Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Idul Adha dan Pengorbanan Rakyat

Iskandar • Selasa, 26 Mei 2026 | 16:55 WIB
Iskandar.
Iskandar.

 

Oleh ISKANDAR
Jurnalis Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID - Barusan lewat di FYP media sosial saya sebuah konten ringan. Pertanyaannya sederhana: kenapa perayaan Idul Fitri terasa jauh lebih ramai dibanding Idul Adha? Jawabannya juga sederhana. Katanya, karena memaafkan itu lebih mudah daripada berkorban. Ringan memang. Bahkan terdengar seperti selorohan khas netizen. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa cukup dalam. Ada sesuatu yang relevan dengan kondisi hari ini. Tentang betapa beratnya sebuah pengorbanan. 

Sebab, kalau mau jujur, rakyat negeri ini sebenarnya sedang berkorban. Di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja, masyarakat dipaksa bertahan dengan keadaan. Rupiah melemah terhadap dolar. Harga-harga pelan-pelan naik. Beras naik. Minyak goreng naik. Telur ikut naik. Barang-barang kebutuhan pokok makin terasa berat dijangkau. 

Baca Juga: Lewat run For Rivers, Tiga Bersaudara Asal Prancis Tidak Datang Membawa Kritik Semata, Tapi Juga Aksi Nyata

Ironisnya, di saat rakyat mulai mengencangkan ikat pinggang, masih saja muncul pernyataan-pernyataan yang terdengar meninabobokan. Seolah semuanya baik-baik saja. Seolah masyarakat tidak perlu panik.
Sampai ada pernyataan yang sempat ramai itu: “Rakyat di desa tidak pakai dolar.” 

Pernyataan yang mungkin dimaksudkan untuk menenangkan, tapi justru terasa ganjil di telinga rakyat kecil. Memang benar masyarakat desa tidak bertransaksi memakai dolar. Tapi ketika dolar menguat dan rupiah melemah, dampaknya tetap sampai ke dapur mereka. Karena yang naik bukan kurs di layar televisi semata, melainkan harga kebutuhan sehari-hari di pasar. 

Dan rakyat merasakan itu. Negeri ini rasanya memang sedang sakit. Padahal, kalau juga mau jujur, sebagian besar biaya mengelola negara ini juga berasal dari rakyat. Pajak ada di mana-mana. Apa-apa dipajaki. Dari yang besar sampai yang kecil. Dan rakyat tetap diminta taat membayar pajak demi keberlangsungan negara. Artinya, rakyat dari awal sebenarnya sudah berkorban begitu besar. 

Maka momentum Idul Adha terasa sangat relevan dengan keadaan hari ini. Tentang pengorbanan, keikhlasan, dan kepatuhan. Tentang bagaimana rakyat terus bertahan, terus membayar, terus menanggung. Pertanyaannya kemudian sederhana: apakah pengorbanan rakyat itu berbanding lurus  dengan apa yang diberikan pemerintah?  Di tengah ekonomi yang sedang limbung seperti sekarang, masyarakat tentu ingin merasakan hadirnya negara. Ingin merasakan bahwa pemerintah benar-benar bekerja untuk meringankan beban mereka. 

Tapi kalau saya ditanya apa yang paling terasa hari ini? “Ya ndak tahu. Kok tanya saya.”  Yang pasti, dolar masih menguat. Rupiah masih melemah. Harga-harga terus merangkak naik. Dan lagi-lagi, rakyat yang paling dulu menjadi korban. Akhirnya, selamat Idul Qurban.

Wassalam. (*)

Editor : Baskoro Septiadi
#IDUL ADHA