Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Tata Cara Sholat Sunnah Mutlak Atau Sholat Menolak Bahaya

Falakhudin • Kamis, 29 Agustus 2024 | 16:00 WIB
Umat Muslim sedang Melaksanakan Shalat di MAJT.
Umat Muslim sedang Melaksanakan Shalat di MAJT.

RADAR SEMARANG.ID, Semarang — Selain sholat wajib lima waktu, terdapat banyak sholat sunnah yang disunnahkan untuk dikerjakan.

Selain berfungsi untuk menyempurnakan sholat wajib, masing-masing shalat sunnah mempunyai keistimewaan tersendiri.

Rebo Wekasan dianggap sebagai hari datangnya sumber penyakit dan marabahaya.

 Baca Juga: Barokah Melihat Wajah Orang Alim, Malaikat akan Memintakan Ampun hingga Hari Kiamat.

Rata-rata, upacara yang dilaksanakan pada Rabu Wekasan adalah bersifat tolak bala.

Daerah yang mengenal dan melakukan tradisi ini mayoritas adalah daerah pesisiran yang dikenal lebih dulu, kuat, dan kosmopolit keislamannya dibanding daerah pedalaman Jawa.

Amalan ini berangkat dari kesaksian sebagian orang ahli makrifat termasuk orang yang ahli mukasyafah (orang yang bashirah sirrinya telah dibuka oleh Allah sehingga dapat mengetahui sesuatu yang gaib) dan ahli tamkin (orang yang sudah mapan di dalam derajat haqiqat/makrifat).

Mereka berkata bahwa setiap tahun Allah menurunkan bencana jumlahnya 320.000 bencana, kesemuanya diturunkan pada hari Rabu yang terakhir bulan Safar.

 Baca Juga: Dahsyat! Inilah 6 Amalan di Bulan Safar Jangan Sampai Dilewatkan.

Secara definitif sholat sunnah mutlak adalah shalat sunnah yang dilakukan tanpa terikat oleh waktu, seperti waktu-waktu shalat lima waktu.

Juga tidak disebabkan adanya sebab tertentu, seperti ketika hendak bepergian, ingin meminta hujan, dan lainnya.

Bahkan tidak memiliki jumlah rakaat tertentu, seperti shalat lima waktu dan lainnya.

Sholat sunnah ini boleh dilakukan kapan pun, di mana pun, dan dengan jumlah berapa pun, dengan catatan selama tidak dilakukan pada waktu-waktu yang dilarang (setelah sholat Subuh, Ashar, dan waktu istiwa’ selain di Tanah Haram, Makkah).

الصَلَاةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ فَمَنْ شَاءَ اِسْتَكْثرْ وَمَنْ شَاءَ اِسْتَقلْ  

Artinya, “Shalat adalah sebaik-baiknya apa yang yang disyariatkan.

Barang siapa yang berkehendak maka perbanyaklah dan barang siapa yang berkehendak maka sedikitkanlah” (HR Ibnu Hibban).

Shalat sunnah yang satu ini boleh dilakukan pada malam hari, juga boleh pada siang harinya, yang penting tidak dilakukan bertepatan dengan waktu-waktu yang dilarang melakukan shalat sunnah.

Hanya saja, shalat sunnah mutlak yang dilakukan pada malam hari lebih utama dari shalat sunnah mutlak yang dilakukan pada siang hari.

 Baca Juga: Do’a Kemerdekaan 17 Agustus yang Pernah Dibacakan KH Maemun Zubair di Peringatan HUT RI lengkap Arab, Latin dan Artinya

Dalam kitab Al-Risalah Al-Badi'ah dianjurkan untuk sholat 4 rakaat dengan niat shalat mutlak:

Adapun Tata Cara melaksanakan Shalat Sunnah Mutlak adalah sebagai berikut:

  1. Mengucapkan Niat

اُصَلِّيْ سُنَّةً اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

 Usholli sunnatan arba’a rakaa’atin lillaahi ta’alaa. 

Artinya: Saya niat shalat sunnah empat rakaat karena Allah Ta’ala.

  1. Rakaat Pertama membaca

     - Surat Al-Fatihah 1x

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١

bismillâhir-raḫmânir-raḫîm

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢

al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ٣

ar-raḫmânir-raḫîm

Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ٤

mâliki yaumid-dîn

Pemilik hari Pembalasan.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ٥

iyyâka na‘budu wa iyyâka nasta‘în

 

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦

ihdinash-shirâthal-mustaqîm

Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ٧

shirâthalladzîna an‘amta ‘alaihim ghairil-maghdlûbi ‘alaihim wa ladl-dlâllîn

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.

     - Surat Al-Kautsar 17x

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ ١

innâ a‘thainâkal-kautsar

Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢

fa shalli lirabbika wan-ḫar

Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!

اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ٣

inna syâni'aka huwal-abtar

Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

  1. Rakaat Kedua membaca

    -  Surat Al-Fatihah 1x

 

    - Surat Al-Ikhlas 5x

 
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ١

qul huwallâhu aḫad

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ٢

allâhush-shamad

 

 

Allah tempat meminta segala sesuatu.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ٣

lam yalid wa lam yûlad

Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ٤

wa lam yakul lahû kufuwan aḫad

serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

  1. Rakaat Ketiga membaca

     - Surat Al-Fatihah 1x

     - Surat Al-Falaq 1x

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ ١

qul a‘ûdzu birabbil-falaq

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh)

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ ٢

min syarri mâ khalaq

dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,

 

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ ٣

wa min syarri ghâsiqin idzâ waqab

dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ ٤

wa min syarrin-naffâtsâti fil-‘uqad

dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya),

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ٥

wa min syarri ḫâsidin idzâ ḫasad

dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

 

 Baca Juga: Sejarah dan Tradisi Rebo Wekasan, Rabu Terakhir di bulan Safar

 

  1. Rakaat Keempat Membaca:

     - Surat Al-Fatihah 1x

     - Surat An-Naas 1x

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ١

qul a‘ûdzu birabbin-nâs

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,

مَلِكِ النَّاسِۙ ٢

malikin-nâs

raja manusia,

اِلٰهِ النَّاسِۙ ٣

 

ilâhin-nâs

sembahan manusia

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ٤

min syarril-waswâsil-khannâs

dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ٥

alladzî yuwaswisu fî shudûrin-nâs

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ٦

minal-jinnati wan-nâs

dari (golongan) jin dan manusia.”

 

 Baca Juga: Meriah! Karnaval Pembangunan Desa Sumberejo Kecamatan Pabelan Ditonton Ribuan Warga

  1. Melaksanakan Shalat Sunnah 4 rakaat dengan satu kali salam.
  2. Setelah salam membaca do’a sebagai berikut:

سْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللهم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Artinya: Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang.

Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya.

Ya Allah, wahai Yang Maha Kuat lagi Maha Mungkin, wahai Yang Maha Perkasa, segala makhluk tunduk kepada kemuliaan-Mu.

Cukupkanlah aku dari segala makhluk-Mu.

Wahai Yang Maha Baik, Yang Maha Indah, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pemberi, Yang Maha Mulia, wahai Yang tiada Tuhan selain Engkau, berilah rahmat kepada ku dengan rahmat-Mu.

Wahai Yang Maha Pemurah di antara yang pemurah.

Ya Allah, dengan rahasia Hasan, saudara kandungnya, kakeknya, ayahnya, ibunya, dan anak-anaknya, cukupkan aku dari kejahatan hari ini dan apa yang turun pada hari ini.

Wahai Yang Maha Cukup untuk mengatasi semua urusan, wahai Yang Maha Menjauhkan bencana.

Allah akan cukupkan kamu dari mereka, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Dia adalah Pelindung yang terbaik.

Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

 Baca Juga: Rabu Terakhir di bulan Safar, Ini Sejarah dan Tradisi yang Biasa Dilakukan saat Rabu Wekasan

Semoga Allah memberikan salawat kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya.

Sholat ini harus diniati shalat Sunnah mutlak atau sholat menolak bahaya. Tidak boleh diniati Sholat Rebo Wekasan atau shalat bulan safar, semoga bermanfaat. (fal/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#BENCANA #Mutlak #Makkah #wajib #manusia #Tuhan #sunnah #jalan lurus #Safar #Shalawat #shalat #muhammad #raja #jawa #Marabahaya #Rebo wekasan