RADARSEMARANG.ID - Panthera Tigris Sondaicus, atau yang kita biasa kenal dengan Harimau Jawa merupakan sub-spesies harimau yang dahulu pernah mendiami pulau Jawa dan penyebarannya sangat masif.
Harimau ini punah akibat perburuan dan 'tradisi rampogan macan' yang seringkali digunakan untuk menghibur para meneer Belanda pada masa kolonial.
Harimau ini sudah ditetapkan sebagai salah satu spesies yang sudah punah ditahun 2008 dan 2013 oleh IUCRN bersama kerabat dekatnya, Harimau Bali.
Keaslian klaim IUCRN tersebut masih dianggap oleh warga sebagai klaim yang abu-abu, sebab menurut pengakuan warga yang berada di wilayah kantong-kantong persebaran Harimau Jawa.
Mereka masih bersikeras melihat dan bersaksi bahwa sang raja hutan Jawa tersebut masih lestari, bahkan beranak pinak di sekitaran wilayah tersebut.
Hal tersebut juga masih belum menjadi klaim yang dipercaya oleh ilmuwan, sebab masyarakat Indonesia khususnya Jawa.
Masih menggunakan kata 'macan' sebagai penunjuk fisik bentuk spesies terhadap spesies harimau dan macan tutul, hingga bisa saja klaim mereka menyaksikan sosok 'Harimau Jawa' ini merupakan kasus salah lihat.
Spesies kucing besar lain yang hidup di Pulau Jawa adalah Macan Tutul Jawa, yang sering berkeliaran di sekitaran daerah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Banyak juga penemuan-penemuan jejak kaki terduga Harimau Jawa yang hingga kini belum menemukan titik terang keberadaannya.
Tetapi, pada tahun 2019, sekelompok warga dan peneliti berhasil menemukan bukti yang lebih konkrit terkait keberadaan Harimau Jawa.
Mereka menemukan beberapa helai rambut yang tersangkut disebuah pagar milik warga di dekat area perkebunan Desa Cipendeuy, Sukabumi, Jawa Barat.
Bukti tersebut lalu langsung diserahkan kepada pihak konservasi dan dilakukan penelitian lanjutan dengan identifikasi DNA Harimau Jawa yang disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense.
Baca Juga: Kabar Gembira! Satu Anak Badak Sumatera Lahir di Taman Nasional Way Kambas
DNA lain yang dicocokan adalah spesimes hidup dari spesies lain seperti Macan Tutul Jawa, Harimau Bengal, Harimau Amur dan Harimau Sumatra.
Dilansir jurnal yang disebarluaskan oleh Universitas Cambridge hasil tersebut menyatakan kemiripan DNA rambut itu terhadap spesies-spesies lain sejumlah 0.074 ± SE 0.009, 0.071 ± SE 0.009, 0.072 ± SE 0.009 and 0.088 ± SE 0.010.
Sedangkan pada DNA spesimen Harimau Jawa yang berada di Museum Biologi sebesar 0.040 ± SE 0.006.
Hal tersebut mengindikasikan kemungkinan masih hidupnya hewan loreng yang sempat menjadi predator puncak di Pulau Jawa tersebut.
Editor : Baskoro Septiadi