Pantauan di lapangan, letusan Gunung Lewotobi juga disertai dengan hujan batu dan sambaran petir, menambah suasana mencekam yang dirasakan oleh warga setempat.
Untuk meminimalisasi korban jiwa, Pemerintah Daerah setempat mengungsikan warga ke tiga desa terdekat. Yaitu Desa Konga, Lewolaga, dan Bokang di Kecamatan Titehena.
Baca Juga: Begini Rincian Data Lengkap Kios dan Los di Pasar Karanggede Boyolali yang Terbakar
Baca Juga: BREAKING NEWS! Rupanya Ini Penyebab Pasar Karanggede Boyolali Terbakar, Sejumlah Pedagang Menangis
Seperti diberitakan, pada Minggu (3/11) malam, terjadi letusan atau erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT.
Selain menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat sekitar, jumlah korban jiwa juga tidak sedikit. Saat ini, pemerintah daerah setempat langsung meningkatkan yang semula siaga darurat menjadi tanggap darurat. Tujuannya, untuk menangani dampak erupsi secara lebih intensif.
Avelina Hallan selaku Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur membeber, peningkatan status diperlukan untuk mempercepat proses bantuan kepada masyarakat terdampak. “Untuk status saat ini sudah tanggap darurat, sehingga siaga darurat dicabut," ujar Avelina, Senin (4/11).
Dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, sejumlah desa di sekitar lokasi letusan mengalami kerusakan serius.
Rinciannya, enam desa di Kecamatan Wulanggitang. Yaitu: Desa Klatanlo, Hokeng Jaya, Nawokote, Boru, Boru Kedang, dan Pululera, serta Desa Dulipali di Kecamatan Ile Bura, terdampak langsung oleh hujan abu dan batu dari gunung.
Berapa korban jiwa akibat letusan Gunung Lewotobi? BPBD melaporkan, hingga Senin pagi (4/11), tercatat total korban jiwa mencapai sepuluh orang. Rinciannya, sembilan korban yang dievakuasi pada pagi hari dan satu korban yang ditemukan di bawah reruntuhan bangunan.
Baca Juga: Ternyata Begini Fungsi Fitur Baru Custom List di WhatsApp
Pantauan di lapangan, sebagian besar korban berasal dari Desa Klatanlo, yang berada sekitar lima kilometer dari pusat letusan.
Tenda-tenda darurat didirikan untuk menampung para pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
“Tenda-tenda untuk pengungsi juga sudah didirikan untuk menampung para pengungsi," tambah Avelina Hallan. Langkah ini diambil untuk mengamankan warga dari potensi bahaya lanjutan di sekitar gunung.
Menghadapi situasi ini, Badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status Gunung Lewotobi Laki-Laki ke Level IV (Awas) mulai pukul 24.00 WITA pada Minggu malam (3/11).
Kepala PVMBG, P. Hadi Wijaya, menyebut bahwa pemantauan intensif menunjukkan peningkatan signifikan dalam aktivitas vulkanik gunung tersebut.
PVMBG juga memberikan peringatan kepada masyarakat dan wisatawan agar menghindari aktivitas dalam radius tujuh kilometer dari pusat erupsi.
Selain itu, PVMBG mengingatkan warga di sekitar area lereng gunung untuk berhati-hati terhadap potensi banjir lahar, terutama bila terjadi hujan deras.
Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan masker agar terlindung dari paparan abu vulkanik yang dapat membahayakan sistem pernapasan.
Dengan jumlah letusan yang tercatat mencapai 871 kali sepanjang tahun 2024, Gunung Lewotobi Laki-Laki menunjukkan peningkatan aktivitas pada akhir Oktober hingga awal November ini.
Pemerintah daerah bersama BPBD terus memantau situasi di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki. Dengan dukungan dari tim evakuasi dan personel pemadam kebakaran, mereka berusaha mengendalikan situasi dan memberikan bantuan kepada warga terdampak. (isk)
Editor : Iskandar