Oleh: Nany Ratnawati, S.Pd.
RADARSEMARANG.ID - Belajar Bahasa Inggris bagi anak sekolah dasar seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan. Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap kata, gambar, bunyi, dan berbagai hal baru. Pembelajaran yang terlalu banyak diisi dengan hafalan kosakata, mencatat materi, mengerjakan soal, dan mendengarkan penjelasan guru dapat membuat mereka cepat jenuh. Sebagian anak menjadi pasif dan ragu berbicara karena takut melakukan kesalahan. Kondisi seperti inilah yang saya jumpai dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Saya pun mulai mencari cara agar anak lebih aktif, berani mencoba, dan menikmati proses belajarnya.
Pengalaman di kelas memperlihatkan perbedaan kemampuan dan cara belajar pada setiap peserta didik. Sebagai guru kelas di SDN 2 Nolokerto, Kaliwungu, Kendal, saya melihat ada anak yang cepat memahami materi melalui gambar. Sebagian lebih mudah menangkap informasi melalui suara. Ada pula yang senang belajar melalui aktivitas langsung. Asesmen diagnostik awal di kelas 5A menunjukkan 50 persen peserta didik memiliki kecenderungan belajar visual, 30 persen auditori, dan 20 persen kinestetik. Temuan tersebut membuka pemahaman saya tentang pentingnya variasi dalam mengajar. Satu cara belajar belum tentu sesuai dengan kebutuhan seluruh anak. Guru perlu memahami karakter mereka sebelum menentukan kegiatan pembelajaran.
Perbedaan kebutuhan belajar tersebut memunculkan satu pertanyaan penting bagi saya: bagaimana menghadirkan pembelajaran Bahasa Inggris yang mampu menumbuhkan minat, keberanian, dan kemampuan berbahasa sesuai karakter peserta didik? Pertanyaan itu mendorong saya menerapkan Flash Cards dan Flying Letters sebagai alternatif pembelajaran berdiferensiasi. Tulisan ini berbagi pengalaman penggunaan kedua media tersebut dalam pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar. Tujuannya untuk menghadirkan kegiatan yang membuat anak lebih aktif sekaligus membantu mereka mengembangkan keterampilan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.
Pilihan menggunakan kedua media tersebut berangkat dari prinsip pembelajaran berdiferensiasi. Rintayati (2022) menjelaskan pembelajaran berdiferensiasi sebagai upaya menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan belajar setiap peserta didik. Kesiapan, minat, dan pilihan gaya belajar perlu menjadi perhatian guru saat merancang kegiatan. Prinsip tersebut sesuai dengan keadaan yang saya temui di kelas. Anak yang menyukai gambar dapat dibantu melalui media visual. Anak yang lebih mudah menangkap informasi melalui suara membutuhkan kegiatan mendengarkan. Anak yang senang bergerak memerlukan aktivitas langsung. Keragaman cara belajar itu dapat diarahkan untuk mengembangkan kemampuan listening, speaking, reading, dan writing.
Media pertama yang saya gunakan adalah Flash Cards. Kartu bergambar ini mudah dibuat, praktis digunakan, dan memberi kesempatan kepada anak untuk berkreativitas. Wati (2021) menjelaskan flashcard sebagai media visual berupa kartu bergambar yang dapat membantu penyampaian materi pembelajaran. Dalam kegiatan di kelas, saya melibatkan peserta didik sejak proses pembuatannya. Mereka menentukan tema, memilih objek, membuat ilustrasi, kemudian mencari kosakata Bahasa Inggris yang sesuai. Ada yang memilih gambar makanan, benda di sekitar, atau objek lain sesuai tema pembelajaran. Mereka mencari padanan katanya menggunakan kamus. Kartu yang dibuat sendiri membuat anak lebih terlibat dengan kosakata yang sedang dipelajari.
Setelah tema ditentukan, kegiatan Flash Cards berlangsung secara bertahap. Peserta didik menyampaikan gagasan dan menuliskan ide di papan tulis. Saya menggunakan video yang sesuai dengan materi untuk memberikan gambaran awal tentang tema pembelajaran. Selanjutnya, anak membuat ilustrasi, mencari kosakata, menyusun tampilan kartu, dan menyelesaikan proyek sesuai waktu yang telah disepakati. Kartu yang selesai kemudian dipresentasikan di depan kelas. Saya mendampingi peserta didik yang mengalami kesulitan dan memberikan penguatan atas hasil kerja mereka. Kegiatan diakhiri dengan refleksi dan evaluasi agar anak mengetahui kemampuan yang sudah dikuasai serta bagian yang masih perlu diperbaiki.
Setelah anak memperoleh pengalaman belajar melalui gambar dan kosakata dalam Flash Cards, kegiatan dilanjutkan dengan Flying Letters. Saya menggunakan istilah ini untuk aktivitas pembelajaran yang memanfaatkan gambar dan potongan kartu berisi huruf alfabet. Guru menyiapkan beberapa gambar sesuai materi, lalu peserta didik memilih salah satunya. Mereka berdiskusi dalam kelompok untuk mengingat kosakata Bahasa Inggris yang sesuai dengan gambar tersebut. Pada tahap ini anak belum diperkenankan membuka buku catatan atau kamus. Setelah menemukan jawabannya, mereka memilih kartu huruf dan menyusunnya menjadi kata atau frasa Bahasa Inggris. Huruf yang tidak diperlukan dapat dikembalikan atau ditukar. Proses ini melatih anak mengingat kosakata, berpikir, bergerak, berdiskusi, dan bekerja sama.
Suasana belajar melalui Flying Letters terasa lebih hidup karena kegiatan dikemas seperti permainan. Setiap kelompok mendapat tantangan menyusun huruf sesuai gambar yang diperoleh. Anak terlihat antusias ketika potongan huruf mulai membentuk kata yang benar. Setelah tugas selesai, mereka mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Kelompok lain menyimak, sedangkan saya memberikan penguatan atas jawaban yang disampaikan. Kesalahan yang masih muncul kami perbaiki bersama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan refleksi. Perpaduan gambar, huruf, diskusi, gerak, dan presentasi membantu anak mempelajari kosakata melalui aktivitas yang mereka alami secara langsung.
Penerapan Flash Cards dan Flying Letters memberikan perubahan secara bertahap. Anak mulai lebih aktif mengikuti pembelajaran, berani menyampaikan jawaban, serta lebih terlibat dalam kegiatan membaca dan menulis. Kreativitas mereka terlihat melalui kartu dan kegiatan kelompok yang dikerjakan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Hotimah (2017). Hasil penelitiannya memperlihatkan penggunaan flashcard dapat membantu meningkatkan penguasaan kosakata Bahasa Inggris pada siswa sekolah dasar. Dalam pelaksanaannya, saya tetap menemukan beberapa kendala. Minat terhadap Bahasa Inggris berbeda pada setiap anak. Sebagian peserta didik masih mengalami kesulitan berkonsentrasi. Dukungan keluarga terhadap kegiatan belajar di luar pola berbasis buku juga perlu diperkuat. Komunikasi antara guru dan orang tua pun menjadi bagian penting dalam mendampingi perkembangan anak.
Dari proses tersebut saya semakin memahami pentingnya kemampuan guru membaca keadaan kelas. Media sederhana seperti kartu bergambar, potongan huruf, kamus, dan gambar dapat menjadi sarana belajar yang menarik apabila digunakan sesuai kebutuhan peserta didik. Kreativitas guru terlihat dari cara mengolah media sederhana menjadi kegiatan yang bermakna. Bagi saya, pembelajaran berdiferensiasi merupakan upaya menghargai perbedaan kemampuan, minat, dan cara belajar anak. Ketika kebutuhan mereka diperhatikan, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang dan membangun rasa percaya diri.
Pengalaman di kelas 5A semakin menguatkan keyakinan saya tentang pentingnya memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba. Kelas perlu menjadi tempat yang aman untuk bertanya, berpikir, berdiskusi, berkarya, berbicara, dan memperbaiki kesalahan. Flash Cards dan Flying Letters menjadi salah satu cara yang saya gunakan untuk membangun suasana tersebut. Setiap guru dapat mengembangkan strategi sesuai kondisi sekolah dan karakter peserta didiknya. Tugas kita adalah terus mengenali anak, memperbaiki cara mengajar, dan menghadirkan kegiatan yang membuat mereka senang belajar. Ketika anak merasa nyaman dan dihargai, Bahasa Inggris dapat berubah dari pelajaran yang terasa sulit menjadi pengalaman belajar yang menumbuhkan keberanian untuk mengenal dunia.
Guru SDN 2 Nolokerto, Kaliwungu, Kendal
Editor : Baskoro Septiadi