Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Syarif Maulana, Dosen Filsafat yang Dituduh Ferry Irwandi sebagai Predator Seksual, Pernah Tampil di Podcast Cania Citta dan Guru Gembul

Tasropi • Selasa, 5 Agustus 2025 | 17:00 WIB
Syarif dikenal sebagai figur intelektual yang aktif berdiskusi di berbagai platform, termasuk tampil di podcast populer Cania Citta dan Guru Gembul.
Syarif dikenal sebagai figur intelektual yang aktif berdiskusi di berbagai platform, termasuk tampil di podcast populer Cania Citta dan Guru Gembul.

RADARSEMARANG.ID, NAMA Syarif Maulana, seorang akademisi dan pengajar filsafat, kini menjadi sorotan publik setelah terlibat konflik terbuka dengan aktivis budaya Ferry Irwandi.

Perseteruan yang awalnya ramai di media sosial kini merembet ke ranah hukum dan reputasi akademik, menyeret nama Syarif ke dalam kontroversi serius.

Tuduhan Ferry Irwandi terhadap Syarif, yang mencakup dugaan tindakan tidak etis hingga pelecehan seksual, telah memicu perbincangan luas.

Sebelum kasus ini mencuat, Syarif dikenal sebagai figur intelektual yang aktif berdiskusi di berbagai platform, termasuk tampil di podcast populer Cania Citta dan Guru Gembul.

Sosok Syarif MaulanaSyarif Maulana, lahir di Bandung pada 30 November 1985, memiliki nama lengkap Syarif Maulana, S.IP., M.I.Kom.

Ia menempuh pendidikan S1 Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) pada 2008, dilanjutkan dengan S2 Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran pada 2011.

Saat ini, ia sedang menjalani studi S3 di bidang Ilmu Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Syarif aktif sebagai dosen honorer di Fakultas Filsafat Unpar dari 2017 hingga akhir 2018 dan menjadi asisten akademik di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga kini.

Ia mengampu mata kuliah seperti Filsafat Komunikasi, Logika, Public Relations, dan Creative Thinking.

Di luar akademik, Syarif mendirikan komunitas diskusi filsafat daring seperti Café Philosophique dan KlabKlassik, serta aktif sebagai kurator musik, penulis lepas, dan pengajar gitar klasik.

Syarif juga dikenal di ranah publik melalui penampilannya di podcast.

Ia pernah menjadi tamu di podcast Cania Citta tautan dan Guru Gembul tautan, di mana ia berbagi pandangan tentang filsafat, seni, dan isu sosial, memperkuat citranya sebagai intelektual publik sebelum kontroversi ini muncul.

Terjerat Kontroversi

Pada pertengahan 2024, karier akademik Syarif mulai terguncang setelah sejumlah laporan terkait dugaan pelecehan seksual masuk ke pihak kampus.

Unpar resmi menonaktifkannya untuk memberi ruang bagi penyelidikan tanpa intervensi internal.

Beberapa penerbit buku juga memutus kerja sama dengan Syarif akibat tekanan publik.

Kasus ini memicu reaksi keras dari komunitas mahasiswa dan aktivis perempuan, yang menyoroti dugaan praktik relasi kuasa dalam komunitas yang dikelolanya.

Hingga kini, investigasi oleh pihak berwenang dan internal kampus masih berlangsung secara tertutup.

Konflik dengan Ferry Irwandi

Konflik mencapai puncak ketika Ferry Irwandi, pendiri Malaka Project, secara terbuka menuduh Syarif melakukan tindakan tidak etis di ranah komunitas dan akademik, termasuk tuduhan sebagai predator seksual.

Ferry menuding Syarif menyalahgunakan posisinya sebagai intelektual untuk kepentingan pribadi dan manipulasi terhadap rekan komunitasnya.

Perseteruan ini memanas di media sosial, ditandai dengan saling balas pernyataan di berbagai forum publik.

Ferry juga mengkritik sikap Syarif yang disebutnya kontradiktif: mengklaim sebagai seorang anarko, namun memilih menyelesaikan perkara melalui jalur hukum.

Bukti digital dan sejumlah testimoni disebut telah memperkuat tuduhan terhadap Syarif, meskipun belum ada putusan hukum resmi yang diumumkan.

Konflik ini telah menarik perhatian luas, dengan banyak pihak mempertanyakan kredibilitas Syarif sebagai akademisi dan figur publik.

Tantangan ke Depan

Syarif Maulana, yang sebelumnya dikenal karena kontribusinya di dunia filsafat dan seni, kini menghadapi ujian besar dalam karier dan reputasinya.

Penonaktifan dari Unpar, pemutusan kerja sama dengan penerbit, dan tuduhan serius dari Ferry Irwandi telah mengguncang citranya.

Publik kini menanti hasil investigasi untuk menentukan apakah Syarif mampu membela diri atau akan tenggelam dalam kontroversi ini.

Seiring berjalannya proses hukum, transparansi dan keadilan akan menjadi kunci dalam menentukan masa depan akademik dan sosial Syarif Maulana.

Publik terus memantau: akankah ia mampu membersihkan namanya, atau akan terbenam dalam bayang-bayang tuduhan yang kini melingkupinya? (tas)

Editor : Tasropi
#diskusi filsafat #pelecehan seksual #SYARIF MAULANA #ferry irwandi #Cania Citta #guru gembul