RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk pertama kalinya menggelar pameran yang mempertunjukkan potensi 13 desa wisata di wilayahnya. Gelaran ini menjadi ruang temu, promosi, dan sinergi bagi para pelaku wisata untuk mengangkat pariwisata berbasis masyarakat menuju visi Semarang sebagai kota pariwisata pada tahun 2027.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari menjelaskan, Kota Semarang memiliki 13 desa wisata. Setiap desa wisata menampilkan atraksi dan potensi melalui stan masing-masing. Iin sapaan akrabnya menyebut kekuatan lokal di desa menjadi daya tarik bagi wisatawan.
"Potensi yang dilakukan sehari-hari di desa wisata pun ini sudah menarik. Nah, ini yang perlu diketahui oleh masyarakat tidak hanya Kota Semarang tetapi juga masyarakat wisatawan yang datang," jelasnya usai membuka Pameran Desa Wisata di Taman Eduwisata Omah Ampiran Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Sabtu (29/11).
Iin berharap, momentum ini dapat dimanfaatkan para pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan pelaku UMKM untuk saling bersinergi menciptakan paket wisata yang menarik. Ia menekankan, kunci kekuatan desa wisata terletak pada cerita atau story-nya.
“Tonjolkanlah kekuatan potensi masing-masing wilayah,” tegasnya.
Sementara Asisten Administrasi Umum Setda Kota Semarang, R. Wing Wiyarso, menambahkan pameran ini merupakan bagian dari strategi Pemkot untuk mendongkrak sektor pariwisata lokal. Hal ini sesuai dengan visi-misi Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, pada 2027 Kota Semarang akan fokus menjadi Kota Pariwisata.
“Gelaran Desa Wisata ini merupakan salah satu strategi pemerintah Kota Semarang dalam rangka mengangkat sektor pariwisata dan budaya, yang nantinya bisa menjadi kekuatan dan potensi untuk meningkatkan daya saing Semarang,” ungkapnya.
Pihaknya mengakui, tidak semua desa wisata telah menemukan potensi uniknya. Sebab itu, Pemkot akan terus memberikan dukungan dan fasilitasi, termasuk pendampingan Sumber Daya Manusia (SDM).
“Kalau ingin berkelanjutan, nomor satu adalah SDM-nya. Kita berikan pelatihan, pendampingan, bahkan pendampingan sertifikasi profesi, sehingga mereka paham manajerial dan pemanfaatan teknologi,” imbuhnya.
Anggota DPR RI, Samuel Wattimena, yang hadir dalam acara tersebut, melihat perlunya kolaborasi yang lebih konkret dengan industri pariwisata, seperti hotel.
“Saya akan bertemu dengan teman-teman pengelola hotel di Semarang untuk membahas buying problems dan menciptakan paket-paket singkat atau weekend menuju desa wisata. Ini akan menjadi bantuan besar,” ujarnya.
Samuel juga memberikan masukan teknis bagi para pengelola desa wisata. Ia menekankan agar setiap desa tidak meniru yang populer, tetapi menemukan dan mempertahankan keunikannya dengan memastikan rantai hulu ke hilirnya terjaga.
“Jangan buat sesuatu yang bahan bakunya tidak ada di daerah kalian,” tegasnya.
Salah satu contoh desa wisata yang berpartisipasi adalah Desa Wisata Jatirejo, yang diwakili oleh Dwi Sayekti. Desa ini menawarkan pengalaman wisata edukatif yang terbagi di empat RW.
“RW 1 adalah Kampung Kolang-Kaling, RW 2 Kampung Cabe Rawit, RW 3 Kampung Jahe Merah, dan RW 4 untuk edukasi wisata gypsum. Para wisatawan bisa belajar mengolah hasil alam setempat,” terang Dwi.
Kegiatan ini, menurutnya, secara nyata telah memberdayakan dan meningkatkan penghasilan warga setempat. “
"Alhamdulillah, di masing-masing RW pemberdayaan warga semua dikelola oleh kelompok Pokdarwis," tandasnya.
Menariknya pada kesempatan itu Jatirejo juga menjadi Juara I Kategori Apresiasi Festival Desa Wisata Kota Semarang. Nantinya pemenang lomba ini akan mewakili Kota Semarang untuk maju lomba desa wisata Jawa Tengah tahun 2026. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi