RADARSEMARANG.ID – Kasus meninggalnya Aulia Risma Lestari yang merupakan dokter muda PPDS anestesi Undip Semarang ini ternyata menyisakan banyak tanya.
Aulia Risma Lestari juga dikenal sebagai mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Undip Semarang.
Korban meninggal bunuh diri di kamar kosnya daerah Lempongsari, Kecamatan Gajahmungkur Semarang, Senin (12/8/2024).
Kuat dugaan, dibalik meninggalnya Aulia Risma Lestari dikarenakan korban sering dibully oleh seniornya Ketika menempuh PPDS Anestesi Undip Semarang di RSUP dr. Kariadi.
Sebab, selain di bully dan beban yang harus dia lakukan ternyata Aulia Risma Lestari juga memiliki Riwayat penyakit HNP atau Hernia Nukles Puposus.
Sebenarnya apa itu Hernia Nukleus Pulposus ?
Herniated Nucleus Pulposus (HNP) adalah kondisi di mana bantalan tulang belakang mengalami kelemahan sehingga rentan bergeser, terdorong keluar, menonjol, dan menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang.
Perlu diketahui, nukleus pulposus adalah struktur berbentuk cincin yang terletak di antara tulang belakang (vertebrae) dan berfungsi sebagai penghubung antar ruas tulang belakang.
Nukleus pulposus tersusun dari bahan seperti jeli yang terdiri dari air (66–86%) dan jaringan serat kolagen yang longgar. Struktur elastis inilah yang memungkinkan cakram tulang belakang dapat menahan tekanan dan bergerak dengan lentur mengikuti postur tubuh.
Penyebab Hernia Nukleus Pulposus
- Beberapa penyebab umum dan faktor risiko dari HNP meliputi:
- Penurunan kekuatan dan elastisitas inti dari cakram tulang belakang karena bertambahnya usia.
- Gaya hidup tidak sehat seperti kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan merokok.
- Kelebihan berat badan (obesitas).
- Sering mengangkat, menarik, atau mendorong beban berat.
- Mengalami cedera fisik akibat terjatuh atau benturan pada tulang belakang.
- Memiliki penyakit degeneratif.
- Memiliki faktor genetik atau riwayat keluarga dengan HNP.
Gejala Hernia Nukleus Pulposus
Gejala hernia nukleus pulposus dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan lokasi dimana HNP terjadi. Beberapa gejala umum HNP meliputi:
- Nyeri di area tulang belakang yang dapat menjalar ke pinggul, panggul, paha, atau tungkai. Nyeri ini bisa bersifat tajam, terbakar, atau terasa mati rasa.
- Kesemutan dan mati rasa di bagian tubuh yang dipersarafi oleh saraf yang terdampak. Misalnya, jika saraf yang terjepit berada di pinggang, maka sensasi kesemutan atau mati rasa dapat dirasakan di area pinggul, paha, atau kaki. Jika terjadi HNP servikal (leher), maka dapat menimbulkan rasa nyeri di leher dan bahu yang dapat menjalar hingga ke lengan.
- Kelemahan otot yang mengakibatkan sulitnya mengangkat atau menggerakkan bagian tubuh tertentu.
- Keterbatasan gerakan tubuh seperti kesulitan berdiri, duduk, atau berjalan dengan nyaman.
- Sensitivitas yang tinggi di sekitar tulang belakang atau area saraf yang terjepit dapat menyebabkan nyeri yang lebih intens.
Diagnosis Hernia Nukleus Pulposus
Diagnosis Herniated Nucleus Pulposus (HNP) melibatkan anamnesis atau wawancara medis, pemeriksaan fisik yang cermat oleh dokter spesialis saraf, serta pemeriksaan penunjang.
Riwayat Kesehatan
Dokter akan mewawancarai pasien untuk mengetahui riwayat kesehatan, termasuk gejala yang dialami, lama gejala berlangsung, dan faktor-faktor risiko yang mungkin terkait dengan keluhan pasien.
Informasi tentang riwayat kesehatan keluarga juga mungkin relevan dalam menentukan kemungkinan adanya faktor genetik yang berperan dalam perkembangan penyakit.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan termasuk pemeriksaan neurologis untuk menilai fungsi dan respons saraf, kekuatan otot, kemampuan berjalan, kemampuan untuk merasakan sentuhan ringan, tusukan peniti, atau getaran (vibrasi).
Selain itu dilakukan pemeriksaan postur dan gerakan tubuh untuk mengetahui ada atau tidaknya ketidaknormalan atau kelemahan otot yang terkait dengan HNP.
Tes Pencitraan
Beberapa tes pencitraan yang umum digunakan untuk mendiagnosis HNP adalah:
- MRI (Magnetic Resonance Imaging).
- CT scan (Computed Tomography).
- X-ray.
- Myelogram (myelography).
Tes Penunjang Lainnya
Terkadang, tes penunjang tambahan seperti electromyography (EMG) atau tes saraf konduksi (nerve conduction study) digunakan untuk menilai fungsi saraf seperti seberapa baik sinyal atau impuls listrik bergerak di sepanjang jaringan saraf.
Pengobatan Hernia Nukleus Pulposus
Pengelolaan HNP dapat melibatkan pendekatan secara konservatif maupun invasif, berikut penjelasannya.
Terapi Konservatif
Terapi konservatif merupakan terapi pilihan pertama untuk penderita HNP. Terapi konservatif direkomendasikan untuk penderita HNP yang masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari, seperti buang air kecil, berdiri, dan berjalan. Berikut terapi konservatif yang dapat diberikan:
- Istirahat yang cukup.
- Pemberian obat-obatan seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dan pelemas otot.
- Injeksi kortikosteroid.
- Kompres hangat atau dingin pada area yang nyeri.
Terapi Invasif
Sementara itu, terapi invasif pada HNP dilakukan pada kasus-kasus di mana gejala HNP sudah tidak dapat membaik dengan obat-obatan atau terapi konservatif lainnya. Terapi invasif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu.
Ultrasound Guided Injections
Ultrasound guided injections sering digunakan sebagai bagian dari manajemen nyeri pada pasien HNP. Prosedur ini melibatkan penggunaan perangkat ultrasonografi (USG) untuk memandu injeksi obat-obatan seperti obat antiinflamasi atau kortikosteroid dan anestesi lokal ke area yang terdampak.
Pembedahan
Jika berbagai terapi tersebut tidak berhasil atau gejala pasien semakin parah, maka pembedahan dapat menjadi pilihan terakhir. Pembedahan untuk HNP biasanya dilakukan untuk mengangkat sebagian atau seluruh cakram hernia yang menyebabkan tekanan pada saraf.
- Beberapa prosedur pembedahan yang umum digunakan untuk HNP meliputi:
- Discectomy (bagian dari cakram hernia diangkat untuk mengurangi tekanan pada saraf).
- Laminectomy (mengangkat sebagian porsi dari tulang belakang (lamina) untuk memperbesar kanal tulang belakang sehingga dapat meringankan tekanan pada saraf).
- Fusion (biasanya diperuntukkan untuk kasus HNP berat di mana operasi ini akan mengangkat cakram hernia, kemudian tulang belakang di bagian atas dan bawah dari cakram hernia tersebut digabungkan secara permanen).
Komplikasi Hernia Nukleus Pulposus
HNP dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang serius jika tidak segera ditangani dengan baik atau jika kondisinya semakin memburuk. Beberapa komplikasi yang mungkin timbul akibat HNP antara lain:
Kerusakan fungsi saraf yang dapat semakin memburuk hingga terjadi kelumpuhan.
Gangguan kandung kemih atau usus, yang dapat menyebabkan terjadinya inkontinensia urine atau inkontinensia tinja.
- Cauda Equina Syndrome.
- Saddle anesthesia.
- Pencegahan Hernia Nukleus Pulposus
- Meskipun tidak ada cara pasti untuk mencegah HNP, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risikonya:
- Mempertahankan berat badan ideal dan sehat.
- Rutin berolahraga.
- Menjaga postur tubuh yang benar ketika berdiri, duduk, dan mengangkat beban.
- Menghindari kebiasaan merokok.
- Menggunakan peralatan kerja yang ergonomis. Misalnya, gunakan kursi dan meja kerja yang sesuai untuk mengurangi tekanan pada tulang belakang.
- Rutin melakukan peregangan untuk menjaga fleksibilitas dan mengurangi ketegangan otot yang berlebihan.
- Sesekali berdiri jika pekerjaan mengharuskan untuk duduk dalam waktu lama.
- Tidur dengan posisi yang baik.
Namun, jika kondisi badan memiliki gejala seperti artikel di atas atau memiliki Riwayat keluhan terkait tulang bakang.
Diharapkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf untuk memeriksa lebih lanjut. (dka/bas)
Editor : Baskoro Septiadi