RADARSEMARANG.ID - Gunung Gandul yang terletak di wilayah Alas Roban Kabupaten Batang, ternyata memiliki beberapa cerita mistis dan keunikan yang jarang diketahui orang.
Wilayah Alas Roban yang berada di sepanjang pantura Batang itu, dari dulu memang terkenal sebagai tempat penuh misteri.
Sementara, Lokasi Gunung Gandul terletak sekitar 500 meter di sebelah selatan desa Madugowongjati, dengan bentuk tebing padas di tepi jalan, yang merupakan jalan penghubung alternatif ke Kecamatan Tersono.
Menurut Kades Madugowongjati, Edy Zaenuryanto mengungkapkan bahwa, disebut Gunung Gandul karena di tebing padas tersebut dulunya terdapat batu besar yang menempel.
Diljelaskan lagi, dinamakan Gunung Gandul karena posisinya seperti menggantung, dalam istilah jawanya ‘nggandul’.
Konon, Gunung Gandul tersebut dijaga oleh seorang dayang bernama Dewi Sri yang dipercaya menjaga kesuburan pertanian.
Hal itu membuat masyarakat setempat sangat menghormati tempat tersebut karena dianggap suci, hingga dianggap sebagai tempat pesugihan tanpa tumbal dan pemburu togel.
"Yang datang orang-orang dari jauh. Saya sendiri tidak tahu ritualnya seperti apa,” ungkap Edy Zaenuryanto menjelaskan lebih jauh.
Selanjutnya, berdasarkan cerita dari warga setempat yang diketahui bernama Rofik, pernah mengantar pemburu togel ke Gunung Gandul dan menjadi saksi keangkerannya.
Rofik menceritakan “Ketika dupa dibakar dan ritual dimulai tiba-tiba ada angin besar memutar kami”.
“Anehnya hanya tempat kami yang kena angin sedangkan pohon disebelah tidak. Kami bertiga terpental dan batal ritual," ungkap Rofik panjang lebar.
Lokasi Gunung Gandul memang memiliki aura mistis yang menakutkan, meskipun jalan sudah keras diperlebar, tetap saja sulit untuk melewatinya.
Meski demikian, Gunung Gandul ternyata juga mempunyai keunikan dengan keberadaan gua kecil di tebing yang menjadi pintu masuk menuju telaga bawah tanah.
Di telaga tersebut terdapat sumber air yang selalu mengalir yang dikabarkan dapat mencukupi kebutuhan air masyarakat setempat.
Dari cerita masyarakat sekitar, jika seseorang menggunakan air tersebut tanpa meletakkan sesaji, maka air yang keluar akan menjadi keruh disertai lumpur. Keyakinan tersebut hingga saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat.
Selanjutnya, Kepala Desa dan masyarakat Madugowongjati berharap agar legenda Gunung Gandul tetap terjaga kelestariannya karena memiliki nilai kearifan lokal yang tinggi.
Selain itu, legenda Gunung Gandul juga merupakan bagian budaya yang harus dijaga dengan baik. Masyarakat diharapkan agar lebih bijak dan tidak sembarangan dalam merusak alam.
"Setiap malam Senin Kliwon kami memberi sesaji dupa dan kembang setaman. Bukan musyrik tapi kami menghormati adat dan kebiasaan leluhur," jelas Kepala Desa Edy Zaenuryanto.
Di sisi lain, pernah terjadi peristiwa yang menggemparkan masyarakat sekitar ketika sebuah minibus kesasar ditengah hutan Alas Roban pada Oktober 2020 malam hari.
Berdasarkan cerita dari supir bus, jalan yang sebelumnya lebar berubah menjadi jalan setapak dan posisi bus berada di tengah hutan tanpa mengalami kerusakan sedikitpun.
Kejadian tersebut terjadi setelah ia memberi tumpangan seorang nenek yang jalannya pincang di jembatan Pantura Kali Kuto.
Menurut Edy Zaenuryanto, kejadian mobil kesasar itu sudah sering terjadi, namun tidak pernah beredar di media sosial karena teknologi masih terbatas.
"Cerita itu bukan hoax tapi nyata karena saya juga ikut mengevakuasi,” ungkap Kades Madugowongjati Edy Zaenuryanto yang dilansir dari Metro Pekalongan JawaPos.com. (*/bas)
Editor : Baskoro Septiadi