RADARSEMARANG.ID, Pekalongan-Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah (Jateng) menggelar rapat tertinggi lima tahun sekali Konferensi Wilayah (Konferwil) Tingkat Provinsi Jateng XVI di Gedung Aswaja Kota Pekalongan pada Selasa-Rabu 5-6 Maret 2024.
Konferensi yang akan memilih rais amm dan ketua tanfidziyah baru untuk lima tahun ke depan ini 2024-2029 ini, sedianya dilaksanakan enam bulan lalu. Namun karena ada gelaran tahapan Pemilu 2024, akhirnya baru digelar pada Maret 2024 ini. Artinya ada perpanjangan 6 bulan.
Konferensi ini tak hanya memilih ketua baru. Tapi akan membahas tentang arah PWNU Jateng ke depan dengan beberapa rekomendasi yang nantinya akan menjadi acuan program kerja pengurus terpilih 5 tahun ke depan. Termasuk melaksanakan pelaksanaan bahtsul masail terkait berbagai persoalan kekinian yang memerlukan penguatan dasar hukum keislamannya.
Baca Juga: Konferwil PWNU Jateng Tunggu Penjadwalan Ulang dari PBNU
“Kontestasi ini tidak boleh dijadikan sebagai ajang perebutan kekuasaan sebagaimana kontestasi-kontestasi politik. Tapi ini adalah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Siapapun yang menjadi rais am dan ketua tanfiziyah adalah jabatan pengabdian untuk mengabdi pada umat nahdliyin, bukan sebagai penguasa nahdliyin,” kata Wakil Ketua LD PWNU Jawa Tengah Abdul Basith.
Anggota Sterring Commite (SC) Konferensi Wilayah (Konferwil) XVI NU Jateng Samsul Huda mengatakan, materi sidang Komisi Program Kerja yang bakal dibahas di antaranya materi sidang yang pernah dibahas dalam Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) NU Jateng di Pesantren Al-Musyaffa Kendal.
“Selain program pengkaderan, ada 7 bidang program yang diamanatkan,” kaatanya.
Bidang tersebut meliputi bidang pendidikan yang mengamanatkan kepada LP Ma'arif dan RMI agar selalu meningkatkan kualitas dan kualitas pendidikan. Khusus untuk RMI agar menyiapkan operator yang berkompeten di tiap pesantren untuk mengantisipasi pelaksanaan UU Pesantren dan regulasi turunannya.
Baca Juga: Ini Profil Gus Rozin, Calon Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng
Selanjutnya di bidang ekonomi memaksimalkan potensi ekonomi di lingkungan internal NU, sederet aktivitas internal NU jika dikonsplidasikan menjadi dinamisator sektor riil warga NU dan menumbuhkan nilai tambah sektor ekonomi nahdliyin.
Di bidang politik yakni membangun forum silaturahim nahdliyin lintas potensi dan profesi. Kemudian bidang publikasi, data, dan dokumentasi ada penguatan gerakan dakwah an-Nahdliyah melalui media yang dikelola NU dan peningkatan kapasitas dan kompetensi mubaligh NU.
Sementara di bidang sosial dan kesehatan ada program memaksimalkan peran NU Jateng Peduli, fasilitasi dan advoksi pendirian rumah sakit/klinik NU. Bidang manajemen organisasi inventarisasi aset dan potensi jamiyah dan warga untuk tindakan bersama-sama mensukseskan program organisasi.
Sambungannya yang terakhir, bidang pemikiran keagamaan, mengupayakan memperluas forum-forum pembahasan isu-isu aktual dengan melibatkan seluruh potensi yang dimiliki NU. (ida)
Editor : Ida Nor Layla