RADARSEMARANG.ID, Ungaran – Warga Jabungan di RW 4 Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik sumringah. Mereka mendapat pasokan bantuan air bersih dari Polda Jateng.
Sebab, saat ini warga telah mengalami kesulitan dampak kemarau panjang selama empat hingga lima bulan terakhir. Bantuan ini tentunya mengurangi beban ekonomi warga setempat.
Ada sebanyak dua tangki air, masing-masing berkapasitas 8.000 liter, disalurkan untuk warga RW 4. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi 51 KK di RT 1, 49 KK di RT 2 dan 35 KK di RT 3.
Baca Juga: Salatiga Jadi Tuan Rumah 12 Cabor Porprov, KONI Bidik 51 Emas
Bagi sebagian warga, datangnya bantuan air bersih menjadi penolong di tengah kondisi yang semakin sulit. Namun ketika bantuan belum datang, mereka harus merogoh kocek untuk membeli air.
Bahkan, ada warga yang terpaksa memanfaatkan air sungai untuk mencuci pakaian. Hal ini dirasakan Sariah dan Kasmidah, warga RW 4 Kelurahan Jabungan.
Menurut Kasmidah, air bersih yang diterimanya dari bantuan harus benar-benar dihemat karena digunakan untuk kebutuhan dua kepala keluarga, termasuk anak dan keluarganya.
"Dipakai dua Kepala Keluarga (KK), anak dan keluarga saya. Jadi ya harus dihemat," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (24/9/2026).
Kasmidah mengaku mendapat jatah sekitar delapan galon saat distribusi bantuan. Air tersebut terutama digunakan untuk memasak dan minum.
"Ini dapat delapan galon, biasanya buat masak dan minum," katanya.
Masalahnya, bantuan tersebut belum datang setiap hari. Kasmidah menyebut distribusi air biasanya diterima sekitar seminggu sekali.
Untuk mencukupi kebutuhan harian, keluarganya harus membeli air.
"Sehari bisa lima galon. Belinya Rp 3.000 per galon. Kalau dikali lima ya Rp 15 ribu," ujarnya.
Kasmidah mengatakan kondisi kekeringan sudah berlangsung cukup lama. Dampaknya, sumur yang sebelumnya menjadi sumber air untuk kebutuhan rumah tangga kini tidak lagi bisa diandalkan.
Baca Juga: Sprindik Baru Terbit, 874 Barang Bukti Kasus Fadia Arafiq Ditahan KPK, Siapa Tersangka Selanjutnya?
"Sudah lama kekeringan, sejak empat sampai lima bulan. Jadi, ya terpaksa beli. Sumur padakering ," jelasnya.
Perempuan paruh baya ini berharap bantuan air bersih dapat diberikan secara lebih lancar sehingga warga tidak terus-menerus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Harapannya bantuan lancar," katanya.
Warga lainnya, Sariah, juga mengaku sangat terbantu setiap kali distribusi air bersih datang. Baginya, air bantuan bukan sekadar tambahan, melainkan menjadi penopang kebutuhan dasar keluarganya.
"Sehari butuh dua galon, untuk minum dan memasak. Jadi ya diirit-irit," katanya.
Sementara untuk mencuci pakaian, Sariah bersama sejumlah warga lainnya memilih memanfaatkan air sungai. Keterbatasan air bersih membuat kebutuhan rumah tangga harus dipisahkan berdasarkan sumber air yang tersedia.
"Kalau cuci pakaian di sungai. Kalau gak ada air bersih ya beli," jelasnya.
Sariah berharap bantuan air bersih terus mengalir selama musim kemarau belum berakhir. Sebab, tanpa bantuan, warga harus kembali mengeluarkan uang untuk membeli air atau mencari sumber air alternatif.
Ketua RW 4 Jabungan, Solihin, mengatakan sumur warga yang rata-rata memiliki kedalaman sekitar sembilan meter tak lagi mampu menyediakan air saat musim kemarau.
"Mulai tidak ada hujan itu pasti kering. Kurang lebih empat atau lima bulan yang silam," katanya.
Di wilayah tersebut terdapat sekitar 140 kepala keluarga (KK). Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga selama ini mengandalkan bantuan air bersih dari berbagai pihak, mulai dari TNI, Polsek, Polres, Polda Jateng hingga PMI.
"Kadang dari Polri, mulai dari Polsek, PMI, Polres, Polda. Kebanyakan dari Polri sama TNI," katanya.
Namun, bantuan yang datang belum sepenuhnya mampu mencukupi kebutuhan warga. Solihin menyebut, ketika bantuan belum tersedia, warga harus membeli air sendiri. Sebagian lainnya memilih mengambil air dari sungai untuk kebutuhan tertentu.
"Kalau tidak ada bantuan, kebanyakan ada yang beli dan ada yang ke sungai," jelasnya.
Dua tangki air bersih yang baru diterima warga pun disambut dengan rasa syukur. Meski demikian, jumlah tersebut dinilai masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga.
"Alhamdulillah dibantu, tapi tetap kurang," ujarnya.
Lurah Jabungan Chasani mengatakan kondisi tersebut hampir selalu terjadi ketika musim kemarau berlangsung, dan sumur-sumur warga yang menjadi sumber utama kebutuhan sehari-hari tidak lagi mampu menyediakan air.
"Untuk khusus tiga RW, di RW 3, 4, dan 5 itu setiap tahunnya memang terjadi kekurangan air. Kalau musim kering seperti ini, sumur warga langsung kering," katanya.
Menurut Chasani, terdapat sekira dua ribu kepala keluarga (KK) yang tinggal di tiga wilayah tersebut. Menurutnya, selama ini, distribusi air dilakukan Pemkot Semarang bersama sejumlah lembaga, seperti PMI, BPBD, Baznas, serta berbagai instansi yang menggelar kegiatan bakti sosial.
"Bantuan droping air memang menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan warga dalam jangka pendek. Namun, persoalan kekeringan yang berulang setiap tahun membutuhkan penanganan yang lebih permanen," jelasnya.
Chasani menyebut, salah satu solusi yang diharapkan adalah perluasan jaringan air perpipaan. Menurutnya juga, selama ini jaringan PDAM belum menjangkau tiga RW, yang kerap mengalami kekurangan air tersebut.
"Harapan itu mulai mendapat titik terang dengan adanya pembangunan jaringan baru melalui program Kementerian PUPR. Terdapat sekitar 225 titik sambungan baru yang direncanakan untuk melayani warga di tiga RW tersebut," katanya.
"Keberadaan jaringan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan warga terhadap sumur dan bantuan droping air setiap kali musim kemarau," pungkasnya.
Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Pol Yulianto mengatakan, kegiatan ini merupakan bakti sosial dilakukan para wartawan mitra Polda Jawa Tengah yang turun langsung ke tengah masyarakat untuk membantu warga yang terdampak kekeringan.
"Selama ini rekan-rekan wartawan membantu menyampaikan berbagai informasi kepada masyarakat. Hari ini kepedulian itu diwujudkan dalam bentuk yang berbeda. Bersama Bidhumas Polda Jateng rekan-rekan wartawan turun langsung untuk membantu warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih," bebernya.
Pihaknya menambahkan, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa hubungan kemitraan antara media dan Polda Jateng tidak hanya dibangun dalam konteks penyampaian informasi, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial.
"Ada kepedulian dan semangat gotong royong yang ingin kita bangun. Ketika masyarakat membutuhkan, kita berusaha hadir bersama-sama dan memberikan apa yang bisa kita lakukan," katanya. (mha)
Editor : Baskoro Septiadi