Ambruk! Bitcoin dan Pasar Kripto Tak Tahan Hantaman Isu Geopolitik

Tasropi • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 09:50 WIB
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perusahaan tradisional di Asia Tenggara menunjukkan minat serius terhadap aset kripto dan teknologi blockchain.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perusahaan tradisional di Asia Tenggara menunjukkan minat serius terhadap aset kripto dan teknologi blockchain.

 

RADARSEMARANG.ID, Pasar kripto kembali mengalami tekanan berat. Bitcoin (BTC) dan mayoritas aset kripto utama mencatat penurunan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, terpicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik global, khususnya di Timur Tengah.

Menurut data terkini, Bitcoin sempat turun ke kisaran $61.750 pada pertengahan Juli 2026 sebelum berusaha rebound mendekati $63.000–$65.000.

Penurunan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya risiko geopolitik yang memicu risk-off sentiment di pasar keuangan global. 

Baca Juga: Loyo! Gejolak Pasar Kripto Belum Menunjukkan Performa Terbaiknya, Meski Bitcoin Sempat Tembus 65 Ribu Dollar

Penyebab Utama: Geopolitik Membebani Risk Asset

Ketegangan antara AS dan Iran, termasuk isu Selat Hormuz yang mengganggu pasokan minyak global, menjadi pemicu utama.

Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi kembali mendorong investor keluar dari aset berisiko tinggi seperti kripto dan saham teknologi.

Baca Juga: Jawa Tengah Jajaki Kerja Sama dengan Iran, Gubernur Ahmad Luthfi Bidik Transfer Teknologi dan Investasi

Analis mencatat bahwa konflik di kawasan tersebut telah memicu penjualan massal.

"Rising tensions between the U.S. and Iran have pushed oil prices higher, reignited inflation concerns and reduced expectations for near-term rate cuts, prompting investors to trim exposure to risk assets," jelas seorang analis pasar yang dikutip Forbes. 

Penelitian akademis juga mendukung pola ini. Beberapa studi menunjukkan bahwa dalam kondisi bearish atau ketidakpastian tinggi, Bitcoin dan altcoin cenderung bereaksi negatif terhadap eskalasi risiko geopolitik (Geopolitical Risk/GPR), meski pada kondisi tertentu BTC bisa menunjukkan sifat hedge parsial. 

Respons Pasar dan Analisis Pakar

Bitcoin turun sekitar 4% dalam satu sesi di pertengahan Juli, dengan likuidasi posisi leverage yang memperburuk penurunan.

Altcoin seperti Ethereum (ETH), Solana (SOL), dan lainnya mengalami penurunan lebih dalam, mencerminkan sentimen risk aversion yang luas.

Total kapitalisasi pasar kripto turut tertekan, dengan outflow dari ETF Bitcoin dan penurunan minat investor ritel.

Baca Juga: Coca-Cola Europacific Partners Latih UMKM Ritel Naik Kelas

Pakar pasar kripto menekankan bahwa Bitcoin belum sepenuhnya berfungsi sebagai safe haven di tengah gejolak geopolitik ekstrem.

Nicholas Motz, CEO ORQO, menyatakan bahwa meski Bitcoin bisa menjadi hedge terhadap devaluasi fiat jangka panjang, ia tetap sensitif terhadap tekanan makro seperti dolar yang menguat dan yield obligasi yang naik akibat ketegangan geopolitik. 

Analis lain menambahkan bahwa kombinasi faktor makro (inflasi, suku bunga, dan harga energi) serta geopolitik saat ini menciptakan "perfect storm" bagi aset spekulatif.

Prospek ke Depan

Meski mengalami tekanan jangka pendek, beberapa analis tetap optimistis terhadap fundamental Bitcoin jangka menengah, terutama jika ada kemajuan regulasi seperti Digital Asset Market Clarity Act di AS dan adopsi institusional yang terus berlanjut.

Namun, risiko tetap tinggi. Eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah atau perubahan kebijakan moneter Federal Reserve bisa memicu volatilitas tambahan.

Peristiwa terkini membuktikan kembali bahwa pasar kripto, meski semakin matang, masih sangat rentan terhadap sentimen geopolitik global.

Investor disarankan untuk tetap waspada, diversifikasi portofolio, dan mengikuti perkembangan makro secara cermat.(tas)

Editor : Tasropi
pasar kripto aset kripto selat hormuz ETF Bitcoin