RADARSEMARANG.ID – Total ada 4 santri Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 5 Darul Qiyam, Magelang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan tembok kolam penampungan air.
Yang membuat miris proses evakuasi sendiri berlangsung hingga 13 jam lamanya. Hal ini disebabkan medan yangcukup sempit dan minimnya penerangan.
Kejadiannya begitu cepat, terjadi sekitar pukul 10.30 saat para santri hendak mengantre mandi untuk bersiap salat Jumat.
Tiba-tiba, tembok kolam penampungan air yang berada di dekat kamar mandi, ambrol dan menimpa para santri.
Pihak pondok pun berusaha untuk menyelamatkan 20 santri secara mandiri dan segera dibawa ke RSUD Merah Putih.
Namun, masih ada beberapa santri yang terjebak di dinding kamar mandi.
Terdapat sembilan korban yang posisinya terjepit di antara pondasi dan kamar mandi.
Selama proses evakuasi, tim SAR gabungan mengalami kendala karena areanya cukup sempit, hanya sekitar satu meter.
Kondisi itu membuat tim berupaya mengevakuasi korban dari dalam kamar mandi.
Mengingat tidak ada akses lain untuk menjangkau mereka.
Ditambah dengan labilnya posisi talud sehingga tim harus ekstra berhati-hati.
Para santri itu tertimpa beton dengan ketebalan sekitar 50 sentimeter, ketinggian kurang lebih 3 meter, dan panjang 10 meter.
Selain itu, kata Basuki, tim juga harus berhati-hati saat mengevakuasi korban yang masih hidup.
"Jangan sampai mengancam keselamatan korban dan kami sendiri sebagai penolong," ujar Basuki.
Dia menyebut, saat proses evakuasi, tim menggunakan alat urban SAR yang digunakan dalam operasi pencarian dan pertolongan di lingkungan perkotaan yang mengalami bencana.
Alat-alat itu digunakan dengan sistem manual dan tidak menggunakan alat berat.
Sebab, lanjut Basuki, tim was-was dengan kondisi tanah yang masih labil itu dapat memperparah longsoran.
Selain itu, hari yang gelap semakin menyulitkan tim karena pencahayaan yang minim.
Dari sembilan korban itu, lima di antaranya selamat dan empat lainnya dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.
Untuk korban terakhir, kata dia, ditemukan pada pukul 23.30 dengan posisi yang berada di sekat kamar mandi.
"Yang mana di situ ada struktur kolong yang cukup keras sehingga mempersulit kami melakukan evakuasi."
"Sedangkan posisi kakinya terjepit di antara kolong tangga depan kamar mandi," jelasnya.
Basuki menyebut, santri yang tertimpa reruntuhan itu berjumlah 29 anak.
Sebanyak 20 di antaranya sudah dievakuasi pihak pondok.
Sementara sembilan santri lainnya bisa dievakuasi dalam kurun waktu sekitar 13 jam.
"Setelah semua korban berhasil kami evakuasi, operasi SAR kami nyatakan selesai dan ditutup," sambungnya.
Berikut daftar nama santri yang dirawat di RSUD Merah Putih:
Fahza Kahfi, 16, Surabaya, rawat jalan
Habib Faydhl, 15, Pacitan
Dzikri Habiburrahman, 14, Bandung, rawat jalan
Haniburohman, 14, Tuban, rawat jalan
Fahri Aqila, 15, Jakarta,rawat inap
Ghiats Aqil Fawaz, 17, Depok, rawat jalan
Fadya Hamzah, 17, NTT
Elroy Akhdan, 17, Pati
Muhammad Rizky Ramadhan, 13, Bandung, rawat inap
Ukasy Bana Almajeda, 15, Lampung, rawat inap
Ramadan Aryuda, 16, Banten
Aidan Rabbani, 15, Depok,
Rifat Lamubni, 14, Sukabumi, rawat jalan
Hilmi Haruna, 14, Surabaya, rawat jalan
Rey Alfath, 16, Tangerang, rawat jalan
Daru Athaya, 14, Bandung, rawat jalan
Energi Zieda, 14, Trenggalek, rawat jalan
Arsy Ar Rayhan, 15, Jakarta, rawat jalan
Dzul Hilmi Hanif, 15, Depok,
Muhammad Azmi Ta’dad, 15, Bekasi, rawat jalan
Rifqi Fathurrahman, 16, DI Yogyakarta, rencana rujuk
Farel Vanesa, 17, Bekasi, rawat inap
Khairul Rohim, 16, Bekasi
Rando Tri, 16, Jakarta
Santri terevakuasi dalam kondisi tewas :
Wildan asal Surabaya, ditemukan pukul 17.50 WIB
Reyfhan Hafidz asal Tangerang, ditemukan pukul 19.02 WIB
Bima Arya asal Surabaya, ditemukan pukul 20.00 WIB
Fadhil Hanafi (asal Depok)
Santri terevakuasi dalam kondisi selamat :
Rifai F. asal Bantul, dievakuasi pukul 13.00 WIB
M Farel V.H. asal Bekasi, dievakuasi pukul 14.03 WIB
Rohim asal Bekasi, dievakuasi pukul 15.00 WIB
Randa T. asal Bekasi, dievakuasi pukul 16.10 WIB
Bara asal Blitar, dievakuasi pukul 16.38 WIB
Direktur Pesantren Kemenag RI, Basnang Said, menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa ini.
“Kami sangat berduka atas peristiwa ini. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Doa kami panjatkan untuk para santri yang wafat—semoga Allah SWT menerima mereka dalam kasih sayang-Nya dan menempatkan mereka di surga terbaik," ungkap Dr. Basnang Said.
"Kepada para santri yang dirawat, kami doakan segera sembuh. Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi kekuatan dan keikhlasan,” kata dia menambahkan.
Basnang juga mengapresiasi respons cepat berbagai pihak yang membantu proses evakuasi korban, termasuk ustadz, BPBD, petugas Damkar, kepolisian, tenaga medis, serta relawan.
“Ini adalah musibah yang tak diharapkan, dan menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya pengawasan keselamatan di lingkungan pendidikan,” tambahnya.(dka)
Editor : Tasropi