RADARSEMARANG.ID - Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang melarang warung dan pengecer, menjual gas LPG 3kg atau gas melon memunculkqn polemik di kalangan masyarakat.
Sejak aturan itu diberlakukan, antrean panjang masyarakat yang ingin membeli gas LPG 3 kilogram, menjadi pemandangan sehari-hari.
Bahkan antrean yang melelahkan itu, telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa masyarakat.
Menteri ESDM,Bahlil Lahadalia menjadi sosok yang menjadi sorotan tajam masyarakat, karena dinilai mengeluarkan kebijakan kontroversial yang sangat memberatkan masyarakat kecil.
Lantas siapa sebenarnya pria yang akrab dipanggil Bahlil ini? kita kupas sosok yang konon dulu pernah menjadi sopir angkota di Papua, hingga menjadi salah satu tokoh penting di negeri ini, menjadi menteri.
Bahlil lahir di Seram, 7 Agustus 1976, dia bersekolah SD di kabupaten Seram Timur, sebelum melanjutkan sekolah SMP dan SMA di Fakfak,Papua. Saat duduk dibangku SD, Bahlil kecil sempat ikut jualan kue.
Saat duduk dibangku SMP, dia menjadi kondektur angkota usai pulang sekolah. Ketika di bangku SMA, Bahlil kemudian naik kelas profesi sampingannya, sebagai sopir angkutan kota di Fakfak.
Lulus SMA, Bahlil kemudian melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay,Jayapura,Papua. Lulus pada usia 26 tahun, kemudian bekerja di sejumlah perusahaan swasta.
Pengalamannya bekerja di beberapa perusahaan swasta, membuat Bahlil memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri. Tak tanggung-tanggung, dia mendirikan 3 perusahaan sekaligus.
Kemajuan usahannya membuat Bahlil di lirik sejumlah partai politik, dia kemudian melabuhkan dirinya menjadi pengurus Partai Golongan Karya. Pada tahun 2009, Bahlil sempat keluar dari partai Golkar.
Pada saat Pilpres 2019, Bahlil Lahadalia mendukung capres Jokowi, untuk jabatan keduanya sebagai Presiden RI. Dia menjadi Direktur Direktorat Penggalang Pemilih Muda tim kampanye pasangan Joko bersama Maruf Amin.
Pasca kemenangan Jokowi-Amin, Bahlil diangkat menjadi kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal pada 29 Oktober 2019. Dua tahun kemudian dia dilantik sebagai menteri investasi pertama Indonesia pada 28 April 2021, setelah pembentukan Kementerian Investasia.
Pada 4 Februari 2022, Menteri ESDM,Arifin Tasrif tiba-tiba diganti dengan Lahadalia sebagai menteri ad interim karena alasan masalah kesehatan yang dirahasiakan. Perubahan tersebut berlaku efektif mulai 3 Februari 2022.
Pada akhirnya di ketahui alasan sebenarnya karena Tasrif terinfeksi Covid. Pada 19 Agustus 2024, Bahlil dilantik oleh Jokowo Widodo menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menggantikan Tasrif dan dilantik di Istana Negara,Jakarta. (sls/bas)
Editor : Baskoro Septiadi