Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Viral di Media Sosial! Mahasiswa Rusia Bertanya Kepada Anwar Ibrahim Soal Sastra dalam Bahasa Indonesia, Malah Dijawab dalam Bahasa Inggris

Tasropi • Jumat, 30 Mei 2025 | 18:48 WIB
Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, baru-baru ini menghadiri sebuah sesi tanya jawab di Moscow State Institute of International Relations (MGIMO), Rusia.
Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, baru-baru ini menghadiri sebuah sesi tanya jawab di Moscow State Institute of International Relations (MGIMO), Rusia.

RADARSEMARANG.ID, Moskow, 30 Mei 2025 – Sebuah momen menarik di Moscow State Institute of International Relations (MGIMO) menjadi sorotan dunia maya ketika seorang mahasiswa Rusia, dengan fasih bertanya dalam bahasa Indonesia kepada Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, tentang sastra Melayu dan Indonesia.

Namun, Anwar justru menjawab dalam bahasa Inggris, menciptakan interaksi yang hangat, informatif, dan viral di media sosial.

Peristiwa ini terjadi setelah syarahan Anwar bertajuk "Bridging Worlds in a Fractured Age", yang menggarisbawahi pentingnya menjembatani budaya di era global yang terpecah.

Dalam interaksi yang hangat dan penuh wawasan, Anwar berbagi pandangannya tentang sastra, meskipun ia dengan rendah hati mengakui bahwa latar belakang akademiknya adalah sosiologi, bukan sastra.

Peristiwa ini menyoroti minat internasional terhadap warisan budaya Melayu dan Indonesia serta hubungan erat antara kedua negara dalam ranah intelektual.

Momen yang Mencuri Perhatian

Dalam sesi tanya jawab di MGIMO, seorang mahasiswa Rusia yang mempelajari bahasa Indonesia memulai dengan permintaan maaf karena tidak menggunakan bahasa Rusia, menjelaskan bahwa bahasa Indonesia adalah bidang spesialisasinya.

Dengan penuh percaya diri, ia bertanya, “Pengarang atau sastra Melayu apa yang sangat menarik dan berminat bagi orang Rusia, yaitu bagi mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia maupun Melayu melalui universitas kami?”

Pertanyaan ini mencerminkan minat akademik yang tumbuh di Rusia terhadap warisan budaya Asia Tenggara, khususnya sastra Melayu dan Indonesia.

Anwar, yang dikenal karena kefasihannya dalam berbahasa Inggris, memilih menjawab dalam bahasa tersebut untuk menjangkau audiens internasional di MGIMO.

Ia memuji kemampuan bahasa Indonesia mahasiswa itu, menyebutnya “first class” dan memberi selamat atas kefasihannya.

Dengan nada jenaka, Anwar mengklarifikasi bahwa ia bukan lulusan sastra, melainkan sosiologi.

“Saya lulusan fakultas seni, tapi itu bukan sastra, melainkan sosiologi. Namun, minat dan kecintaan saya ada pada sastra dan filsafat,” katanya, sambil bercanda bahwa “terlalu banyak berfilsafat” pernah membawanya ke penjara, merujuk pada perjuangan politiknya di masa lalu.

Rekomendasi Sastra dari Anwar

Anwar merekomendasikan beberapa karya sastra yang dianggapnya relevan untuk pelajar asing, terutama di Rusia. Untuk puisi modern, ia menyoroti:

1. Chairil Anwar (Indonesia), dengan puisi seperti Aku dan Krawang-Bekasi, yang dikenal karena semangat pemberontakan dan eksistensialismenya.

2. Usman Awang (Malaysia), melalui karya seperti Tongkat Warrant, yang menggambarkan kepekaan sosial dan nasionalisme.

3. Taufiq Ismail (Indonesia), yang puisi-puisinya mengeksplorasi identitas dan perjuangan bangsa.

4. Muhammad Haji Salleh (Malaysia), yang memadukan elemen tradisional Melayu dengan perspektif modern.

Untuk novel, Anwar menyoroti karya-karya Indonesia era 1950-an sebagai puncak sastra modern di kawasan, seperti:

1. Sitti Nurbaya karya Marah Rusli, sebuah novel klasik tentang cinta dan konflik tradisi di masyarakat Minangkabau.

2. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka, yang mengeksplorasi tema cinta, kelas sosial, dan identitas budaya.

Ia menambahkan bahwa novel-novel Malaysia pada periode yang sama belum sekuat karya-karya Indonesia, meskipun puisi Malaysia tetap menonjol.

Dengan humor, Anwar menutup tanggapannya dengan bertanya, “Apakah saya lulus ujian?”—memicu tawa dan suasana akrab di ruangan.

Viral di Media Sosial

Interaksi ini dengan cepat menjadi viral di platform seperti X, dengan pengguna memuji kefasihan mahasiswa Rusia dalam berbahasa Indonesia dan tanggapan Anwar yang berwawasan namun santai.

Banyak yang menyoroti keputusan Anwar untuk menjawab dalam bahasa Inggris, yang memudahkan komunikasi dengan audiens internasional di MGIMO.

Tagar seperti #AnwarIbrahim dan #SastraMelayu menjadi tren, dengan beberapa pengguna bercanda tentang “keberanian” Anwar menjawab dalam bahasa Inggris alih-alih bahasa Indonesia atau bahasa Melayu.

Konteks Sastra dan Diplomasi

Sastra Melayu dan Indonesia memiliki akar yang dalam dalam sejarah Nusantara, dengan bahasa Melayu sebagai lingua franca yang menghubungkan berbagai budaya selama berabad-abad.

Tokoh seperti Raja Ali Haji, yang lahir pada 1809 di Pulau Penyengat, Riau, menghasilkan karya seperti Gurindam Dua Belas dan Tuhfat al-Nafis, yang menjadi fondasi sastra Melayu dan bahasa Indonesia modern.

Pengakuan UNESCO terhadap pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2020 menegaskan nilai global warisan ini.

Sastra Indonesia, terutama melalui Balai Pustaka, menghasilkan karya-karya monumental seperti yang disebutkan Anwar.

Novel-novel ini tetap relevan sebagai cerminan identitas budaya dan perjuangan manusia, menarik minat pelajar di seluruh dunia, termasuk di Rusia.

Minat mahasiswa Rusia terhadap bahasa Indonesia mencerminkan pertumbuhan studi Asia Tenggara di universitas-universitas Rusia, didukung oleh program pertukaran pelajar dan beasiswa melalui ASEAN dan BRICS.

Kunjungan Anwar ke MGIMO merupakan bagian dari upaya Malaysia untuk memperkuat hubungan dengan Rusia, terutama dalam pendidikan dan budaya.

Menurut data Kementerian Luar Negeri Malaysia, lebih dari 500 pelajar Rusia mempelajari bahasa Indonesia dan Melayu pada 2024, menunjukkan meningkatnya kerja sama pendidikan antara kedua negara.

Sebagai Ketua ASEAN 2025, Malaysia di bawah kepemimpinan Anwar diharapkan terus mempromosikan diplomasi budaya.

Signifikansi dan Dampak

Momen ini tidak hanya mempromosikan kekayaan sastra Melayu dan Indonesia, tetapi juga menegaskan peran Anwar sebagai figur yang mampu menjembatani budaya Timur dan Barat.

Tanggapannya yang menggunakan bahasa Inggris menunjukkan fleksibilitasnya dalam berkomunikasi dengan audiens global, sementara kecintaannya pada sastra mencerminkan kedalaman intelektualnya.

Viralnya interaksi ini di media sosial telah meningkatkan visibilitas budaya Malaysia dan Indonesia, menginspirasi pelajar untuk mendalami karya-karya seperti puisi Chairil Anwar atau novel Hamka.

Peristiwa ini juga menyoroti potensi diplomasi budaya dalam mempererat hubungan antarnegara.

Dengan Malaysia memimpin ASEAN pada 2025, momen seperti ini menjadi contoh bagaimana budaya dapat menjadi jembatan dalam hubungan internasional.

Pengguna X terus mendiskusikan interaksi ini, dengan reaksi heran pada Anwar atas sikapnya dalam menjawab pertanyaan itu, alih-alih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Melayu malah menggunakan bahasa Inggris.

Interaksi antara mahasiswa Rusia dan Anwar Ibrahim di MGIMO telah menjadi momen bersejarah yang menunjukkan daya tarik global sastra Melayu dan Indonesia.

Dengan menjawab dalam bahasa Inggris, Anwar tidak hanya menjangkau audiens internasional, tetapi juga memicu diskusi viral di media sosial.

Momen ini menggarisbawahi pentingnya pendidikan dan budaya dalam diplomasi, sekaligus memperkuat posisi Malaysia sebagai pemimpin budaya di ASEAN.

Dengan merekomendasikan karya-karya klasik dan modern, Anwar tidak hanya mempromosikan warisan budaya, tetapi juga memperkuat hubungan Malaysia-Rusia melalui pendidikan dan budaya.

Seiring Malaysia memimpin ASEAN pada 2025, interaksi seperti ini menegaskan peran budaya dalam mempererat hubungan antarnegara. Untuk informasi lebih lanjut tentang kegiatan Anwar Ibrahim, pantau sumber resmi seperti laman Sekretariat Kabinet Republik Indonesia atau media berita terpercaya.

Editor : Tasropi
#Bahasa Inggris #anwar ibrahim #mahasiswa Rusia #viral di media sosial #warisan budaya #sastra melayu