Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Bulusan Edupark Olah Satu Ton Sampah Organik Tiap Bulan, Menteri Jumhur Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Kearifan Lokal

Khafifah Arini Putri • Selasa, 2 Juni 2026 | 14:24 WIB
Menteri Lingkungan Hidup (LH) RI Mohammad Jumhur Hidayat melakukan kunjungan kerja di Bulusan Edupark, Selasa (2/6).
Menteri Lingkungan Hidup (LH) RI Mohammad Jumhur Hidayat melakukan kunjungan kerja di Bulusan Edupark, Selasa (2/6).

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Menteri Lingkungan Hidup (LH) RI Mohammad Jumhur Hidayat mendorong pengelolaan sampah berbasis kearifan lokal untuk mengatasi persoalan sampah di daerah. Menurutnya, setiap wilayah memiliki cara berbeda dalam mengolah sampah. Namun tujuannya sama, yakni mengurangi timbunan sampah dan memberi nilai ekonomi.

Hal itu disampaikan Menteri Jumhur saat kunjungan kerja ke Bulusan Edupark, Tembalang, Kota Semarang, Selasa (2/6). Pada kesempatan itu Menteri Jumhur menanam pohon mangga, meninjau kebun sayur dan buah organik, melihat pengolahan sampah, hingga proses biospromik yang mengubah sampah organik menjadi media tanam.

Jumhur mengapresiasi model pengelolaan sampah yang diterapkan Bulusan Edupark. Menurutnya, konsep ini sejalan dengan kebijakan nasional yang mendorong ekonomi sirkular dan pengurangan sampah dari sumbernya.

Baca Juga: Menteri LH Sebut Giant Sea Wall Bukan Solusi Tunggal Atasi Rob dan Penurunan Muka Tanah, Water Farming Segera Diatur

"Jadi ini bagian daripada kearifan lokal yang ternyata di berbagai daerah mereka memiliki masing-masing. Kearifan lokal ini searah dengan apa yang menjadi kebijakan nasional. Bahwa sampah harus dikelola dengan baik," ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap daerah memiliki inovasi dan pendekatan berbeda dalam mengelola sampah. Ada yang mengolahnya menjadi pupuk, bahan bakar alternatif, pelet energi, hingga sumber energi lainnya.

"Tiap-tiap daerah punya cara sendiri, tapi ujungnya (tujuannya) sama, sampah bersih. Sampah bisa dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi lainnya sebagai pupuk kompos, sebagai bahan bakar dan sebagainya. Nah, ini bagian daripada sirkular ekonomi yang memang sedang digagas dikembangkan oleh pemerintah pusat," katanya.

Menurut Jumhur, keberhasilan pengelolaan sampah justru akan lebih cepat tercapai apabila tumbuh dari kesadaran masyarakat. Ia menilai model yang dijalankan Bulusan Edupark menjadi contoh gerakan dari bawah yang mampu memberikan dampak nyata bagi lingkungan.

"Saya lebih optimis lagi ini bisa terjadi dengan apa bottom up atau semangat teman-teman yang dari bawah. Ini sama sekali belum ada intervensi dari negara. Mereka betul-betul atas kesadaran sendiri," tuturnya.

Ia menegaskan paradigma lama pengelolaan sampah harus segera ditinggalkan. Pola kumpul, angkut, lalu buang ke tempat pembuangan akhir (TPA) dinilai tidak lagi relevan untuk menjawab persoalan sampah saat ini.

"Bahwa ada keinginan untuk memang mamastikan tidak kumpul, angkut, buang. Itu kan sangat ya primitif, kumpulin sampah, campur aduk, ngangkut, buang ke TPU, itu sudah enggak musim lagi lah," tegasnya.

Sementara Owner Bulusan Edupark Restiana Pasaribu menjelaskan, kawasan yang dikelolanya merupakan kebun percontohan pengolahan sampah organik yang memanfaatkan inovasi biospromik.

Menurut dia, sampah organik yang diterima diolah menjadi media tanam, pupuk organik, hingga pakan ternak. Melalui sistem tersebut, hampir tidak ada sampah yang berakhir di TPA.

Jadi kita hari ini berada di kebun Yayasan Peduli Lingkungan Bulusan Edupark. Kebun percontohan pengolahan sampah organik dengan inovasi biospromik olah sampah 1 detik siap menjadi media tanam dan pupuk organik," ungkapnya.

Baca Juga: PP Nomor 9 Tahun 2026 Terbit Ketentuan Tunjangan Kinerja Bisa Masuk di Gaji ke 13 PNS, PPPK, TNI, Polri, Pensiunan dan Pejabat Negara

Ia menjelaskan, sampah organik yang masuk berasal dari rumah tangga, rumah makan, restoran, hingga hotel di sekitar Kota Semarang. Rata-rata volume sampah yang dikelola mencapai lebih dari satu ton setiap bulan.

"Jadi rata-rata kami satu bulan itu lebih dari satu ton," katanya.

Sampah tersebut kemudian dicampur dengan limbah kotoran ternak dan diproses menjadi media tanam yang digunakan untuk mengembangkan berbagai tanaman organik. Saat ini Bulusan Edupark membudidayakan beragam sayuran dan buah-buahan seperti sawi, bayam, kangkung, selada, kacang panjang, terong, belimbing, mangga, hingga anggur.

Restiana menuturkan, lahan yang kini menjadi kebun produktif tersebut sebelumnya merupakan kawasan bekas galian C yang kritis dan minim unsur hara. Melalui pemanfaatan biospromik dan media tanam berbahan sampah organik, lahan tersebut berhasil diubah menjadi kawasan pertanian produktif.

"Karena lahan ini adalah bekas galian C yang sudah kritis tanpa top soil. Kami ubah menjadi lahan produktif dengan biospromik," jelasnya.

Selain menjadi pusat pengolahan sampah dan pertanian organik, Bulusan Edupark juga dikembangkan sebagai sarana edukasi lingkungan. Kawasan itu secara rutin menerima kunjungan masyarakat, sekolah, hingga komunitas yang ingin belajar pengelolaan sampah dan pertanian organik terpadu.

"Jadi Bulusan Edupark itu adalah pusat edukasi rekreasi dan interaksi," pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#menteri lingkungan hidup #bulusan edupark #pengelolaan sampah #KOTA SEMARANG