RADARSEMARANG.ID, Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Provinsi Jawa Tengah yang digelar di Lapangan Pancasila Semarang, Kamis (15/8) berlangsung khidmat dalam nuansa Jawa.
MULAI dari pakaian hingga bahasa yang digunakan, semuanya menggunakan budaya Jawa. Peserta pria menggunakan beskap jangkep. Lengkap dengan blangkon dan keris. Peserta perempuan menggunakan kebaya dan kain batik yang anggun. Sementara bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa kromo inggil. ”Siyagaaaaa, …….. Tandya!!!!” komandan upacara memberikan aba-aba dengan bahasa Jawa, namun upacara tetap berlangsung khidmat.
Kebetulan, HUT Jawa Tengah jatuh pada hari Kamis. Sesuai peraturan Gubernur, Kamis pada Minggu kedua dan ketiga memang diwajibkan mengenakan busana daerah Jawa Tengah. Juga berdasar Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Tengah, bahwa setiap hari Kamis harus menggunakan bahasa Jawa di jajaran birokrasinya.
”Ing Ari Tanggap Warsa Jawi Tengah kaping 69 punika, salah satunggalipun PR ingkang kita emban inggih punika ngrumat kebhinnekaan. Kula kaliyan Gus Yasin mboten wonten menapa-menapanipun tanpa panjenengan sedaya. Panjenengan ugi mboten wonten menapa-menapanipun tanpa tangga tepalih. Urip iku kudu urup. Piye carane? Inggih menika kanthi ngrimat katentremaning bebrayan,” ujar inspektur upacara Ganjar Pranowo yang mengenakan beskap merah dalam sambutannya.
Tidak hanya sambutan gubernur, pembacaan sejarah singkat Jawa Tengah juga dilakukan oleh Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Rukma Setiabudi menggunakan bahasa Jawa krama inggil. Pembacaan dituntaskan dari awal mula, hingga sejumlah gubernur dan ketua DPRD yang pernah menjabat di Jawa Tengah.
”Zaman Panguwaos Walandi. Minangka salah satunggaling provinsi ing Indonesia, Jawi Tengah sampun kawentar wiwit zaman kajajah Walandi kanthi Editor : Agus AP