Ndangak Lagi! Akankah Bitcoin Kembali Bangkit dari Bear Market Setelah Tembus Harga 65 Ribu Dollar?

Tasropi • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 09:47 WIB
Ndangak Lagi! Akankah Bitcoin Kembali Bangkit dari Bear Market Setelah Tembus Harga 65 Ribu Dollar? (Coingecko)
Ndangak Lagi! Akankah Bitcoin Kembali Bangkit dari Bear Market Setelah Tembus Harga 65 Ribu Dollar? (Coingecko)

 

RADARSEMARANG.ID, Bitcoin kembali menembus level US$65.000 pada Senin (21/7/2026), memicu optimisme di kalangan investor kripto.

Lonjakan ini terjadi seiring arus masuk (inflow) Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat yang mulai positif untuk dua pekan berturut-turut. 

Namun, apakah ini pertanda masa sulit sudah berlalu, atau hanya rebound sementara?

Baca Juga: Gaspol Ndangak! Bitcoin Bangkit Setelah Berhari-hari Dihajar Pasar, Apakah Tren Bullish Akan Terjadi?

ETF Bitcoin Catat Inflow Positif Lagi

Menurut data SoSoValue, ETF Bitcoin spot AS berhasil menarik dana sebesar US$75,7 juta pekan lalu. 

Angka ini menjadi inflow kedua secara berturut-turut setelah pekan sebelumnya mencatat inflow US$197,4 juta.

Meski terlihat positif, pemulihan ini masih jauh dari kata “kembali kuat”. Total inflow sejak awal Juli baru mencapai US$273,1 juta — hanya sekitar 3,3% dari total outflow sebesar US$8,2 miliar dalam delapan minggu sebelumnya.

Baca Juga: Bitcoin Pulih Paska Perdagangan ETF Hongkong dan Penetapan Suku Bunga oleh The Fed

Bahkan, Juni 2026 tercatat sebagai bulan terburuk sepanjang sejarah ETF Bitcoin dengan outflow mencapai US$4,5 miliar, melampaui rekor sebelumnya di Februari 2025 (US$3,56 miliar). Hampir 79% dari outflow Juni berasal dari BlackRock’s iShares Bitcoin Trust (IBIT).

Harga Bitcoin Saat Ini dan Faktor PendorongHarga Bitcoin (BTC) saat ini berada di kisaran US$65.261, naik sekitar 1,4% dalam 24 jam terakhir dan 5,2% dalam satu minggu.

Pemulihan harga ini juga didukung harapan baru pembicaraan antara AS dan Iran yang bisa meredakan ketegangan geopolitik.

Namun, pergerakan masih sangat fluktuatif. 

Pada Senin lalu sempat terjadi outflow harian sebesar US$424,7 juta — yang terbesar sejak 26 Juni — akibat memanasnya situasi militer AS-Iran. Untungnya, pembeli kembali masuk dalam empat sesi perdagangan berikutnya.

Baca Juga: Awan Panas Erupsi Merapi Masih Fluktuatif

Total aset yang dikelola ETF Bitcoin spot AS saat ini berada di kisaran US$77 miliar, turun jauh dari puncak lebih dari US$104 miliar pada pertengahan Mei.

Analis Berbeda Pandangan soal Masa Depan Bitcoin

Eric Balchunas, analis ETF senior Bloomberg Intelligence, melihat prospek jangka panjang Bitcoin mirip dengan ETF emas. Ia menjadikan GLD (ETF emas pertama di AS) sebagai acuan.

Meski sempat anjlok dari US$76 miliar menjadi US$22 miliar, kini aset GLD telah pulih hingga hampir US$190 miliar.

Menurut Balchunas, ETF Bitcoin kemungkinan akan mengikuti pola serupa: kenaikan spektakuler, koreksi tajam, lalu pemulihan yang menguji kesabaran investor — dua langkah maju, satu langkah mundur.

Baca Juga: Jateng Makin Dilirik Investor, Peternakan Sapi Perah Senilai Rp1,2 Triliun Mulai Dibangun

Di sisi lain, Citigroup justru lebih pesimis. Pada 1 Juli lalu, Citi memangkas target harga Bitcoin 12 bulan dari US$112.000 menjadi US$82.000. Ini adalah pemangkasan kedua dalam setahun.

Bank tersebut juga memperkirakan tidak akan ada inflow signifikan dalam setahun ke depan karena regulasi kripto yang masih rumit di AS dan lemahnya permintaan institusional.

Sementara itu, CEO BlackRock Larry Fink menyatakan bahwa fase “washout” sudah berlalu dan arus dana positif mulai kembali.

Rebound atau Hanya Sementara?

Bitcoin memang sedang berusaha bangkit setelah outflow besar-besaran, tapi lubang yang harus ditambal masih sangat dalam. 
Pergerakan mingguan ETF akan terus menjadi sorotan utama investor. 

Namun, seperti sejarah ETF emas, siklus Bitcoin kemungkinan besar ditentukan oleh tren jangka panjang, bukan hanya data tujuh hari.(tas)

Editor : Tasropi
regulasi kripto CEO BlackRock ketegangan geopolitik ETF Bitcoin investor kripto