Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Kisah Ummu Iffah, Eks Napiter yang Kini Pilih Jadi Relawan

Khafifah Arini Putri • Selasa, 3 Februari 2026 | 10:10 WIB
Ummu Iffah yang kini sibuk menjahit dan menjadi relawan.
Ummu Iffah yang kini sibuk menjahit dan menjadi relawan.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Sore itu, langit di Mijen, Kota Semarang tampak mendung. Awan menggantung rendah, menahan hujan yang tak kunjung jatuh. Namun keramahan seorang perempuan menyambut di balik pintu rumahnya yang sederhana.

“Sini, Mbak, masuk rumah,” sapanya hangat.

Itulah Marifah Hasanah. Perempuan berbalut gamis hitam longgar dan niqab itu menyambut dengan suara lembut. Senyumnya tersembunyi, namun kehangatannya terasa jelas. Terlihat dari sorot matanya yang berbinar.

Di balik penampilannya yang tenang, tersimpan kisah hidup yang berliku. Tak banyak yang menyangka, perempuan 51 tahun ini pernah berada di pusaran paham radikalisme. Ummu Iffah sapaan akrabnya. Ia adalah seorang eks napiter.

Dulu, ia pernah memusuhi negara. Namun, sekarang Ummu Iffah menemukan jalan baru. Ia berdiri di barisan terdepan sebagai relawan sosial, penggerak lintas iman, dan pendamping sesama eks napiter di Yayasan Persadani.

Sembari duduk di ruang tamu, Ummu Iffah bercerita tentang kisahnya yang sempat terjerumus oleh paham radikalisme.

Kisahnya dimulai sejak remaja. Kala itu, ia masih duduk di bangku SMK. Ia aktif mengikuti kegiatan rohani Islam (Rohis). Dari sanalah, tanpa disadari, pintu menuju paham keras mulai terbuka.

Kegemarannya membaca buku menjadi pintu berikutnya. Buku-buku bertema tarbiyah jihad dan politik Islam membentuk cara pandangnya yang kian sempit. Ia mengakui, pemahaman yang didapat kala itu belum utuh, namun ditelan mentah-mentah.

“Buku-buku yang saya baca itu tarbiyah jihad, memang bukunya benar, mungkin waktu itu usia saya (masih muda) memahaminya sempit, memahaminya serampangan, jadi memang terbentuk karakter keras," bebernya.

Dari bacaan dan lingkungan pergaulannya, ia pun terjerat jaringan radikal. Perjalanan ideologinya berlanjut dari NII (Negara Islam Indonesia), lalu ke Jamaah Islamiyah (JI), dan puncaknya mengikuti doktrin ISIS yang lebih keras.

“Dulu kita merasa paling benar sendiri. Kalau orang yang sudah didoktrin di pemahaman seperti saya dulu, orang yang nggak mau mengikuti aturan Allah ya kafir. Tapi menurut ilmu, orang kafir yang bagaimana dulu yang harus kita perangi," akunya.

Dulu, aktivitas Ummu Iffah banyak berlangsung di ruang maya. Ia aktif membagikan konten ideologis, video, dan narasi provokatif. Puncaknya terjadi saat kerusuhan Mako Brimob 2018.

“Waktu itu saya sebagai koordinator di grup Telegram untuk ngumpulin dana. Sok-sokan mau membela, padahal tidak punya kekuatan yang jelas,” tuturnya dengan penuh penyesalan.

Perannya sebagai provokator membuat namanya masuk radar aparat. Tak lama berselang, kasus penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto pada 2019 lalu juga turut menyeret namanya. Sebab, Ummu Iffah kenal dengan tersangka penusukan yakni Abu Rara.

Aparat menduga, senjata Abu Rara yang digunakan untuk menusuk Wiranto berasal darinya. Sebab, Ummu Iffah dulu memang sering mencarikan senjata bagi orang-orang yang membutuhkan. Ia menjualnya secara online.

"Ya, kalau ada yang butuh atau minta dicarikan, saya carikan," akunya.

Dari rekam jejak itulah aparat menyasarnya. Ia pun ditangkap pada Oktober 2019 lalu. Ia menjalani masa tahanan di Polda Semarang, lalu dipindah ke Polda Metro Jaya selama lebih dari dua tahun, sebelum akhirnya menjalani hukuman di Lapas Bandung. Masa-masa itu menjadi titik baliknya.

"Di tahanan, saya diisolasi. Hanya sekali sepekan keluar untuk olahraga atau berobat. Waktu itu, masa Covid-19, pikiran jadi sangat rentan. Stres dan depresi mudah datang,” cerita Ummu Iffah.

Di balik jeruji besi itu, ia mulai berhadapan dengan dirinya sendiri. Tekanan, konflik dengan sesama narapida, hingga keterasingan memaksanya bermuhasabah.

"Di situ Allah menyuruh saya muhasabah, berbenah diri," katanya.

Ia membaca ulang Islam dengan kacamata yang berbeda. Proses pembinaan intensif dari berbagai pihak, seperti BNPT, Kementerian Agama, dan Densus 88, mulai membuka matanya. Ia diajak untuk memahami wawasan kebangsaan dan beragama secara lebih moderat dan utuh.

“Saya sadar, cara dakwah Rasulullah itu lemah lembut, bukan dengan kekerasan. Islam itu ‘rahmatan lil alamin’. Doktrin yang saya terima dulu ternyata sempit,” ujarnya.

Ia pun aktif mengisi waktu dengan kegiatan positif di lapas, seperti mengajar mengaji, menjahit, dan olahraga.

Proses panjang itulah yang akhirnya mengantarnya pada kesadaran untuk kembali memeluk NKRI. Setelah menjalani masa hukuman, Ummu Iffah bebas bersyarat pada 12 Januari 2023.

Perempuan asal Lampung ini mengaku dukungan keluarga, terutama suami dan anak menjadi semangatnya.

"Suami saya percaya saya orang baik. Dia yang jadi penjamin saya bebas bersyarat," akunya.

Selepas bebas, Ummu Iffah tak dibiarkan berjalan sendiri. Yayasan Persadani terus mendampinginya. Yayasan ini menjadi rumah bagi para eks napiter di Jawa Tengah. Selain itu dukungan dari para tetangga yang mau menerimanya dengan baik juga menjadi semangat hidupnya.

"Mereka yang pertama mendampingi. Diajak kegiatan, seminar wawasan kebangsaan, diapresiasi Pemkot Semarang dengan diberi sekretariat,” ujarnya.

Melalui Persadani, Ummu Iffah rutin mengikuti kegiatan bina wawasan kebangsaan, diskusi, seminar, hingga workshop yang melibatkan BNPT dan berbagai institusi. Selepas dari jeruji besi, hidupnya benar-benar berubah.

Ia kini aktif sebagai pengurus Forum Perempuan Lintas Agama (Forpela) Kota Semarang, yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Selain itu, waktunya banyak dihabiskan sebagai relawan di pesantren lansia, TPA, hingga kegiatan pembagian Al-Qur’an gratis.

Ibu dari enam anak ini mengaku ingin bermanfaat bagi banyak orang. Menjadi relawan jelas tak mudah, ia berbagi ilmu tanpa bayaran.

"Saya terpanggil ingin berbagi ilmu, mengamalkan ilmu yang saya miliki walaupun sedikit. Apalagi antusias lansia bagus, jadi saya ikut andil sebagai sukarelawan," tegasnya.

Selain aktif sebagai sukarelawan, keterampilan menjahit baju yang ia miliki sejak lama kembali dihidupkan. Ia menerima orderan untuk membuat baju muslim.

"Sebelum saya berkasus memang sudah menjahit, jadi saya kembali menjahit menerima orderan baju muslim," tambahnya.

Kini, sikap Ummu Iffah terhadap Indonesia berubah total. Ia tak lagi memandang negara sebagai musuh. Menurutnya, negara sudah memberi ruang luas bagi warganya untuk beragama.

Di usia 51 tahun, Ummu Iffah telah melewati dua kutub kehidupan yang ekstrem, dari dalam pusaran ideologi radikal menuju kedamaian sebagai relawan. Kini, baginya, Indonesia adalah rumah yang harus dijaga.

"Indonesia sekarang adalah negara yang memang harus kita berikan loyalitas. Institusi negaranya diatur dengan baik. Kita sebagai warga tidak perlu neko-neko. Negara sudah berikan yang terbaik, meski ada kekurangan. Jangan jadikan itu alasan untuk mencela, memusuhi, apalagi melakukan teror. Jadilah rakyat Indonesia yang baik,” pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#jeruji besi #paham radikalisme #jalan baru #gamis hitam #yayasan persadani #Mako Brimob #KOTA SEMARANG #eks napiter