RADARSEMARANG.ID, Semarang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 11 Semarang diduga bermasalah.
Sebanyak 75 siswa dilaporkan mengalami mual, muntah, pusing, hingga sakit perut.
Peristiwa itu terjadi, Kamis (8/1) kemarin. Gejala mulai dirasakan siswa sekitar pukul 16.00 WIB, beberapa jam setelah menyantap MBG di sekolah.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Jawa Tengah, Haris Wahyudi, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut seluruh siswa yang melapor berasal dari satu sekolah.
“Sekitar jam 16.00 itu ada beberapa siswa itu lah yang mengalami gejala seperti mual-mual, kemudian pusing seperti itu. Itu kita data ini 75 anak yang melaporkan gitu,” ujarnya.
Dari jumlah tersebut, empat siswa sempat dirawat di rumah sakit. Dua di antaranya sudah diperbolehkan pulang.
“75 itu ada yang dirawat di rumah sakit empat, kemudian yang dua sudah pulang ini,” katanya.
Sementara siswa lainnya hanya menjalani perawatan di rumah. Haris menegaskan, jumlah siswa SMKN 11 Semarang mencapai sekitar 1.400 orang, namun hanya sebagian kecil yang melapor.
"Hanya sebagian kecil ini 75 (yang melapor) dari 1400 kan,” jelasnya.
Haris menyebut seluruh siswa menerima dan mengonsumsi MBG.
Saat kejadian, pihaknya mengaku peserta didik merasa ada yang aneh dari MBG yang didistribusikan saat itu.
Program tersebut bahkan sudah berjalan sejak Agustus 2025 dan baru kali ini terjadi kejadian serupa.
"Memang ada laporan dari siswa agak bau, seperti itu agak beda," bebernya.
Menu MBG yang dikonsumsi siswa saat itu antara lain nasi, oseng labu, perkedel tahu, ayam suwir, dan buah semangka. Dugaan sementara, keluhan berasal dari lauk ayam.
“Yang dirasa basi ayam,” ungkap Haris.
Meski demikian, ia menegaskan penyebab pasti masih menunggu hasil evaluasi lebih lanjut. Pihaknya pun masih berkoordinasi dan mengecek kondisi lapangan.
Sebagai langkah awal, penyaluran MBG di sekolah tersebut dihentikan sementara. Evaluasi dilakukan bersama sejumlah pihak terkait, termasuk tim Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat.
"Jadi ini sementara (MBG) dihentikan sambil dievaluasi atau dicari penyebabnya itu kan baru dugaan masalah makanan basi
Ia memastikan penanganan terhadap siswa dilakukan cepat. Siswa yang mengalami gejala langsung dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Penanganan utamanya kan itu kemarin langsung kita gerak cepat,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Syamsudin, mengaku segera turun tangan untuk memastikan dugaan keracunan akibat MBG ini.
“Oke segera kami turun,” katanya singkat.
Ia menyebut Disdikbud Jateng telah berkoordinasi dan mulai melakukan pemantauan terhadap SPPG yang menyuplai MBG.
“Sudah, saya sudah konfirmasi ini kan baru tahap mencari info, saya sudah koordinasi,” ucapnya.
Syamsudin menambahkan, orang tua siswa tetap memiliki hak untuk melapor, namun pemerintah akan mengawal prosesnya.
“Ya itu hak masing masing tapi tetap kami kawal dulu, untuk sekolah sama SPPG-nya akan kami koordinasikan,” katanya.
Ia memastikan sekolah juga menyediakan kanal aduan bagi siswa dan orang tua.
“Ya bisa langsung ke sekolah,” tandasnya.
Terpisah Wakil Ketua Komisi E Yudi Indras Wiendarto mengaku langsung melakukan komunikasi dengan sejumlah pihak setelah menerima informasi kejadian dugaan keracunan akibat MBG.
Pihaknya memastikan para siswa yang mengalami gejala telah mendapat penanganan medis. Menurutnya, sejak awal pihak sekolah bergerak cepat membawa siswa ke fasilitas kesehatan.
"Yang pasti kemarin itu anak-anak itu langsung sudah ditangani, sudah dibawa ke Puskesmas, sudah ada petugas dari DKK dan lain sebagainya,” katanya.
Yudi menambahkan, perhatian terhadap kasus tersebut juga datang dari tingkat provinsi. Sejak Jumat (9/1) pagi, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Jawa Tengah mulai turun tangan.
“Dari tadi pagi dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah juga sudah mulai concern terhadap kejadian yang di SMK 11 itu,” tandasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi