RADARSEMARANG.ID - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB), Abdulllah Azwar Anas menjanjikan pengangkatan tenaga honorer menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Azwar Anas juga menjelaskan para tenaga honorer cukup mengikuti test namun hanya sekedar formalitas untuk pengangkatan.
"Data 2,3 juta harus diselesaikan, basisnya adalah yang di BKN (Badan Kepegawaian Negara) ini harus kita tuntaskan. Soal test hanya formalitas, 100 persen mereka diterima. Jadi test ini formalitas untuk mendata ulang," kata Anas dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR RI.
Adapun tenaga honorer yang diangkat itu akan menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Dalam hal ini total tenaga honorer sebanyak 2.355.092, dan baru 570.504 tenaga honorer yang sudah diangkat menjadi ASN selama 2021-2023.
"Cuma bagi daerah yang tidak punya kemampuan keuangannya, dia tetap standby di paruh waktu. Bagi daerah yang sudah punya anggaran cukup dia pasti di penuh waktu. Jadi baik paruh waktu maupun penuh waktu, 2,3 juta tadi pasti dapat NIP," jelasnya.
Sebagaimana diketahui, tenaga kerja non-Aparatur Sipil Negara (ASN) atau honorer, bakal resmi dihapus pada 2024 mendatang.
Hal itu sejalan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meneken Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN.
Kendati begitu, Anas meminta Komisi II mengawasi kerja-kerja dan pengangkatan para honorer ini ke depannya.
Sebab, diakuinya bahwa pelaksanaan di daerah terkadang memiliki hasil berbeda.
Untuk itu, Anas berharap Komisi II dapat hadir dalam sebuah forum yang menghadirkan kepala daerah terkait pengangkatan honorer menjadi ASN.
"Oleh karena itu, besok izin, Pak Ketua, kami akan menyerahkan formasi, besok akan dihadiri oleh hampir seluruh kepala daerah, mohon, Pak Ketua bisa hadir. Menyampaikan di forum itu besok (Kamis) siang," jelasnya.
"Para sekjen, para kepala daerah hadir. Besok bapak warning ini bapak sampaikan, minimal Sekda besok datang. Akan dihadiri oleh 1.300-an orang, bapak sampaikan lagi. Kami sudah sampaikan enggak bosan-bosannya, Pak. Tapi di daerah ini memang lain-lain tadi," tutur dia.
Editor : Baskoro Septiadi