RADARSEMARANG.ID, Semarang — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah memanggil Kepala SMAN 11 Semarang, Roro Tri Widiastuti.
Pemanggilan itu untuk koordinasi mengenai kasus penyebaran foto pornografi hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) di SMA 11 Semarang yang dilakukan alumni Chiko Radityatama Agung Putra.
Sekretaris Disdikbud Provinsi Jawa Tengah Syamsudin Isnaini mengatakan pihaknya telah mengundang seluruh pihak terkait untuk membahas perkembangan penanganan kasus tersebut.
“Kami Dinas Pendidikan mengundang para pihak terkait dengan permasalahan yang terjadi di SMA 11 dalam rangka untuk memberikan pendampingan kepada pihak korban,” ujarnya, Kamis (23/10/2025).
Pihaknya mengaku terus memberikan pendampingan. Hingga saat ini dinas masih berfokus pada upaya pemulihan psikologis dan perlindungan terhadap korban.
Dalam penanganannya, dilakukan koordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB). Hal itu agar untuk memastikan pendampingan dan pemulihan berjalan dengan baik.
“Kami saat ini fokus pendampingan pada korban, termasuk kemarin juga DP3AKB melakukan fasilitasi itu, termasuk pasca waktu kemarin apel pagi dan anak-anak menyuarakan juga sudah kita fasilitasi. Siapapun yang merasa terkena dan sebagainya, silakan kami juga terbuka. Dan nanti tim kami yang di DP3AKB akan melakukan pendampingan secara detail terkait hal ini," ungkapnya.
Baca Juga: Psikis Korban Terguncang Imbas Kelakuan Alumni SMAN 11 Semarang Edit Foto Pornografi Pakai AI
Ia menambahkan, tawaran pendampingan telah disampaikan kepada para korban, namun sebagian memilih jalur lain yakni berkoordinasi dengan alumni dan pihak berwajib.
"Sudah (ditawarkan pendampingan, Red). Kami tawarkan, adik-adik sudah memilih jalan yang lain karena sudah berkoordinasi dengan para apa alumni dan juga pihak dari berwajib,” ujarnya.
Terkait mediasi, pihaknya membuka ruang bagi korban untuk melapor. Utamanya untuk pemulihan psikologi.
Ia mengungkap, jumlah korban yang telah didampingi belum bisa dipublikasikan karena pertimbangan kode etik.
“Posisinya ini kita masih DP3AKB karena ini kami juga harus kode etik ya intinya kami masih menunggu dari DP3AKB,” ujarnya.
Menanggapi kabar bahwa salah satu guru juga menjadi korban, pihak Dinas Pendidikan membantah informasi tersebut.
"Enggak. Dari beberapa yang coba kami klarifikasi, informasinya sementara dari alumni. Tapi untuk detailnya kami juga karena masih kode etik, kami belum mendapat akses itu,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala SMAN 11 Semarang Roro Tri Widiastuti menampik kabar jika sekolah berupaya menutupi kasus dengan klarifikasi yang dilakukan oleh pelaku Chiko tertutup.
Yakni berada di ruangan tertutup, bukan di lapangan secara terbuka seperti yang telah dijanjikan pada para siswa.
"Tidak, tidak ada tertutup, tidak ada menutup-nutupi. Kami juga terbuka. Informasi kami gali dari Waka, dari guru kami berdialog dan berdiskusi masalah ini. Jadi sekolah tidak ada melakukan tertutup," bantahnya.
Ia juga membantah informasi jika para korban yang ingin melapor ke sekolah namun oleh sekolah diminta untuk lapor langsung ke dinas. Sedang, ia mengatakan saat ini belum ada korban yang melapor.
"Keliru ya itu. Kami juga sudah meminta kepada kesiswaan dan tim sekolah untuk mari bersama-sama kalau ada korban yang sampai ke sekolah akan kami fasilitasi. Kemudian kalau menghendaki lanjut juga kami fasilitasi," ungkapnya.
Dari sikap sekolah yang dinilai tak terbuka itu, akhirnya para siswa memutuskan untuk menempuh jalur hukum dengan menggandeng alumni SMAN 11 dan kuasa hukum.
"Kami tidak tahu karena itu terkait dengan korban. Jadi korban punya hak pilih mau ke mana dan bagaimana," tandasnya.
Ditanya keberpihakan kepala sekolah condong pada korban ataukah pelaku yang merupakan alumni SMAN 11 tersebut, ia menegaskan berpihak kepada korban. Ia menyebut tidak menyetujui tindak asusila seperti itu.
"Bagaimanapun sekolah adalah tempat untuk membentuk karakter yang baik. Dengan adanya tindak asusila itu mencoreng karakter baik. Kami sekolah tetap mendukung program peningkatan karakter yang baik," tambahnya.
Soal klarifikasi ulang pelaku Chiko yang diminta para siswa, dirinya sudah mempercayakan semua itu pada dinas. Menurutnya bukan masalah lokasi di sekolah atau di mana pun. Yang terpenting, pihaknya melakukan klarifikasi itu untuk nama lembaga pendidikan. (ifa)