RADARSEMARANG.ID – Kisah Raya hingga kini masih meninggalkan kisah pedih, sebab gadis yang masih berusia 4 tahun itu diserang oleh cacing pita yang menggerogoti tubuhnya.
Cacing pita ini bersemayam ditubuh mungil mulai dari kepala hingga organ dalam.
Tak hanya kondisi Raya yang memprihatinkan publik. Kondisi keluarga Raya pun juga mendapat sorotan.
Raya yang tinggal bersama seorang ibu mengidap gangguan jiwa serta ayahnya mengidap penyakit TBC menambah pilu kisah keluarga ini.
Raya sempat diasuh oleh neneknya dan ternyata kerap tidur di kolong rumah yang dipenuhi oleh kotoran ayam membuat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi prihatin.
Dedi Mulyadi merasa kecewa dengan perangkat desa setempat yang dinilainya gagal memberikan pelayanan dasar.
Hal itu disampaikan pria yang akrab disapa KDM itu di akun instagram pribadinya.
"Saya menyampaikan prihatin, rasa kecewa yang sangat dalam, serta permohonan maaf atas meninggalnya seorang balita berusia 3 tahun yang tubuhnya dipenuhi cacing," ujar Dedi.
Informasi yang dihimpun, kasus meninggalnya Raya tersebut berawal dari munculnya video berdurasi sembilan detik di media sosial yang memperlihatkan tubuhnya dipenuhi cacing.
Video itu menyebar cepat di Facebook dan WhatsApp.
Tak disangka, video berdurasi singkat itu justru viral dan mengundang perhatian dan keprihatinan publik.
Plt Camat Kabandungan Budi Andriana membenarkan peristiwa tersebut.
Ia mengklaim pihak kecamatan sudah membantu keluarga, termasuk mengurus administrasi kependudukan dan Kartu Indonesia Sehat (KIS).
"Bersama pihak desa, kami juga sempat memperbaiki rumah keluarganya," ujar Budi.
Namun, ia menilai kondisi Raya semakin buruk lantaran pola asuh keluarga yang tidak optimal.
"Sejak kecil, almarhumah sering dibawa ke gunung untuk mencari kayu bakar. Ketika ada keperluan administrasi, keluarga sering menghilang, sehingga menyulitkan proses penanganan," jelasnya.
Terkait video viral yang beredar, Budi menyayangkan penyebarannya di media sosial.
"Pemerintah kecamatan maupun desa tidak pernah menyebarkan video tersebut," tegasnya.
Sementara itu, penjelasan dilontarkan Kepala Desa Cianaga Wardi Sutandi terkait meninggalnya balita yang jadi warganya itu.
Menurut pengakuannya, pihak pemerintah desa sudah lama memberikan bantuan kepada keluarga Raya.
Namun, dirinya menyebut jika akses layanan kesehatan kerap terkendala masalah data kependudukan.
"Sejak lama kami membantu keluarga ini, termasuk pengurusan KTP, KK, dan administrasi lainnya,” uacapnya.
"Namun, data NIK yang tidak sinkron menjadi hambatan utama dalam akses layanan kesehatan," ungkap Wardi.
Disamping itu, Bupati Sukabumi, Asep Japar mengaku pihaknya melalui pemerintah sudah turun tangan menangani sebelum akhirnya Raya meninggal dunia.
“Pertama, saya atas nama Pemerintah Kabupaten Sukabumi menyampaikan duka cita atas meninggalnya ananda Raya.
Kemarin sepulang dari Bandung, saya langsung menemui keluarga korban, bertemu ayah dan neneknya. Saya ingin meluruskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam,” terangnya.
Menurutnya, persoalan yang menimpa Raya tidak terlepas dari pola asuh keluarga yang bermasalah.
Ia menjelaskan, kedua orang tua korban memiliki keterbatasan, baik dari sisi ekonomi maupun kondisi mental, sehingga pengasuhan anak kurang optimal. (dka)
Editor : Baskoro Septiadi