Wilayah persimpangan depan KIW telah lama dikenal sebagai jalur tengkorak yang sering menelan korban jiwa.

Ironisnya, alih-alih jera karena rentetan kecelakaan maut yang pernah terjadi, ego di jalan raya justru sering kali menang. Tidak jarang, gesekan fisik dan adu mulut terjadi ketika para pelanggar ini justru lebih galak menuntut jalan daripada pengendara yang berada di jalur yang benar.

Parahnya, tidak ada penindakan tegas baik dari Dinas Perhubungan maupun Satlantas Polrestabes Semarang. Fenomena ini bukan lagi sekadar masalah pelanggaran hukum, melainkan cermin dari rapuhnya budaya tertib lalu lintas demi egoisme pribadi yang mempertaruhkan nyawa sendiri dan orang lain.

Editor : Miftahul A’la
lawan arus motor KIW LALU LINTAS