Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Gempa Magnitudo 5.8 Jogjakarta Dikaitkan dengan Gempa Megathrust? Ini Penjelasan Pakar Gempa UGM

Muhammad Iqbal Amar • Selasa, 27 Agustus 2024 | 20:17 WIB
Ahli Gempa Bumi dan Dosen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM, Dr. Ir. Gayatri Indah Marliyani, Ph.D.
Ahli Gempa Bumi dan Dosen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM, Dr. Ir. Gayatri Indah Marliyani, Ph.D.

RADARSEMARANG.ID - Gempa Magnitudo 5.8 Jogjakarta DIJ yang terjadi pada Senin malam sekitar pukul 19.57 WIB ramai diperbincangkan publik dan dikaitkan dengan gempa megathrust.

Belakangan ini memang gempa megathrust menjadi pembicaraan hangat di media massa dan media sosial. 

Peristiwa gempa bumi di wilayah selatan Gunungkidul itu sempat trending di X.

Bahkan informasi tentang gempa megathrust juga dibenarkan oleh BMKG. Namun tidak bisa diprediksi pastinya kapan gempa megathrust terjadi.

Gempa bumi yang mengguncang Gunungkidul, Bantul, Sleman, Kulonprogo, Kota Jogjakarta Senin malam dikaitkan dengan gempa megathrust.

Banyak publik berspekulasi bahwa gempa yang mengguncang wilayah tenggara Gunungkidul DIY (26/8/2024) pukul 19.57 WIB adalah bagian dari aktivitas gempa megathrust.

Namun anggapan ini disangkal oleh pakar gempa dari Universitas Gajah Mada (UGM).

dilansir dari Jawa Pos Radar Jogja, Ahli Gempa Bumi dan Dosen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM Dr. Ir. Gayatri Indah Marliyani, Ph.D mengatakan, gempa tektonik ini terjadi di zona subduksi Jawa, pada pertemuan antara 2 lempeng benua dan samudera.

Pusat gempa berada di lepas pantai dengan kedalaman 42 km.

Gempa tersebut terjadi di zona subduksi yang dikenal sebagai daerah yang rawan terjadi gempa megathrust.

Namun, gempa tadi malam tidak diklasifikasikan sebagai gempa megathrust.

"Gempa megathrust secara definisi adalah gempa besar dengan magnitudo mendekati atau lebih dari M9 yang berpotensi menyebabkan tsunami," katanya kepada Radar Jogja, Selasa (27/8/2024).

Gayatri menjelaskan, bahwa gempa yang terjadi Senin malam itu merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di zona subduksi aktif seperti di selatan Jawa.

"Kejadian gempa dengan magnitudo kecil (M2-3) hampir setiap hari terjadi di zona ini, gempa menengah (M4-5) sering terjadi, sementara gempa dengan magnitudo besar (>M6) lebih jarang terjadi," katanya.

Menurutnya, melihat pola gempa susulan yang terjadi menunjukkan pola yang semakin berkurang baik secara besaran magnitudo dan frekuensinya.

Hal ini menjadi penanda bahwa zona ini menuju kesetimbangan kembali.

"Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan dan dapat melanjutkan aktivitas seperti biasa," tambahnya. (mia/bas)

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#magnitudo #zona subduksi #Jogjakarta DIJ #Universitas Gajah Mada (UGM) #Sleman #gempa megathrust #Gempa #Media Massa #gunungkidul #media sosial #trending di X #gempa bumi #Kulonprogo #bantul #gempa magnitudo #kota jogjakarta #BMKG #pusat gempa #selatan Jawa