Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Dari Review Lebay Sampai Hoaks Viral, Ini Dampak Miss Leading Buat Dunia Usaha

Adennyar Wicaksono • Kamis, 4 Juni 2026 | 16:16 WIB
Ilustrasi konten yang tidak sesuai fakta dan merugikan pelaku UMKM
Ilustrasi konten yang tidak sesuai fakta dan merugikan pelaku UMKM

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Keberadaan influencer jadi senjata promosi pariwisata yang efektif, tapi juga bisa jadi bumerang jika kontennya tidak sesuai fakta. Hal ini beberapa pelaku usaha pariwisata.

Di dunia serba digital sekarang, informasi beredar dengan cepat oleh influencer baik yang profesinya maupun netizen yang mengejar viral. Namun menjadi fatal jika terjadi miss informasi atau miss leading pesan yang disampaikan.

Peran penting influencer dalam mempercepat arus informasi diakui oleh Sherly Tamoly, Event Manager Hotel Rooms Inc Semarang. Menurut Sherly, konten lifestyle dari influencer memang membantu mengerek okupansi dan menghidupkan pariwisata Kota Semarang. 

Namun di sisi lain, banyak kreator yang membuat narasi “miss leading” sehingga menimbulkan miskomunikasi dengan calon tamu.

Sherly mencontohkan konten review fasilitas kamar hotel. Ada influencer yang datang untuk review maupun menginap dengan biaya sendiri, tapi prolognya terlalu dilebih-lebihkan.

“Namanya juga influencer sekarang banyak sekali. Apakah memang sesuai ahlinya atau ikut-ikutan ngonten. Tapi disayangkan jika miss leading,” ujar Sherly.

Ia menyebut ukuran room, kualitas tempat tidur, dan fasilitas lain sudah sesuai standar manajemen. Tapi narasi over act dari influencer membuat netizen ikut berkomentar berlebihan dan menimbulkan ekspektasi yang tidak tepat.

Dampak miss leading paling merugikan terjadi saat progres pembangunan DP Mall yang terintegrasi dengan Hotel Rooms Inc Semarang.

“Ada satu konten tentang pembangunan DP Mall yang menyebabkan beberapa tamu membatalkan reservasi. Mungkin mengira hotel tutup, parkir susah, dan lainnya. Padahal operasional hotel tetap berjalan normal,” jelas Sherly.

Contoh lain terjadi di destinasi wisata heritage Lawang Sewu. Pada 16 Mei 2026, konten viral di Instagram menyebut pengelola Lawang Sewu “anti kucing” dan akan membuang kucing liar serta memecat petugas yang memberi makan.

PT Kereta Api Pariwisata KAI Wisata langsung meluruskan. Manager of Asset Operation Moedji Setiono menegaskan tidak ada kebijakan pembuangan kucing maupun pemecatan petugas.

“Kucing di Lawang Sewu bukan sekadar hewan liar. Mereka bagian dari ekosistem kawasan dan memberi nuansa hangat bagi pengunjung. Bahkan jadi alasan khusus sebagian wisatawan datang,” kata Moedji dalam pertemuan dengan komunitas Cat Lovers Semarang, 17 Mei 2026.

Sebagai tindak lanjut, Lawang Sewu dan komunitas sepakat menggelar edukasi perawatan kucing dan kontes kucing. Tujuannya menjaga kesejahteraan hewan sekaligus kelestarian bangunan heritage.

Sherly menyarankan influencer membuat konten sesuai keahlian dan passion.

“Sehingga influencer menguasai materi dan product knowledge. Penyampaian jadi tidak miss leading atau bernada negatif ke follower,” katanya.

Pengelola Lawang Sewu juga membuka ruang komunikasi dengan komunitas dan masyarakat luas agar kawasan tetap ramah hewan, nyaman bagi pengunjung, dan nilai sejarahnya terjaga.

"Intinya komunikasi dan keterbukaan jadi fakta informasi bisa tersampaikan oleh influencer sefaktual mungkin, sehingga masyarakat tidak berasumsi liar terhadap pesannya," kaya Moedji.

Andy Sigit Prabowo, Ketua Genpi Kota Semarang dan juga Pengusaha bidang pariwisata tour travel dan umroh mengaku terbantu dengan influencer yang menginformasikan melalui beberpa platform medsos seperti YouTube, Instagram, X hingga TikTok.

Namun, dalam catatannya, ia berharap para influencer harus lebih obyektif ketika memberi komentar saat review apapun itu konten yang disampaikannya.

"Karena ketika narasi nya tidak sesuai, bisa disalahartikannya oleh audience atau followers nya. Jangan sampai konten nya merugikan pihak yang lain. Apalagi terkait dengan pekerjaan orang banyak. Baik dibayar ataupun tidak seharusnya semangat nya untuk membantu dan membangun apapun itu industri nya baik fnb, destinasi wisata, ekfraf dll," katanya.***

Editor : Baskoro Septiadi
#influecer #PARIWISATA #VIRAL