Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Mengenal Apa Itu Hernia Nukleus Pulposus yang Diduga Menjadi Riwayat Penyakit Dokter Muda Aulia Risma Lestari

Deka Yusuf Afandi • Jumat, 16 Agustus 2024 | 22:00 WIB
Riwayat penyakit yang dimiliki oleh Aulia Risma Lestari dokter muda PPDS anestesi Undip Semarang.
Riwayat penyakit yang dimiliki oleh Aulia Risma Lestari dokter muda PPDS anestesi Undip Semarang.

RADARSEMARANG.ID – Kasus meninggalnya Aulia Risma Lestari yang merupakan dokter muda PPDS anestesi Undip Semarang ini ternyata menyisakan banyak tanya.

Aulia Risma Lestari juga dikenal sebagai mahasiswi  Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Undip Semarang.

Korban meninggal bunuh diri di kamar kosnya daerah Lempongsari, Kecamatan Gajahmungkur Semarang, Senin (12/8/2024). 

Kuat dugaan, dibalik meninggalnya Aulia Risma Lestari dikarenakan korban sering dibully oleh seniornya Ketika menempuh PPDS Anestesi Undip Semarang di RSUP dr. Kariadi.

Sebab, selain di bully dan beban yang harus dia lakukan ternyata Aulia Risma Lestari juga memiliki Riwayat penyakit HNP atau Hernia Nukles Puposus.

Sebenarnya apa itu Hernia Nukleus Pulposus ?

Herniated Nucleus Pulposus (HNP) adalah kondisi di mana bantalan tulang belakang mengalami kelemahan sehingga rentan bergeser, terdorong keluar, menonjol, dan menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang.

Perlu diketahui, nukleus pulposus adalah struktur berbentuk cincin yang terletak di antara tulang belakang (vertebrae) dan berfungsi sebagai penghubung antar ruas tulang belakang.

Nukleus pulposus tersusun dari bahan seperti jeli yang terdiri dari air (66–86%) dan jaringan serat kolagen yang longgar. Struktur elastis inilah yang memungkinkan cakram tulang belakang dapat menahan tekanan dan bergerak dengan lentur mengikuti postur tubuh.

 Penyebab Hernia Nukleus Pulposus

Gejala Hernia Nukleus Pulposus

 Gejala hernia nukleus pulposus dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan lokasi dimana HNP terjadi. Beberapa gejala umum HNP meliputi:

 Diagnosis Hernia Nukleus Pulposus

 Diagnosis Herniated Nucleus Pulposus (HNP) melibatkan anamnesis atau wawancara medis, pemeriksaan fisik yang cermat oleh dokter spesialis saraf, serta pemeriksaan penunjang.

 Riwayat Kesehatan

Dokter akan mewawancarai pasien untuk mengetahui riwayat kesehatan, termasuk gejala yang dialami, lama gejala berlangsung, dan faktor-faktor risiko yang mungkin terkait dengan keluhan pasien.

Informasi tentang riwayat kesehatan keluarga juga mungkin relevan dalam menentukan kemungkinan adanya faktor genetik yang berperan dalam perkembangan penyakit.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dilakukan termasuk pemeriksaan neurologis untuk menilai fungsi dan respons saraf, kekuatan otot, kemampuan berjalan, kemampuan untuk merasakan sentuhan ringan, tusukan peniti, atau getaran (vibrasi).

Selain itu dilakukan pemeriksaan postur dan gerakan tubuh untuk mengetahui ada atau tidaknya ketidaknormalan atau kelemahan otot yang terkait dengan HNP.

Tes Pencitraan

Beberapa tes pencitraan yang umum digunakan untuk mendiagnosis HNP adalah:

 Tes Penunjang Lainnya

Terkadang, tes penunjang tambahan seperti electromyography (EMG) atau tes saraf konduksi (nerve conduction study) digunakan untuk menilai fungsi saraf seperti seberapa baik sinyal atau impuls listrik bergerak di sepanjang jaringan saraf.

 Pengobatan Hernia Nukleus Pulposus

Pengelolaan HNP dapat melibatkan pendekatan secara konservatif maupun invasif, berikut penjelasannya.

Terapi Konservatif

 Terapi konservatif merupakan terapi pilihan pertama untuk penderita HNP. Terapi konservatif direkomendasikan untuk penderita HNP yang masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari, seperti buang air kecil, berdiri, dan berjalan. Berikut terapi konservatif yang dapat diberikan:

 Terapi Invasif

 Sementara itu, terapi invasif pada HNP dilakukan pada kasus-kasus di mana gejala HNP sudah tidak dapat membaik dengan obat-obatan atau terapi konservatif lainnya. Terapi invasif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu.

Ultrasound Guided Injections

Ultrasound guided injections sering digunakan sebagai bagian dari manajemen nyeri pada pasien HNP. Prosedur ini melibatkan penggunaan perangkat ultrasonografi (USG) untuk memandu injeksi obat-obatan seperti obat antiinflamasi atau kortikosteroid dan anestesi lokal ke area yang terdampak. 

 Baca Juga: Polisi Temukan Barang-barang Ini Ketika Olah TKP Kamar Kos Dokter Muda Mahasiswi PPDS Anestesi Undip yang Bunuh Diri

Pembedahan

Jika berbagai terapi tersebut tidak berhasil atau gejala pasien semakin parah, maka pembedahan dapat menjadi pilihan terakhir. Pembedahan untuk HNP biasanya dilakukan untuk mengangkat sebagian atau seluruh cakram hernia yang menyebabkan tekanan pada saraf.

Komplikasi Hernia Nukleus Pulposus

HNP dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang serius jika tidak segera ditangani dengan baik atau jika kondisinya semakin memburuk. Beberapa komplikasi yang mungkin timbul akibat HNP antara lain:

Kerusakan fungsi saraf yang dapat semakin memburuk hingga terjadi kelumpuhan.

Gangguan kandung kemih atau usus, yang dapat menyebabkan terjadinya inkontinensia urine atau inkontinensia tinja.

Namun, jika kondisi badan memiliki gejala seperti artikel di atas atau memiliki Riwayat keluhan terkait tulang bakang.

Diharapkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf untuk memeriksa lebih lanjut. (dka/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#Aulia Risma Lestari #Hernia Nukleus Pulposus (HNP) #dokter muda #dokter muda fk undip #hernia nukleus pulposus #catatan aulia risma lestari #Undip Semarang #Dokter Muda Aulia Risma Lestari #UNDIP