RADARSEMARANG.ID, Foto dan video Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang menginjak kepala kerbau saat mengikuti prosesi pemberian gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" di Kedaton Keagungan Lampung, Sabtu (27/6/2026), menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Prosesi tersebut merupakan bagian dari rangkaian upacara adat yang dianugerahkan oleh lima kerajaan adat Lampung.
Politikus PDI Perjuangan Guntur Romli mengkritik momen tersebut.
Baca Juga: Momentum 10 Muharam, 121 Anak Yatim Piatu Terima Bantuan Pemenuhan Hidup Layak
Ia menilai tindakan menginjak kepala hewan kurban tidak mencerminkan penghormatan yang semestinya. Menurut Guntur, hewan kurban dalam tradisi adat seharusnya diperlakukan dengan penuh hormat.
Ia juga menafsirkan pose tersebut secara politis, menyebut kepala kerbau melambangkan pendukung Jokowi dan PSI yang "terbuai perilaku raja", sementara di baliknya terdapat ambisi kekuasaan keluarga.
Guntur mempersilakan masyarakat menilai apakah itu bagian ritual atau simbol kesombongan.
Di sisi lain, budayawan dan sumber adat Lampung menjelaskan makna simbolis prosesi tersebut.
Menginjak kepala kerbau bukanlah bentuk penghinaan, melainkan simbol penyucian diri: meninggalkan sifat-sifat buruk seperti kesombongan, amarah, dan iri hati agar memasuki fase baru dengan hati yang bersih.
Kepala dan tanduk kerbau sendiri melambangkan kekuatan, kemakmuran, serta penghormatan kepada leluhur.
Prosesi ini umum dilakukan dalam penganugerahan gelar kehormatan bagi tokoh yang dihormati.
Sekjen Projo Freddy Alex Damanik menegaskan bahwa acara tersebut murni tradisi adat dan bukan agenda politik. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi langsung dari Jokowi atau panitia penyelenggara mengenai interpretasi prosesi tersebut.
Perdebatan ini mencerminkan bagaimana ritual adat sering kali diinterpretasikan berbeda di era media sosial, antara makna budaya tradisional dan perspektif politik kontemporer. (tas)