Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Peninggalan Abad ke-7, Candi Batu Bata Merah Batang Tak Terurus Dipenuhi Semak Belukar

Riyan Fadli • Minggu, 18 Februari 2024 | 17:11 WIB
Seorang warga menunjukkan batuan candi batu bata merah di Desa Sawangan Kecamatan Gringsing beberapa waktu lalu. RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG
Seorang warga menunjukkan batuan candi batu bata merah di Desa Sawangan Kecamatan Gringsing beberapa waktu lalu. RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.ID - Tahun 2022, di Kabupaten Batang ditemukan candi di lahan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).

Setahun ditemukan, candi yang diduga peninggalan abad ke-7 itu tak terurus dan dipenuhi semak belukar.

Candi tersebut ternyata sebelumnya telah ditemukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2019. Tepatnya berada di Desa Sawangan, Kecamatan Gringsing.

Sudah sempat digali, candi itu kemudian ditimbun kembali. Karena belum bisa dilakukan penggalian yang lebih luas.

Candi itu berada dekat dengan sebuah situs pemandian kuno Balekambang yang berasal dari Abad ke-9.

Walaupun cuma berjarak sekitar 30 meter, Situs Balekambang sudah berada di Sidorejo, masih di kecamatan yang sama.

Candi yang dibangun dengan struktur batu bata berukuran besar ini diperkirakan dibangun Abad ke-7 yaitu tahun 630-an Masehi.

Berdasarkan penelitian unsur karbon di dalam batuan candi yang dikirimkan ke Perancis dan Selandia Baru.

Sehingga usianya sudah mencapai 14 Abad. Masuk periode sebelum Mataram, yaitu zaman Kalingga atau kerajaan Holing.

Struktur utama candi ini diperkirakan seluas 256 meter persegi atau 16 kali 16 meter. Sementara ukuran batuan yang tersusun di sana mencapai 37x18 sentimeter dengan ketebalan 7 sentimeter.

Seukuran bata hebel namun terbuat dari batu bata merah. Candi yang dianggap lebih tua dari Candi Borobudur ini ditemukan di kedalaman tanah berbukit kurang dari satu meter.

Candi di Batang ini kondisinya sekarang masih berada di dalam tanah. Bagian atasnya sudah ditumbuhi rerumputan. Namun masih ada beberapa batuan candi yang tergeletak di atas tanah.

Berserakan di atas lahan yang berdekatan dengan kebun warga. Lahan itu sudah diberi penanda yang menunjukkan area itu ada temuan candi.

Camat Gringsing, Adhi Bhaskoro mengatakan, pihaknya sedang berusaha mengusulkan pembangunan jalan untuk akses menuju lokasi pada manajemen KITB.

Pihaknya sudah berkomunikasi dengan KITB, berkaitan dengan  akses untuk wisatawan maupun pengunjung yang akan ke Balekambang dan ke candi bata tersebut. Namun, masih dalam proses perencanaan.

"Semoga dikabulkan usulan kami karena kalau lewat Dukuh Bendosari, Desa Sidorejo itu harus melewati rel kereta api. Sehingga yang memungkinkan adalah lewat Krengseng dan Sawangan," ucapnya.

Ia mengatakan, langkah yang dilakukan saat  ini hanya melakukan pengamanan saja. Menunggu langkah selanjutnya untuk melakukan ekskavasi.

"Candi bata yang ada di sekitar situs balekambang di desa sidorejo kondisinya sekarang ini masih dalam tahap pengamanan. Pengamanan dari semua hal yang dapat mengganggu situs budaya tersebut," tambahnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo menjelaskan Pemda sudah berkomunikasi dengan manajemen KITB.

Pihaknya meminta agar lokasi temuan candi harus dipertahankan. Sehingga menjadi kawasan lindung yang terbebas dari lokasi pembangunan.

Selain itu, pihak BRIN juga berencana datang pada tahun ini. Mereka akan melakukan pemetaan luasan candi. Yaitu dengan metode Ground Penetrating Radar (GPR).

"Bulan Juni 2024 BRIN berjanji akan kesini. Mau memetakan luasannya sampai berapa, kemudian setelah ketemu titik-titiknya dilaporkan ke KITB bahwa tanah inilah yang harus kita lindungi," tambahnya. (yan/fth)

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#KITB #CANDI #batang