Dian Kartika Menyaksikan Langkah Kecil Anak-Anak Bertumbuh di Rumah Anak SIGAP

Khafifah Arini Putri • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 12:28 WIB
Fasilitator Rumah Anak SIGAP Kota Semarang Dian Kartika (kiri), sedang melatih stimulasi pada anak didampingi para orang tua.
Fasilitator Rumah Anak SIGAP Kota Semarang Dian Kartika (kiri), sedang melatih stimulasi pada anak didampingi para orang tua.

 

RADARSEMARANG.ID - Tangis sering menjadi tanda pertemuan pertama di Rumah Anak SIGAP Kota Semarang. Anak-anak berusia satu hingga dua tahun datang sambil memeluk erat ibunya. Sebagian memilih bersembunyi di balik tubuh orang tuanya. Ada pula yang enggan mendekati teman sebaya karena belum terbiasa bermain di luar rumah.

Pemandangan itu bukan hal baru bagi Dian Kartika. Selama tiga tahun menjadi fasilitator Rumah Anak SIGAP, ia sudah berkali-kali menyaksikan perubahan serupa. Anak yang awalnya hanya menangis perlahan mulai berani menyapa, bermain, hingga tertawa bersama teman-temannya.

“Ada yang pertama kali datang nangis, ngumpet, enggak mau bergaul dengan teman-temannya. Namun, setelah dua atau tiga pertemuan, dia sudah terbiasa dan mau beradaptasi. Itu juga karena faktor lingkungan, sebab sebelumnya dia tidak pernah diajak keluar rumah,” ujar Dian saat ditemui di Rumah Anak SIGAP Kota Semarang.

Perubahan kecil itulah yang membuat Dian bertahan mendampingi para orang tua di Rumah Anak SIGAP, program penguatan pengasuhan anak usia dini yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Semarang bersama Tanoto Foundation. Di tempat itu, ia mendampingi Kelas Bintang Pijar untuk anak usia 12 hingga 24 bulan.

Bagi Dian, bukan hanya anak-anak yang belajar, tetapi juga orang tua. Setiap pekan, mereka diajak memahami bahwa bermain bukan sekadar hiburan, melainkan cara paling sederhana untuk menstimulasi tumbuh kembang anak.

“Untuk stimulasi pertumbuhan anak, ada Kelas Bermain Bersama atau KBB. Biasanya, pada Rabu pertama ada kelas tematik tentang cara pengasuhan yang baik. Materinya kami sampaikan. Setelah itu, para ibu berbagi pengalaman,” bebernya.

Menurut Dian, perubahan anak hampir selalu diawali dengan perubahan orang tua. Ia masih menjumpai ayah maupun ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan telepon genggam daripada bermain bersama anak.

“Pengasuhan yang baik bagi anak itu penting sekali karena selama ini orang tua biasanya cuek, tidak mau bermain bersama anaknya, dan lebih fokus pada HP. Di Rumah Anak SIGAP, kami diajarkan untuk bermain bersama anak, baik bersama ibu maupun bapaknya. Jadi, ada kedekatan antara anak dan orang tua,” imbuhnya.

Selain melatih kemampuan motorik dan mengenal warna, Dian juga mengajarkan orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka. Pertanyaan sederhana seperti “Adik mau apa?” dinilai mampu mendorong anak berbicara lebih banyak dibandingkan dengan pertanyaan yang hanya dapat dijawab dengan “iya” atau “tidak”.

Jika selama pendampingan ditemukan perkembangan anak yang belum sesuai dengan usianya, fasilitator akan memberikan pendampingan individu sebelum merujuk anak ke puskesmas apabila diperlukan. Dengan demikian, keterlambatan perkembangan dapat diketahui lebih dini.

“Kami fokus pada stimulasi. Nanti, Bu Itis, Koordinator Rumah Anak SIGAP Kota Semarang, melakukan pendampingan individu. Kalau anak tersebut masih belum mampu, kami merujuknya ke puskesmas,” ujarnya.

Menariknya, ilmu yang ia bagikan kepada para peserta justru lebih dahulu mengubah dirinya sendiri. Sejak terpilih menjadi fasilitator pada Agustus 2023, Dian mengaku belajar kembali menjadi orang tua.

“Dulu tidak ada kelas pengasuhan seperti ini. Kami mungkin melakukan kesalahan terhadap anak-anak kami. Sekarang, saya merasa bersalah sekali kepada anak saya. Di sini, kami mendapatkan ilmu dan belajar bersama antara ibu peserta dan fasilitator,” ungkapnya.

Perubahan itu dirasakan langsung oleh anak-anaknya di rumah. Dian yang dahulu terbiasa berbicara dengan nada tinggi kini memilih menyampaikan pesan dengan lebih tenang.

“Setelah pertama kali mendapatkan pelajaran dari Rumah Anak SIGAP, sesampainya di rumah saya berbicara dengan pelan. Anak saya sampai kaget. Biasanya, kalau memanggil, saya teriak-teriak. Sekarang tidak bisa begitu lagi karena saya harus mempraktikkannya pada diri sendiri sebelum memberikan stimulasi kepada orang tua lain,” katanya.

Bagi Dian, kebahagiaan terbesar bukan ketika dirinya disebut sebagai fasilitator, melainkan saat melihat anak-anak yang dahulu pemalu kini berani bermain, berbicara, dan berinteraksi dengan teman-temannya. Perubahan kecil itulah yang membuatnya bertahan mendampingi keluarga-keluarga muda di Rumah Anak SIGAP selama tiga tahun terakhir.

“Ya, senang. Biasanya, mereka tidak mau terbuka dan merasa malu. Namun, di sini kami mengajarkan mereka untuk terbuka,” pungkasnya.

Melihat anak-anak tumbuh menjadi lebih percaya diri memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Dian. Meski tidak berlatar belakang pendidikan tinggi, ia merasa bangga karena dipercaya mendampingi keluarga-keluarga muda di lingkungannya.

Pada akhir perbincangan, Dian berpesan agar pengasuhan dimulai sejak masa kehamilan. Orang tua juga diminta untuk terus belajar dan tidak ragu berkonsultasi apabila menemukan keterlambatan perkembangan anak.

“Pesan saya, anak harus diperhatikan sejak masih dalam kandungan. Kita juga harus lebih waspada terhadap perkembangan anak. Kalau anak kita belum mampu melakukan sesuatu sesuai usianya, segera konsultasikan ke puskesmas. Orang tua juga sekarang bisa belajar lebih banyak karena sudah banyak kanal untuk mencari dan mendapatkan informasi. Jadi, jangan berhenti belajar,” pesannya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
KOTA SEMARANG masa kehamilan stimulasi rumah anak sigap tanoto foundation