Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Ratusan Anak-Anak Diajak Gemar Makan Ikan, Jadi Cara Tekan Inflasi dan Cegah Stunting

Khafifah Arini Putri • Rabu, 12 November 2025 | 16:17 WIB
Anak-anak makan bakso ikan bersama dalam acara Central Java Fish Market ke-4, di Halaman Kantor Gubernur Jateng, Selasa (11/11).
Anak-anak makan bakso ikan bersama dalam acara Central Java Fish Market ke-4, di Halaman Kantor Gubernur Jateng, Selasa (11/11).

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Suasana halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa (11/11) pagi tampak ramai. Ratusan anak-anak sekolah dasar dengan semangat menyanyikan yel-yel. Mengenakan seragam merah putih hingga pramuka, mereka diajak untuk gemar makan ikan.

Anak-anak ini mengikuti kegiatan Central Java Fish Market ke-4 bertajuk “Pangan Akuatik sebagai Alternatif Sumber Pangan Jawa Tengah”. Acara ini merupakan bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), yang digagas Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah (Jateng) bersama Pemprov Jateng melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jateng.

Tak hanya diisi edukasi gemar makan ikan untuk anak-anak, acara juga diramaikan oleh stan UMKM olahan hasil laut, lomba masak ikan, hingga pameran produk perikanan dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Rahmat Dwisaputra menjelaskan, inflasi Jawa Tengah pada Oktober 2025 tercatat 0,4 persen, dipicu naiknya harga telur dan daging ayam ras. Karena itu, ikan dinilai bisa menjadi sumber pangan alternatif dan begizi, sekaligus membantu menjaga inflasi.

"Ikan itu diversifikasi pangan dalam rangka memitigasi resiko inflasi yang tinggi di salah satu bahan pangan yang sering banyak diminta oleh konsumen yaitu ayam dan telur," jelas Rahmat.

Ia menilai konsumsi ikan pada masyarakat di Jateng masih rendah. Sebab sebagian masyarakat menganggap semua lauk adalah iwak. Akibatnya, banyak yang merasa sudah makan ikan padahal bukan.

"Makanya sosialisasi dan edukasi kita kepada anak-anak SD ini sangat penting supaya masyarakat dari sejak dinidikenalkan oleh berbagai macam pangan. Sehingga tidak ada tekanan terhadap salah satu jenis makanan," tegasnya.

Pihaknya menyebut potensi ikan di Jateng cukup besar, kontribusinya mencapai 12,88 persen terhadap PDRB Jawa Tengah triwulan III 2024. Nilai ekspor kelautan dan perikanan Jateng bahkan mencapai Rp 5,76 triliun dengan volume 83,15 juta ton. Angka itu menunjukkan potensi besar sektor perikanan untuk mendukung perekonomian daerah.

Rahmat pun menegaskan, gerakan gemar makan ikan tak hanya berdampak pada kestabilan harga pangan. Tapi juga berperan besar dalam menurunkan angka stunting dan meningkatkan kecerdasan anak-anak.

“Tidak hanya menyasar kepada stabilitas inflasi, tapi juga untuk mengurangi angka stunting. Angka stunting ini penting untuk kita kurangi dan salah satu sumber protein yang baik adalah tentunya ikan," akunya.

Selain fokus pada edukasi pangan, BI Jateng juga memberikan bantuan sarana-prasarana kepada empat kelompok petani garam di Demak, Jepara, Pati, dan Rembang. Bantuan berupa geomembran itu diberikan untuk mendukung peningkatan kualitas produksi garam lokal.

"Nah ini (bantuan untuk petani) garam sebenarnya untuk membangun kekuatan UMKM makanan dan minuman. Jadi ada beberapa tujuan, yang pertama untuk menjaga inflasi tetap rendah. Kedua meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Jawa Tengah," akunya.

Sementara Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno mengapresiasi sinergi BI dan DKP Jateng. Ia menilai pengendalian inflasi perlu dibarengi perubahan pola konsumsi masyarakat.

"Jawa Tengah ini sebetulnya adalah lumbung pangan tapi kita sering terombang-ambing dari inflasi masalah pangan. Potensi perikanan di Jawa Tengah cukup besar, yang menjadi tujuan kita adalah bagaimana kita membiasakan masyarakat untuk senang, gemar makan ikan," ungkapnya.

Sumarno menyebut ikan lebih sehat dibanding daging dan telur. Kandungan protein dan Omega 3 dalam ikan penting untuk otak dan jantung.

"Gemar makan itu tidak hanya bisa dilakukan secara parsial tapi butuh kolaborasi bersama-sama baik dari orang tua maupun anak-anak," imbuhnya,


Kepala DKP Jateng Endi Faiz Efendi mencatat, produksi ikan di Jawa Tengah hampir mencapai 900 ton per tahun. Terdiri dari 500 ribu ton budidaya dan 400 ribu ton tangkapan laut. Namun, konsumsi ikan masyarakat Jateng masih rendah, hanya 40,14 kg per kapita per tahun, di bawah rata-rata nasional 60 kg.

“Masih banyak yang menganggap makan ikan bikin kolesterol atau cacingan. Padahal satu gram ikan mengandung protein lebih tinggi dari ayam dan telur,” jelas Endi.

Pihaknya pun terus mendorong nelayan kecil agar produktivitas meningkat dan kualitas tangkapan terjaga. Nelayan juga diberi pelatihan alat tangkap ramah lingkungan serta edukasi pasca panen. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#merah putih #Rahmat Dwisaputra #gemar makan ikan #JAWA TENGAH #Kepala Perwakilan Bank Indonesia