Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pengasuhan Setara Dimulai Sejak Awal Kehamilan, Aldan Aktif Dampingi Istri, Belajar Asupan Gizi hingga Risiko Stunting

Khafifah Arini Putri • Senin, 29 Juni 2026 | 18:38 WIB
Peserta Kelas Bapake Mamake, Aldan dan Wahidah sedang berbincang tentang risiko kehamilan pada ibu.
Peserta Kelas Bapake Mamake, Aldan dan Wahidah sedang berbincang tentang risiko kehamilan pada ibu.

 

RADARSEMARANG.ID, Banyumas - Tangan Aldan Niko bergerak perlahan memijat punggung sang istri, Wahidah. Sesekali ia memperhatikan instruksi petugas kesehatan yang berdiri di depan ruangan. Di sekelilingnya, puluhan pasangan suami istri melakukan hal serupa. Mereka sedang mempraktikkan pijat oksitosin.

Suasana Balai Desa Pasinggangan, Kabupaten Banyumas, pagi itu pun terasa hangat. Tawa para peserta sesekali pecah ketika para bapak terlihat masih kikuk mempraktikkan pijatan yang benar. Namun, tak ada yang malu. Semua sedang belajar menjadi orang tua, bahkan sebelum bayi mereka lahir.

Bagi Aldan, kelas itu bukan sekadar memenuhi undangan Posyandu. Ia pulang dari Jakarta karena kebetulan sedang cuti kerja, lalu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendampingi istrinya mengikuti Kelas Bapake Mamake, sebuah inovasi Pemerintah Kabupaten Banyumas yang mengajak suami terlibat aktif menjaga kesehatan ibu hamil.

Selama ini, kelas ibu hamil lebih banyak diikuti perempuan. Namun, melalui Kelas Bapake Mamake, para calon ayah justru ditempatkan sebagai bagian penting dalam mencegah stunting sejak awal kehidupan. Mereka diajak memahami perubahan fisik dan psikologis ibu hamil, mengenali tanda bahaya kehamilan, memenuhi kebutuhan gizi, hingga membangun pola pengasuhan yang setara sejak bayi masih berada di dalam kandungan.

Program tersebut juga selaras dengan upaya percepatan penurunan stunting 2.0 yang dijalankan Tanoto Foundation bersama mitra implementasi Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dan Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui pendekatan perubahan perilaku dan pendampingan keluarga.

Aldan mengaku bersyukur bisa mengikuti Kelas Bapake Mamake. Sebab, pengetahuannya tentang kehamilan sebelumnya sangat terbatas. Ia awalnya tidak banyak mengetahui isi Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Selama ini, ia hanya mengantar istrinya kontrol sesuai jadwal yang diberikan bidan. Namun, setelah mengikuti kelas, pandangannya berubah. Ia mendapatkan banyak pemahaman baru.

“Bagus ya Kelas Bapake Mamake. Jadi, kami para suami yang sebelumnya bahkan tidak pernah membaca buku KIA, sekarang jadi mau membaca dan memahami isinya,” ungkap Aldan.

Bagi pria berusia 30 tahun itu, informasi yang disampaikan di Kelas Bapake Mamake jauh lebih mudah dipahami. Sebab, materi disampaikan dengan bahasa sederhana, permainan, serta praktik langsung. Para peserta tidak hanya duduk mendengarkan materi, tetapi juga diajak berdiskusi dan mempraktikkan bagaimana menjadi pendamping yang baik bagi ibu hamil.

Materi yang paling membekas bagi Aldan adalah mengenali tanda bahaya kehamilan. Sebab, pengalaman itu pernah benar-benar ia alami.

Suatu hari, istrinya mengalami bercak darah. Sebagai calon ayah yang baru pertama kali menghadapi kehamilan, Aldan langsung diliputi rasa panik. Tanpa berpikir panjang, ia membawa Wahidah ke bidan sebelum akhirnya dirujuk menjalani pemeriksaan USG di rumah sakit.

Syukurlah, hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada kondisi berbahaya. Bercak tersebut muncul karena kelelahan setelah beraktivitas saat Lebaran. Pengalaman itu membuat Aldan semakin sadar pentingnya pengetahuan yang benar.

“Di kelas, kami diajari mengenali tanda bahaya kehamilan hingga nanti bayi lahir. Jadi, kalau ada tanda bahaya, kami tidak langsung panik karena sudah tahu apa yang harus dilakukan,” bebernya.

Kini, ia tidak lagi mudah panik ketika melihat perubahan pada tubuh istrinya. Sebaliknya, ia belajar membedakan mana kondisi yang masih normal dan mana yang membutuhkan pertolongan medis.

Misalnya, saat Wahidah mengeluh nyeri pinggang atau kaki pegal, Aldan sudah mulai mempraktikkan pijatan ringan. Setelah mengikuti Kelas Bapake Mamake, ia semakin memahami tekniknya. Bukan sekadar memijat, tetapi juga menciptakan suasana nyaman agar istrinya tetap tenang dan berpikir positif selama menjalani kehamilan.

Perhatian Aldan tidak berhenti di situ. Ia bahkan hafal bahwa istrinya harus mengonsumsi satu tablet tambah darah setiap hari. Pengetahuan itu bukan diperoleh hanya dari membaca buku, melainkan karena ia selalu menemani setiap kali kontrol ke bidan. Dari sana, ia mendengar langsung penjelasan tenaga kesehatan, lalu mengingatkannya kembali kepada sang istri di rumah.

“Karena sering mengantar istri periksa ke bidan, saya juga mendengarkan penjelasan bidan. Jadi, sebagai suami, kami juga harus ikut mempraktikkan di rumah. Kadang-kadang ibu hamil lupa minum tablet tambah darah, jadi perlu diingatkan,” akunya.

Saat obat tambah darah yang diberikan bidan ternyata menimbulkan alergi, Aldan juga ikut mencari solusi. Ia membantu mencarikan merek lain yang lebih cocok agar kebutuhan zat besi istrinya tetap terpenuhi. Ia memahami bahwa mencukupi nutrisi ibu hamil bukan sekadar menjaga kesehatan ibu, tetapi juga bagian dari upaya menjaga tumbuh kembang janin.

Ketua TP PKK Desa Pasinggangan Kartikawati (kanan) memberikan telur sebagai asupan gizi tambahan bagi ibu hamil pada Kelas Bapake Mamake di Banyumas.
Ketua TP PKK Desa Pasinggangan Kartikawati (kanan) memberikan telur sebagai asupan gizi tambahan bagi ibu hamil pada Kelas Bapake Mamake di Banyumas.

 

Pada trimester pertama, ketika Wahidah sulit makan karena mual, Aldan berusaha mencari berbagai cara agar kebutuhan protein tetap masuk ke tubuh istrinya. Ia mencoba mengolah makanan menjadi bentuk yang lebih disukai, sembari mengurangi makanan instan yang kurang bergizi.

“Wahidah harus menambah asupan protein. Awalnya, ia tidak suka hati ayam atau daging ayam. Jadi, ketika tidak suka, saya carikan olahan lain yang tetap mengandung protein, misalnya olahan hati atau makanan berbahan ayam yang kira-kira disukai ibu,” ujarnya.

Bagi Aldan, pendampingan suami bukan hanya hadir saat pemeriksaan kehamilan, tetapi juga memastikan kebutuhan kecil sehari-hari terpenuhi. Mulai dari mengingatkan minum vitamin, memilih makanan bergizi, menemani kontrol, hingga menenangkan istri ketika rasa cemas datang.

Melalui Kelas Bapake Mamake, para suami diajarkan bahwa pengasuhan setara dimulai sejak masa kehamilan. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga aktor penting dalam memastikan kesehatan ibu dan janin.

Aldan mengaku banyak belajar dari kegiatan ini. Ia menjadi lebih memahami posisinya sebagai suami, bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendamping istri dan bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak.

“Acaranya menyenangkan, tidak tegang. Banyak permainannya juga, jadi kami bisa saling mengenal satu sama lain,” ungkapnya.

Perhatian itu sangat dirasakan Wahidah. Perempuan berusia 30 tahun itu merasakan peran suami sangat penting selama masa kehamilan. Selama tinggal di Jakarta, pasangan muda itu menjalani kehamilan tanpa didampingi keluarga besar. Kondisi tersebut membuat kehadiran suami menjadi tempat bersandar yang paling utama.

“Soalnya kalau tidak ada suami, saya merasa ada yang kurang. Apalagi di Jakarta tidak ada keluarga,” ujar Wahidah.

Kini, menjelang persalinan, Wahidah memilih pulang ke Banyumas. Selain lebih dekat dengan keluarga, ia juga merasakan kuatnya dukungan kader Posyandu di Desa Pasinggangan.

Para kader tidak pernah bosan mengingatkan jadwal Posyandu maupun kegiatan Kelas Bapake Mamake. Bahkan ketika ia terlambat hadir, pesan pengingat dikirim tidak hanya kepadanya, tetapi juga kepada suami dan anggota keluarga lainnya.

“Iya, kadang kalau ada kegiatan, kader menghubungi lewat WhatsApp. Kalau saya terlambat datang pun, kader aktif mengirim pesan langsung ke saya, bahkan ke suami dan keluarga. Jadi, kader-kader di sini sangat mendukung,” katanya.

Kisah Aldan dan Wahidah menunjukkan bahwa pengasuhan setara tidak dimulai ketika bayi lahir. Peran seorang ayah justru dimulai sejak dua garis merah muncul di alat tes kehamilan.

Saat suami memahami kebutuhan gizi ibu, mengenali tanda bahaya kehamilan, ikut menenangkan kecemasan, hingga rela belajar memijat agar istrinya lebih nyaman, sesungguhnya ia sedang membangun fondasi kesehatan bagi seribu hari pertama kehidupan anaknya.

Di Balai Desa Pasinggangan, pelajaran itu dimulai dari hal-hal sederhana. Namun, dampaknya bisa bertahan seumur hidup. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#kelas bapake mamake #pengasuhan setara #pola pengasuhan #kabupaten banyumas #tanoto foundation