Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Setahun Menggelandang, Penjemputan Agung di Alas Roban Berlangsung Dramatis

Lutfi Hanafi • Rabu, 19 November 2025 | 21:14 WIB
JEMPUT AGUNG : Suasana haru ketika Kakak, adik dan tante bertemu Agung di Alas  difasilitasi oleh Kapolsek Gringsing AKP Agus Windarto dan Kades Plelen Siti Amri Alimatul Muflikhah, Kamis (19/11/2025)
JEMPUT AGUNG : Suasana haru ketika Kakak, adik dan tante bertemu Agung di Alas difasilitasi oleh Kapolsek Gringsing AKP Agus Windarto dan Kades Plelen Siti Amri Alimatul Muflikhah, Kamis (19/11/2025)

RADARSEMARANG.ID, Batang - Di bawah langit mendung Alas Roban, Rabu (19/11/2025), sebuah kisah keluarga yang sempat terputus akhirnya menemukan titik temu. Agung, pemuda 25 tahun asal Lamongan, yang setahun terakhir hidup menggelandang dari kota ke kota, akhirnya kembali dipeluk keluarganya.

Momen pertemuan itu berlangsung dramatis dan penuh air mata—hasil dari pencarian panjang yang sempat tak membuahkan hasil.

Agung pergi dari rumah setelah konflik keluarga yang muncul usai sang ayah meninggal dan ibunya menikah lagi.

Kepergian itu membuat ia hidup tanpa tujuan, dari Bojonegoro, Blora, Weleri, hingga akhirnya bertahan hidup di jalan alternatif Alas Roban di Batang.

Di tempat itu, ia menjual bensin eceran di tepi jalan, makan ala kadarnya, tidur beralas plastik, dan jika hujan turun, terpaksa berteduh di cungkup makam.

Padahal, di masa lalu, Agung pernah menjadi mahasiswa Informatika Universitas Jember sebelum drop out pada semester empat.

Kisah Agung baru mendapat titik terang setelah Jawa Pos Radar Semarang menerbitkan beritanya sehari sebelumnya.

Keluarganya—kakak kandung Lilie, sang adik Leony, dan tante Septina—segera menuju lokasi, dibantu Kapolsek Gringsing AKP Agus Windarto dan Kades Plelen Siti Amri Alimatul Muflikhah yang ikut mengantar.

Begitu bertemu, suasana pecah dalam tangis. Leony tak kuasa menahan emosi saat memeluk kakaknya yang tampak kumal, lelah, dan tertekan setelah menjalani hidup keras di jalanan.

Namun, momen haru itu tak langsung membawa kepastian. Agung menolak diajak pulang karena masih ingin hidup di luar rumah.

Negosiasi berlangsung alot, hingga akhirnya Kapolsek dan Kepala Desa turun tangan memberikan pengertian.

Dengan suara serak penuh kelelahan dan luka batin, Agung akhirnya bersedia ikut keluarga, namun meminta satu syarat—tidak kembali ke rumah ibunya.

Leony mengaku keluarga sudah lama mencari namun selalu menemukan jalan buntu. “Pernah ada kabar Mas Agung ada di penampungan Dinsos Semarang, tapi ketika kami datang, dia sudah pergi lagi,” ujarnya sambil menyeka air mata.

Septina menambahkan bahwa konflik keluarga membuat tiga saudara keluar dari rumah. “Agung nanti akan kami urus lagi dan kami upayakan bisa kuliah kembali,” katanya.

Setahun menggelandang memberi Agung banyak pelajaran pahit—mulai dari kehilangan ponsel karena ditipu di Blora hingga harus bertahan hidup seorang diri. Namun di akhir kisah panjang ini, Agung tidak lagi sendirian. Ia pulang dengan luka, tapi juga kesempatan baru untuk memulai hidup dari titik yang lebih baik.

Kapolsek Gringsing AKP Agus Windarto mengaku lega momen ini akhirnya terjadi. “Semoga Agung bisa membuka lembaran baru, hidup lebih tenang dan menata masa depan bersama adik dan kakaknya,” tegasnya.(han)

Editor : Baskoro Septiadi
#KELUARGA #jalanan #Alas Roban #lamongan