Di lahan seluas kurang lebih 8 ribu meter persegi, di kawasan Tambangan, Mijen atau tak jauh dari agrowisata Sodong, Sutikno mengembangkan berbagai jenis anggrek. Misalnya anggrek bulan.
Sesuai namanya, anggrek jenis ini berbunga mirip bulan purnama yang indah. Ada pula jenis dendrobium, vanda, oncidium atau yang lebih dikenal golden shower. Belum lagi koleksi pribadinya yang merupakan anggrek langka dari Sulawesi, Papua dan lainnya.
“Dulu awalnya memang hobi tanaman, ya tanaman hias, buah dan lainnya, sebelum menggeluti anggrek,” kata Sutikno saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.
Dari pengakuannya, Sutikno juga menggeluti bisnis pembuatan taman di kantor, dekorasi pengantin dan lainnya. Dari bisnis itulah, banyak pelanggannya yang memesan anggrek, hingga ia mencoba peruntungan untuk menggeluti dunia anggrek.
Apalagi keindahan anggrek banyak digemari berbagai kalangan, mulai dari kalangan menengah sampai kalangan atas.
“Anggrek ini jadi bunga hias yang mewah dan eksklusif, bisa ditempatkan di ruangan sebagai hiasan atau di taman. Cara perawatannya pun cukup mudah,” jelanya.
Keistimewaan anggrek lainnya, lanjut pria yang sudah 30 tahun menggeluti anggrek ini, jika berbunga, tanaman ini bisa bertahan berbulan-bulan. Selain itu, dari segi warna juga sangat indah. Ada yang putih terang, ungu, kuning, biru hitam, merah marun dan lainnya, tergantung jenis anggrek itu sendiri.
Dari segi harga, lanjut Pak Tik, anggrek dia dibagi lagi menjadi dua jenis. Ada yang premium ada pula yang mini. Belum lagi jenis lainnya seperti dendrobium, vanda dan lainnya.
Untuk kalangan menengah, jenis dendrobium menjadi jenis yang diminati karena harganya tidak terlalu mahal. Mulai Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribuan. Tapi ada pula yang jutaan sesuai jenis dan asalnya.
"Anggrek bulan lebih mahal, peminatnya ada sendiri. Ada pula yang sampai Rp 3 jutaan, biasanya anggrek yang bibitnya dari Papua, Sulawesi, ataupun Kalimantan, saat ini saya coba kembangkan sebagai indukan dulu," paparnya.
Pemkot Semarang termasuk salah satu pelanggan tetap sewa anggrek. Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, halaman Balai Kota Semarang dipenuhi anggrek berwarna-warni yang ditempelkan di pohon. Belum lagi lobi dan ruangan wali kota, asisten, dan dinas-dinas yang ada di area perkantoran Balai Kota.
Biaya untuk kontrak bulanan ini sendiri per pohonnya dihitung Rp 250 ribu. Ada pula kontrak tahunan yang seperti di Pemkot. Totalnya, kata dia, ada 190 pot bunga anggrek yang ditempatkan.
Meski menggiurkan, usaha ini bukan berarti tidak memiliki risiko. Apalagi mekar, bunga hanya bertahan sekitar 1 bulan. Ketika bunga sudah rontok, Pak Tik harus menyiapkan bunga lain sebagai pengganti.
“Ya harus punya stok, misalnya bunganya sudah jelek ya diganti. Belum lagi kalau risiko mati,” tambahnya
Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menjadi salah satu pelanggan anggrek yang dibudayakan Sutikno. Beberapa kali orang nomor satu di Kota Semarang ini, membeli langsung anggrek dari tempatnya.
"Bu Wali ini pelanggan tetap, koleksinya juga banyak. Kalau temennya ulang tahun pasti dikasih anggrek belinya di saya. Kemarin beliau ulang tahun, juga banyak yang pesen anggrek untuk Bu Ita," ucapnya. (den/ton) Editor : Agus AP